TRIBUNNEWSMAKER.COM - Fenomena kekeringan ekstrem di aliran Sungai Silugonggo atau Sungai Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, dimanfaatkan sejumlah warga untuk mengumpulkan ikan sapu-sapu yang terdampar di dasar sungai.
Menyusutnya debit air membuat sebagian besar aliran sungai mengering.
Kondisi tersebut menyebabkan banyak ikan sapu-sapu atau yang oleh warga disebut ikan "tekek" terjebak di dasar sungai dan mati setelah terpapar panas.
Pemandangan ini kemudian menarik perhatian warga dari berbagai daerah.
Salah satunya rombongan dari Lamongan, Jawa Timur, yang datang khusus untuk mencari dan mengumpulkan ikan sapu-sapu di sekitar Bendung Karet Sungai Juwana.
Mereka bahkan membawa truk pendingin berkapasitas besar untuk menampung hasil yang berhasil dikumpulkan.
Seorang anggota rombongan mengungkapkan mereka mengetahui kondisi Sungai Juwana setelah informasi mengenai ikan yang terdampar viral di media sosial, termasuk Facebook.
"Kita dari Lamongan, tujuannya ke sini mencari ikan tekek, ikan sapu-sapu," ujar warga Lamongan yang berada di lokasi dikutip dari Tribun Jateng.
Rombongan yang berjumlah enam orang itu mengaku tiba di lokasi sejak sehari sebelumnya.
Mereka bahkan memilih bermalam di sekitar lokasi sebelum kembali melakukan aktivitas mengumpulkan ikan.
Baca juga: Semakin Dipojokkan, Denny Sumargo Pikirkan Bakal Mundur Sebagai Host Podcast, Siap Cari Pengganti
Upaya yang dilakukan rombongan tersebut ternyata membuahkan hasil cukup banyak.
Dari keterangan salah satu anggota, ikan yang berhasil mereka kumpulkan diperkirakan mencapai sekitar 3 hingga 4 ton.
Jumlah tersebut diperoleh dari ikan sapu-sapu yang ditemukan di bagian sungai yang mengalami kekeringan.
Namun, kondisi ikan yang dikumpulkan tidak semuanya masih dalam keadaan segar.
Sebagian ikan telah mengering akibat terpapar panas matahari setelah terdampar di dasar sungai.
Meski demikian, ikan tersebut tetap akan dimanfaatkan.
Rombongan dari Lamongan menyebut ikan-ikan itu nantinya akan digunakan sebagai bahan campuran pakan ikan lele.
Mereka memiliki kolam sendiri sehingga hasil pengumpulan ikan tidak untuk dijual, melainkan dimanfaatkan sebagai bahan pendukung kebutuhan pakan.
"Nanti dibuat makan lele," kata salah seorang anggota rombongan.
Aktivitas mengumpulkan ikan tersebut dilakukan secara langsung di dasar sungai yang telah menyusut drastis.
Untuk membawa hasil yang dikumpulkan, rombongan tersebut menggunakan kendaraan berukuran besar.
Mereka menyebut memiliki dua boks atau kendaraan untuk mengangkut ikan dari lokasi.
Salah satu kendaraan disebut memiliki kapasitas hingga sekitar 12 ton.
Namun, mereka belum dapat memastikan berapa total ikan yang nantinya akan berhasil dibawa pulang.
Dari hasil sementara, jumlah ikan yang telah terkumpul diperkirakan sudah mencapai 3 sampai 4 ton.
Rencananya, sebagian hasil akan dibawa pulang lebih dahulu, sementara kendaraan lainnya akan menyusul mengangkut ikan yang masih dikumpulkan.
Fenomena ini memperlihatkan betapa drastisnya dampak kekeringan terhadap kondisi Sungai Juwana.
Ikan yang biasanya hidup di dalam aliran sungai kini justru ditemukan berserakan di dasar sungai akibat berkurangnya debit air.
Aktivitas rombongan pencari ikan tersebut turut menarik perhatian masyarakat sekitar.
Banyak warga datang bukan hanya untuk mencari ikan, tetapi juga karena penasaran melihat kondisi Sungai Juwana yang mengalami kekeringan ekstrem.
Kawasan sekitar Bendung Karet Sungai Juwana pun menjadi lebih ramai.
Sebagian warga tampak duduk santai, berbincang, hingga menikmati suasana matahari terbenam di lokasi.
Di tengah fenomena alam yang cukup memprihatinkan tersebut, ikan sapu-sapu yang berhasil dikumpulkan menjadi salah satu perhatian utama.
Bagi rombongan dari Lamongan, ikan yang ditemukan di sungai bukan sekadar hasil buruan, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pakan lele.
Dengan hasil yang telah mencapai beberapa ton, mereka berharap seluruh ikan yang masih dapat dimanfaatkan bisa dikumpulkan sebelum kondisi sungai kembali dipenuhi air.
Sementara itu, kekeringan Sungai Juwana tetap menjadi perhatian karena dampaknya tidak hanya mengubah kondisi aliran sungai, tetapi juga memengaruhi kehidupan berbagai biota yang berada di dalamnya.
(Tribunnewsmaker.com)