Alasan Mahendra Bunuh Mozza dan Buang Jasadnya ke Lereng Jangli, Keluarga: Bukan Cemburu, tapi Ini
Musahadah September 07, 2026 05:32 PM

 

SURYA.CO.ID - Motif pembunuhan Mozza Axillia Gunarsa (19) yang dilakukan Mahendra Very Dwi Anggara alias MVDA (22) diduga bukan karena cemburu. 

Keluarga Mozza menduga gadis asal Desa Gebugan, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah itu dibunuh karena pelaku ingin menguasai motornya. 

Hal itu diungkapkan Singgih Gunarsa, ayah Mozza saat ditemui Tribun Jateng di rumahnya Desa Gebugan, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Senin (7/9/2026).

Dugaan Singgih itu beralasan karena pembunuhan itu seperti sudah direncanakan.

"Dari runtutan di media, dari awal datang ke kosan sampai melakukan pembunuhan, membungkus mayatnya, membuangnya sampai motornya dijual, sepertinya berurutan. Seperti direncanakan. Dalam waktu setengah hari dia bisa melakukan itu,” ujarnya. 

Baca juga: Siasat Mahendra Tutupi Pembunuhan Mozza Setahun, Pamer Liburan di Medsos tapi Menghilang Saat Dicari

Seperti diketahui, pembunuhan itu diduga terjadi pada 25 Juni 2025. 

Sekira pukul 09.00 WIB, Mozza sempat pamit ke keluarga akan ke Bergas untuk mengembalikan laptop.

Setelah itu, Mozza menemui Mahendra Very Dwi Anggara (22) di sebuah rumah kos di kawasan Tegalsari, Kecamatan Candisari, Kota Semarang.

Kasatres PPA dan PPO Polrestabes Semarang, Kompol Ni Made Srinitri, menyebut dugaan pembunuhan terjadi pada hari yang sama.

“Korban berpamitan ke orangtuanya tanggal 25 pukul 09.00. Selanjutnya korban menemui pelaku, dan pada tanggal itu juga korban dihilangkan nyawanya oleh tersangka,” ujarnya kepada Tribun Jateng

Mozza baru dikenal Mahendra via Tiktok sebulan sebelum peristiwa tragis itu terjadi.  

Dalam pemeriksaan, Mahendra mengaku membekap Mozza menggunakan tangan kosong selama sekitar tujuh menit hingga korban lemas.

Tubuh Mozza kemudian dibungkus dengan kardus, sarung, dan karung, diikat kabel ties serta tali rafia, lalu dibawa menggunakan sepeda motor milik korban.

Jasad dibuang di lereng curam kawasan Jangli.

Setahun kasus pembunuhan ini tak terungkap, sebelum akhirnya polisi menangkap Mahendra pada Kamis (3/9/2026). 

Pembunuhan ini semakin kuat setelah polisi menemukan kerangka tubuh Mozza di lereng dekat Tol Jangli, Kota Semarang pada Jumat (4/9/2026). 

Kasat Reskrim Polres Semarang, AKP Bodia Teja Lelana, mengatakan evakuasi berlangsung sulit.

“Evakuasi itu kami mendapati satu kerangka utuh, masih utuh dari kepala sampai kaki dengan beberapa kain maupun jepit rambut,” ujarnya.

Kerangka dibawa ke RS Bhayangkara Semarang untuk identifikasi.

Keluarga menduga kuat kerangka tersebut adalah Mozza berdasarkan ciri gigi dan jepit rambut.

Mahendra pun dijerat Pasal 76C juncto Pasal 80 ayat 3 UU Perlindungan Anak dan/atau Pasal 458 ayat 1 KUHP 2023 dengan ancaman maksimal 15 tahun penjara.

Gubernur Jateng Siap Kawal Kasusnya

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi melayat ke kediaman almarhumah Mozza Axillia Gunarsa (18) di Bergas, Kabupaten Semarang, Minggu, 6 September 2026. 

Dalam kunjungannya, Luthfi menyampaikan belasungkawa secara langsung kepada keluarga korban.

Kedatangan orang nomor satu di Jawa Tengah itu sekaligus untuk menguatkan dan memberikan dukungan moral kepada orangtua dan seluruh keluarga yang ditinggalkan.

 "Saya menyampaikan belasungkawa, semoga husnul khotimah. Semoga Bapak, Ibu, dan adik dikuatkan dan diberikan ketabahan," kata Luthfi kepada orangtua Mozza, Singgih Datya Gunarsa dan Defita Riana.

Di tengah kunjungan itu,  Luthfi juga sempat berdialog dengan Singgih dan Defita tentang kronologi awal korban menghilang, proses pencarian, hingga korban ditemukan dalam kondisi meninggal di daerah Jangli, Kota Semarang.

Ia  menambahkan bahwa kasus yang menimpa Mozza agar dijadikan pelajaran bersama, baik para orangtua, anak-anak, hingga aparat penegak hukum. 

Ia juga akan berkoordinasi langsung dengan pihak kepolisian demi memastikan proses hukum berjalan cepat dan tuntas.

"Kami akan membantu mengawal penganganan kasus ini dan berkoordinasi dengan pihak kepolisian agar prosesnya segera ditangani secara tuntas. Peristiwa ini hendaknya  dijadikan pelajaran untuk kita semua, juga untuk para orangtua," ujarnya.

Mozza Diterima di Undip

EVAKUASI - Polisi mengevakuasi kerangka manusia dari jurang di kawasan tepi Jalan Gabeng Raya, Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Jumat (4/9/2026). Tulang belulang tersebut ditemukan di semak-semak pada lereng terjal yang mengarah ke Ruas Tol Tanjungmas-Srondol.
EVAKUASI - Polisi mengevakuasi kerangka manusia dari jurang di kawasan tepi Jalan Gabeng Raya, Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Jumat (4/9/2026). Tulang belulang tersebut ditemukan di semak-semak pada lereng terjal yang mengarah ke Ruas Tol Tanjungmas-Srondol. (Surya.co.id/Tribun Jateng)

Singgih menyebut Mozza sebenarnya diterima di Universitas Diponegoro setelah lulus di ujian masuk perguruan tinggi.

Namun takdir berkata lain, Mozza hilang pada Juni 2025 sebelum tahu kalau jerih payahnya belajar masuk perguruan tinggi menuai hasil.

Hingga akhirnya ditemukan meninggal lebih dari setahun kemudian, tepatnya pada September 2026. 

Singgih berharap proses hukum berjalan secara terbuka dan sesuai ketentuan.

Ia meminta agar tidak ada pihak yang mencoba memengaruhi atau mengganggu proses hukum dalam perkara tersebut.

Keluarga juga berharap tersangka mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya apabila terbukti bersalah melalui proses peradilan.

"Kami harap pelaku tetap dihukum seberat-beratnya. Mohon dibantu jangan sampai ada permainan di belakang," kata Singgih.

Bagi keluarga, proses hukum tersebut menjadi bagian penting untuk mendapatkan keadilan bagi Mozza.

Sosok Mozza

Mozza dikenal sebagai gadis pendiam namun aktif dalam kegiatan musala di lingkungannya. Ia merupakan cucu pertama dari Ngadirin (68) dan anak sulung dari pasangan Singgih dan istrinya.

Kakeknya, Ngadirin, mengaku sudah memiliki firasat tidak enak sejak Kamis (3/9/2026) malam.

“Punya firasat. Kepikiran cucu saya di mana, kok tidak pulang-pulang. Oleh karena pikiran tidak enak, saya salat tahajud,” ujarnya dikutip dari Tribun Jateng

Di mata warga RT 04 RW 01 Dusun Gebugan, Mozza adalah sosok yang baik, pintar, dan telah diterima di Universitas Diponegoro (Undip). Ketua RT Suryanto menyebut keluarga Mozza dikenal dermawan.

“Bapaknya juga baik, keluarga Mozza baik semua dan dikenal dermawan. Jadi kami ikut kehilangan Mozza ini karena Mozza dan keluarganya orang baik,” katanya.

Kedatangan jenazah Mozza di rumah duka pada Jumat malam (4/9/2026) pukul 22.27 WIB disambut isak tangis keluarga dan pelayat.

Ibunda Mozza turun dari ambulans dengan tangis, disusul adiknya. Ayah Mozza, Singgih, turut mengantarkan peti jenazah masuk ke rumah. “Kakak,” ucap seorang pelayat lirih.

Malam itu juga, jenazah dimakamkan di Makam Sepringgitan, Dusun Gebugan, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang.

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.