Polda Jatim Kerahkan 60 Polantas dan 30 Motor Patroli Urai Macet Ketapang Banyuwangi
Wiwit Purwanto September 07, 2026 06:32 PM

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA – Ditlantas Polda Jatim mengerahkan 60 personel Polantas dan 30 sepeda motor patroli untuk mengurai kemacetan menuju Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, yang masih terjadi sejak beberapa hari terakhir.

Petugas disebar di sejumlah titik ruas jalan menuju Pelabuhan Ketapang, Jalan Jend. Gatot Subroto, Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur, untuk mengatur arus, melakukan patroli, dan membantu mobilisasi kendaraan. 

Direktur Ditlantas Polda Jatim Kombes Pol Rahmat Hakim mengatakan, personel tambahan tersebut berasal dari jajaran polres dan Ditlantas Polda Jatim. Puluhan petugas bekerja dalam empat sif selama 24 jam.

"Kehadiran petugas secara berkelanjutan ini untuk memastikan arus lalu lintas tetap bergerak sekaligus mengantisipasi berbagai kendala di sepanjang jalur antrean," ujarnya di Mapolda Jatim, sekitar pukul 08.00 WIB, pada Senin (7/9/2026).

Rahmat mengatakan, petugas juga memberikan prioritas kepada kendaraan yang membawa masyarakat dalam kondisi darurat, termasuk ambulans dan warga yang membutuhkan penanganan medis segera.

Baca juga: BBM Langka di Bondowoso Jatim, Beli Pertalite Eceran Tembus Rp20.000, Imbas Macet Di Ketapang

"Petugas di lapangan akan memberikan prioritas dan membantu pengawalan terhadap kendaraan darurat, khususnya ambulans maupun masyarakat yang membutuhkan penanganan medis segera," katanya.

Menurut perwira alumni Akpol 1996 itu, penanganan kemacetan di kawasan Ketapang membutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan. Kepolisian berfokus pada pengaturan dan penguraian arus di jalan, sedangkan optimalisasi pelayanan penyeberangan dilakukan instansi sesuai tugas dan kewenangannya.

"Penanganan ini membutuhkan kerja bersama. Kepolisian fokus menjaga kelancaran dan keamanan arus lalu lintas di jalan, sementara optimalisasi pelayanan penyeberangan tentunya terus dikoordinasikan bersama Kementerian Perhubungan, ASDP, pemerintah daerah, Dinas Perhubungan, dan seluruh stakeholder terkait," ujar mantan Kapusdik Lantas Lemdiklat Polri itu.

Rahmat menambahkan, penguatan personel akan dipertahankan dengan menyesuaikan perkembangan situasi dan panjang antrean kendaraan. Evaluasi juga terus dilakukan untuk menentukan pola pengaturan dan rekayasa lalu lintas yang diperlukan.

Polda Jatim mengimbau masyarakat yang akan menuju kawasan Ketapang memperhatikan perkembangan arus lalu lintas sebelum berangkat, mempertimbangkan waktu perjalanan, serta mengikuti arahan petugas di lapangan.

Baca juga:  Antrean Truk ke Pelabuhan Ketapang Banyuwangi Mengular 20 Km ASDP Kerahkan Kapal Besar  

Bagi pengguna jalan yang memiliki pilihan rute, masyarakat juga diimbau mempertimbangkan jalur alternatif sesuai tujuan perjalanan untuk menghindari titik kepadatan.

"Kami mengimbau masyarakat tetap tertib dan bersabar dalam antrean, mengikuti arahan petugas, serta memastikan kondisi kendaraan dan pengemudi dalam keadaan prima. Petugas akan terus berada di lapangan untuk membantu masyarakat dan menjaga agar arus lalu lintas tetap berjalan," pungkas mantan Ditlantas Polda NTT itu.

Antrean Ketapang Mulai Memendek

Hingga pukul 10.45 WIB, Senin (7/9/2026), kemacetan di jalur menuju Pelabuhan Ketapang masih terjadi. Namun, panjang antrean kendaraan mulai berkurang dibandingkan beberapa hari sebelumnya.

Berdasarkan pantauan TribunJatim.com, ekor kemacetan tersisa sekitar empat kilometer. Sebelumnya, antrean kendaraan sempat mencapai belasan kilometer.

Di tengah upaya penguraian antrean, pengusaha kapal menawarkan solusi jangka pendek berupa perluasan dermaga. Mereka bahkan menyatakan kesediaan menalangi biaya pembangunan apabila usulan tersebut disepakati para pemangku kepentingan.

Baca juga: Pemprov Jatim Pertimbangkan Libatkan Satpol PP Tegakkan Aturan Sound Horeg

Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) Nurjatim mengatakan, keterbatasan kapasitas dermaga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan kemacetan di kawasan Pelabuhan Ketapang.

Karena itu, perluasan dermaga dinilai penting untuk meningkatkan kelancaran arus penyeberangan Jawa-Bali. Salah satu opsi yang ditawarkan ialah mengoptimalkan Dermaga Landing Craft Machine (LCM).

Area dermaga tersebut dapat disatukan dan diperkuat menggunakan cor beton sehingga kapasitas pelayanan kapal dapat ditambah. Saat ini, Dermaga LCM hanya dapat dimanfaatkan untuk tiga lintasan.

Jika diperluas, kapasitas Dermaga LCM diproyeksikan meningkat menjadi empat lintasan.

"Ini bisa menggantikan dermaga Bulusan yang saat ini tidak bisa difungsikan karena dua fender roboh ke laut dan memerlukan perbaikan," ujarnya di Banyuwangi, sekitar pukul 10.45 WIB, Senin (7/9/2026).

Penambahan satu lintasan di Dermaga LCM memungkinkan sekitar empat kapal tambahan beroperasi. Dengan demikian, total kapal yang dapat dilayani di dermaga tersebut dapat bertambah menjadi 13 kapal per hari.

Nurjatim menilai penambahan kapasitas dermaga dapat membantu mengurai antrean kendaraan di Pelabuhan Ketapang. Dermaga LCM menjadi salah satu titik penting pelayanan penyeberangan, terutama bagi kendaraan angkutan berat dengan bobot di atas 30 ton.

Gapasdap Siap Talangi Perluasan Dermaga

Untuk mempercepat realisasi solusi tersebut, Gapasdap Banyuwangi menyatakan siap menalangi anggaran perluasan Dermaga LCM apabila usulan itu mendapat persetujuan para pemangku kepentingan.

Nurjatim memperkirakan kebutuhan anggaran untuk pekerjaan tersebut sekitar Rp400 juta.

"Kami siap menalangi agar operasional penyebrangan bisa berjalan lancar," ujar dia.

Menurut Nurjatim, persoalan kapasitas dermaga juga berdampak langsung terhadap jumlah kapal yang dapat beroperasi di lintasan Jawa-Bali.

Saat ini terdapat 56 unit kapal yang melayani lintasan Jawa-Bali. Dalam kondisi normal, sekitar 28 hingga 32 kapal dapat beroperasi setiap hari.

Namun, pembangunan sepasang dermaga menyebabkan jumlah kapal yang dapat beroperasi turun signifikan. Saat ini, hanya sekitar 23 kapal yang dapat beroperasi setiap hari.

"Jadi saat ini kapal yang beroperasi hanya 40 persen saja dari jumlah unit yang ada di lintasan Jawa-Bali. Yang lain tidak bisa beroperasi karena tidak ada dermaga," lanjut dia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.