Maudu Baku dan Julung-julung Hiasi Maulid TP PKK Takalar, Daeng Manye Tekankan Ketahanan Keluarga
Sakinah Sudin September 07, 2026 07:06 PM

TRIBUN-TIMUR.COM, TAKALAR - Ratusan Maudu Baku dan Julung-julung menghiasi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah yang digelar TP PKK Kabupaten Takalar, Senin (7/9/2026) siang.

Kegiatan dirangkaikan rapat rutin TP PKK Kabupaten Takalar di Ruang Pola Kantor Bupati Takalar, Jalan Jenderal Sudirman No 26, Kelurahan Kalabbirang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Hadir Bupati Takalar Mohammad Firdaus Daeng Manye, Ketua TP PKK Takalar Hj Dewi Sri Ekowati Firdaus dan Wakil Ketua TP PKK Fadillah Fahriana.

Selan itu, hadir Kepala Dinas Sosial dan PMD Andi Rijal Mustamin, Ketua Dharma Wanita Persatuan Takalar Apt Hj Suwainah Hasbi S Farm, Ketua Bhayangkari Takalar Ny Eka Ginanjar serta Ketua Persik Candra Kirana Takalar Ny Artika Anton.

Para camat, kepala desa serta jajaran pengurus dan anggota TP PKK Kabupaten Takalar juga mengikuti rangkaian kegiatan tersebut.

Maulid Nabi Muhammad SAW diisi tausiyah agama yang disampaikan H Muchsin Ramlan.

Daeng Manye mengapresiasi pelaksanaan rapat rutin TP PKK yang dikemas bersama peringatan Maulid Nabi.

Menurut Daeng Manye, kegiatan tersebut memiliki nilai penting karena menjadi ruang mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat nilai keagamaan.

Ia juga menekankan peran TP PKK dalam mendukung pembangunan daerah, khususnya melalui penguatan keluarga di tingkat masyarakat.

“PKK memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan keluarga dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Daeng Manye.

Ia meminta jajaran TP PKK menjaga kebersamaan dan meningkatkan koordinasi dalam menjalankan berbagai program yang menyentuh kebutuhan masyarakat.

Daeng Manye berharap nilai yang diperoleh dari peringatan Maulid dapat diwujudkan melalui pengabdian dan kerja nyata.

Ia menilai keluarga yang kuat menjadi salah satu fondasi penting dalam mendorong pembangunan Kabupaten Takalar.

Karena itu, momentum Maulid diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu memperkuat semangat jajaran TP PKK dalam memberikan manfaat bagi masyarakat.

Maudu Baku dan Julung-julung

Beragam hiasan berwarna-warni dari TP PKK tingkat kabupaten, kecamatan, kelurahan dan desa memperkuat nuansa peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Maudu Baku dan Julung-julung yang ditampilkan menjadi bagian dari kreativitas masyarakat dalam memeriahkan peringatan Maulid Nabi.

Kedua elemen tersebut juga dikenal dalam tradisi Maudu Lompoa yang berkembang di Desa Cikoang, Kabupaten Takalar.

Bakul Maudu atau Maudu Baku merupakan wadah besar berbahan anyaman daun lontar yang digunakan untuk menempatkan sajian makanan dalam tradisi Maudu Lompoa.

Sajian tersebut antara lain berupa nasi pamatara atau nasi setengah matang, nasi ketan, serta lauk berupa ayam kampung yang disiapkan secara adat.

Bagian atas bakul biasanya dihiasi telur rebus warna-warni dan berbagai ornamen sehingga tampil menarik saat ditempatkan dalam rangkaian perayaan Maulid.

Sementara itu, Julung-julung merupakan replika atau miniatur perahu yang dihias menggunakan kain, sarung, pakaian baru atau sprei berwarna-warni.

Julung-julung berfungsi sebagai wadah untuk menempatkan Maudu Baku serta berbagai hasil bumi dan perlengkapan lainnya.

Dalam tradisi Maudu Lompoa, isi Julung-julung dapat berupa makanan, hasil bumi seperti padi, ubi, kelapa dan buah-buahan, hingga pakaian dan perlengkapan sehari-hari.

Bakul Maudu dan Julung-julung menjadi gambaran perpaduan nilai keagamaan Islam dengan kearifan lokal masyarakat maritim Takalar.

Kehadiran ornamen tersebut dalam kegiatan TP PKK Takalar menjadi salah satu daya tarik sekaligus pengingat terhadap kekayaan budaya lokal.

Teladani Akhlak Rasulullah SAW

Dalam ceramahnya, Muchsin mengingatkan agar peringatan Maulid tidak hanya dimaknai sebagai agenda tahunan.

Menurutnya, momentum tersebut seharusnya menjadi sarana untuk kembali mengingat dan menerapkan keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

“Peringatan Maulid Nabi bukan sekadar mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi menjadi momentum bagi kita untuk meneladani akhlak dan perjuangan beliau dalam menjalani kehidupan,” ujar Muchsin.

Keteladanan Nabi, kata Muchsin, mencakup aspek keimanan, akhlak, kepemimpinan hingga hubungan sosial dengan sesama. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.