TRIBUNMANADO.CO.ID - Suasana sejuk dan hembusan angin terasa di sebuah pondok kayu berukuran 6 sampai 7 meter yang berdiri di kawasan Waruga Dotu Rotty, Desa Tumaluntung, Kecamatan Kauditan, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara.
Lokasi bersejarah yang berjarak sekitar 21 kilometer dari Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado ini dikelilingi oleh seratusan waruga peninggalan leluhur Suku Tonsea.
Di tempat tersebut, mahasiswa Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi (Himsifor) Fakultas MIPA Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado menggelar Grand Launching Desa Wisata Tumaluntung Eco-Cultural Tourism, Jumat (4/9/2026).
Acara puncak dari Program Peningkatan Kapasitas (PPK) Ormawa ini dimeriahkan dengan pertunjukan budaya khas Minahasa.
Nuansa tradisional semakin lengkap dengan tata lampu sorot warna-warni yang mengarah ke panggung utama di dekat situs waruga.
Kemeriahan acara mencapai puncaknya ketika Hukum Tua Desa Tumaluntung, Richard Stevanus Kamagi, dan Wakil Rektor I sekaligus Plt Wakil Rektor 3 Unsrat Manado Pro Arthur Gehart Pinaria, menyumbangkan suara diiringi musik kolintang.
Hukum Tua Richard membawakan lagu rohani Tuhan Selalu Menolongku, sementara Prof Arthur menyanyikan lagu daerah Si Patokaan.
Pembukaan resmi ditandai dengan pemukulan alat musik tradisional tetengkoren secara bersama-sama oleh Prof Arthur Pinaria, Asisten Bidang Perekonomian Robby Parengkuan yang mewakili Bupati Minut, Camat Kauditan Vilma Anthonie, dan Hukum Tua Richard Kamagi.
Hadir pula dalam kegiatan tersebut Kasubbag Umum Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Utara Wenny Wuisan, perwakilan Dinas Pariwisata Minut Eveline Karongkong, Dekan FMIPA Dr Gerald Hendrik Tamuntuan, Wakil Dekan 3 FMIPA Dr Roojie Rumende, Ketua Jurusan Matematika Yohanes Langi, Koordinator Prodi Sistem Informasi Chriestie Montolalu, Ketua Tim Kerja PPKO Unsrat Dr Nickson Kawang, serta anggota DPRD Minut Anthony Pusung dan Ifonda Nusah.
Berbagai atraksi seni dan budaya turut memukau tamu undangan, mulai dari Tarian Kabasaran, sosialisasi dari Balai Pelestarian Kebudayaan, story telling "Mengenal Warisan Tumaluntung", hingga pidato dan dongeng dalam Bahasa Tonsea yang dibawakan oleh Marvel Rorong dan Charissa Lintang.
Hukum Tua Desa Tumaluntung Richard Stevanus Kamagi mengungkapkan desa wisata ini lahir dari semangat gotong royong dan kolaborasi.
Melalui konsep Eco-Cultural Tourism, pihaknya ingin memastikan pembangunan berjalan beriringan dengan pelestarian alam dan budaya.
"Desa bukan hanya tempat untuk pulang, tetapi memiliki cerita dan potensi yang harus dikelola secara profesional," ujar Richard.
Ia juga mengapresiasi kerja keras mahasiswa Himsifor FMIPA Unsrat yang menjadi satu-satunya wakil dari Sulawesi Utara yang lolos ke tingkat nasional dalam ajang PPK Ormawa Kemendikti 2026.
Selama empat bulan sejak Mei hingga September 2026, tim mahasiswa telah melakukan pendekatan, pelatihan, hingga revitalisasi destinasi wisata berbasis pendekatan quadruple helix di Desa Tumaluntung.