Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Menjadi petani kopi bukan sekadar menanam, merawat tanaman, lalu memanen buah kopi. Setelah panen, masih ada perjalanan panjang yang harus dilalui agar biji kopi memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
Hal itu dirasakan Likwan Johari, petani kopi asal Desa Bandung Baru, Kecamatan Kabawetan, Kabupaten Kepahiang, Bengkulu.
Selama ini, hasil perkebunan kopi yang dimiliki petani sebenarnya memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Namun, keterbatasan peralatan pengolahan membuat petani masih menghadapi kendala untuk mengembangkan kopi hasil kebun mereka.
Baca juga: 19,2 Ton Kopi Robusta Bengkulu Diekspor ke Italia dengan Nilai Rp1,2 Miliar
Peluang baru kini terbuka setelah Kelompok Tani Sinar Jaya Bandung Baru mendapatkan bantuan mesin roasting kopi dari Bank Indonesia (BI) Perwakilan Bengkulu.
Likwan yang merupakan Ketua Kelompok Tani Sinar Jaya menyambut baik bantuan tersebut. Menurutnya, mesin roasting menjadi fasilitas penting agar petani mulai memiliki kemampuan mengolah hasil kebun secara mandiri.
"Alhamdulillah, hari ini kami mengucapkan terima kasih kepada pihak Bank Indonesia dan pemerintah daerah atas bantuan mesin roasting ini," kata Likwan.
Likwan mengatakan, petani tidak ingin selamanya hanya berperan sebagai penghasil buah kopi dari kebun.
Petani juga memiliki keinginan untuk mengembangkan hasil panen menjadi produk olahan dengan kualitas dan nilai ekonomi yang lebih baik.
"Sebagai petani, kami juga yang punya kopi. Kami berusaha untuk mengembangkan produk-produk yang lebih baik dan hasilnya juga lebih bagus," ujarnya.
Namun, upaya tersebut selama ini tidak mudah. Salah satu persoalan yang dihadapi petani adalah biaya produksi dan harga jual kopi yang diterima setelah melalui berbagai proses.
Likwan menyebut harga yang diterima petani dapat berada di kisaran Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram, tergantung kondisi dan nominal yang diperoleh.
Baca juga: Lepas Ekspor Perdana ke Italia, Wagub Mian Ingin Kopi Bengkulu Punya Branding di Pasar Dunia
Kondisi tersebut membuat petani perlu mencari alternatif agar hasil kebun tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah.
Kehadiran mesin roasting diharapkan menjadi salah satu langkah untuk membuka peluang tersebut.
Dengan fasilitas itu, Kelompok Tani Sinar Jaya dapat mulai mengolah kopi hasil kebun menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Likwan menegaskan, mesin roasting bantuan BI tersebut tidak hanya akan digunakan untuk kepentingan dirinya maupun pengurus kelompok tani.
Seluruh anggota kelompok yang membutuhkan fasilitas tersebut akan diberikan kesempatan untuk memanfaatkannya secara bersama-sama.
"Bagi seluruh anggota yang ingin bekerja sama, kami membuka akses seluas-luasnya. Bagi yang ingin roasting, silakan. Kalau diperlukan, nanti kami buat sebuah usaha yang sifatnya kelompok," jelasnya.
Konsep tersebut diharapkan dapat mendorong anggota kelompok tani untuk mulai mengembangkan produk kopi masing-masing tanpa harus memiliki mesin roasting sendiri.
Bagi petani, keberadaan fasilitas bersama juga dapat menjadi awal untuk membangun usaha kopi berbasis kelompok.
Bantuan mesin roasting tersebut tidak diperoleh secara instan.
Likwan bersama petani dan komunitas kopi sebelumnya sempat berdiskusi mengenai berbagai peluang dukungan yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha kopi.
Dari diskusi tersebut, mereka mendapatkan informasi mengenai peluang bantuan dari Bank Indonesia.
"Kami pernah ngobrol dengan teman-teman komunitas kopi lainnya, ke mana kami bisa mengajukan bantuan. Salah satunya ke BI. Kemudian kami coba dan alhamdulillah direspons serta direalisasikan hari ini," ungkapnya.
Kini, mesin roasting tersebut menjadi bagian baru dalam perjalanan Kelompok Tani Sinar Jaya Bandung Baru.
Jika sebelumnya petani lebih banyak berfokus pada bagaimana menghasilkan buah kopi dari kebun, mereka mulai diarahkan untuk memikirkan tahapan setelah panen.
Mulai dari pengolahan, peningkatan kualitas, hingga menghasilkan produk kopi yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Bagi Likwan, bantuan mesin roasting bukan sekadar tambahan peralatan bagi kelompok tani.
Fasilitas tersebut menjadi kesempatan bagi petani untuk belajar mengolah hasil perkebunan sendiri sekaligus membuka peluang usaha baru.
Ia berharap keberadaan mesin tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh anggota Kelompok Tani Sinar Jaya sehingga kopi hasil kebun mereka tidak berhenti sebagai komoditas mentah.
"Kami masyarakat kecil selaku petani tentu ingin terus berkembang. Mudah-mudahan dengan adanya bantuan ini, kami bisa menghasilkan produk kopi yang lebih baik dan memberikan manfaat bagi anggota kelompok," pungkas Likwan.
Dengan adanya fasilitas pengolahan tersebut, petani kopi di Desa Bandung Baru kini memiliki peluang untuk bergerak lebih jauh, dari sekadar menjual hasil panen menuju pengembangan produk kopi yang memiliki nilai tambah dan daya saing lebih tinggi.