TRIBUN-BALI.COM - Ketika mendengar nama Bali, hal pertama yang terlintas di benak banyak orang biasanya adalah deretan pantai yang indah, pemandangan alam memukau, atau destinasi liburan kelas dunia. Namun, Bali sebenarnya menyimpan modal sosial, budaya, dan ekologis yang jauh lebih mendalam.
Dalam perbincangan dunia tentang Human Flourishing atau kesejahteraan manusia yang hakiki, Bali menempati posisi yang sangat istimewa. Ada 5 alasan utama mengapa Bali begitu relevan menjadi ruang untuk membicarakan bagaimana manusia dapat hidup secara harmonis dan berkembang secara utuh.
Sebagian besar kajian human flourishing di dunia Barat cenderung berfokus pada individu manusia (anthropocentric) dan kurang memperhatikan ekologi serta lingkungan hidup.
Mengutip tulisan Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Boyolali, Rta Wahyu Sri Pamungkas, konsep kesejahteraan di Bali tercermin dalam kearifan lokal Tri Hita Karana, yang secara harfiah berarti tiga penyebab terciptanya kebahagiaan dan keharmonisan hidup.
Falsafah luhur ini selaras dengan konsep human flourishing, yang menegaskan bahwa kebahagiaan sejati (hita) tidak dipahami secara egois atau materialistis semata, melainkan melalui tiga bentuk hubungan seimbang yang terdiri dari:
Tri Hita Karana melengkapi kerangka Human Flourishing dengan menyelaraskan kebutuhan batiniah, sosial, dan ekologis secara holistik. Seperti ditegaskan oleh Pendiri dan Pembina Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA) sekaligus dosen Interreligious Studies Universitas Gadjah Mada, Assoc. Prof. Dr. Dicky Sofjan, keberlanjutan hidup dan kesejahteraan manusia di Indonesia terikat erat dengan kelestarian tanah, laut, serta ekosistem tempat kita bertumbuh.
Salah satu dimensi kunci Human Flourishing adalah adanya hubungan sosial yang dekat dan saling mendukung. Di Bali, struktur masyarakat adat seperti Banjar serta budaya gotong royong yang kuat membuktikan bahwa manusia tidak dipahami sebagai individu yang berdiri sendiri. Ikatan komunal ini menjadi penopang utama ketahanan psikologis dan rasa saling memiliki di dalam masyarakat.
Dalam riset Global Flourishing Study (GFS), dimensi meaning and purpose (makna dan tujuan hidup) serta nilai keagamaan terbukti menjadi salah satu pilar penopang kesejahteraan lahir dan batin. Bali merupakan ruang di mana etika, tradisi, dan praktik spiritualitas menyatu dalam aktivitas harian warga, memperlihatkan bagaimana nilai lokal memberi arah dan arti bagi kehidupan masyarakatnya.
Sebagai destinasi internasional yang berkembang pesat, Bali berada di garis depan dalam menghadapi tantangan modernisasi dan tekanan lingkungan. Membicarakan human flourishing di Bali memberikan ruang diskusi yang sangat nyata: bagaimana manusia dapat mengejar kemajuan ekonomi tanpa merusak alam dan lingkungan tempatnya bertumbuh?
Bali memiliki rekam jejak panjang sebagai tuan rumah berbagai pertemuan lintas bangsa, budaya, dan agama. Suasana Bali yang terbuka dan inklusif menghadirkan safe space (ruang aman) yang sangat kondusif untuk membangun dialog etika antar-akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan dari seluruh dunia.
Baca juga: Human Flourishing: Pengertian dan 6 Dimensi yang Menentukan Kualitas Hidup
Berangkat dari lima alasan tersebut, Bali secara resmi dipilih menjadi tuan rumah penyelenggaraan Global Ethics Forum (GEF) 2026 yang akan berlangsung pada 20-22 Oktober 2026 mendatang. Penyelenggaraan ini menjadi tonggak sejarah penting karena untuk pertama kalinya forum etika global tahunan tersebut digelar di luar Jenewa, Swiss.
Perhelatan bergengsi ini digagas oleh Yayasan Dharma Etika Madani (YADEMA) bersama Globethics, dengan menggandeng Baylor University dan Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai mitra pengetahuan, serta National Geographic Indonesia sebagai mitra media.
YADEMA memaknai human flourishing sebagai kesejahteraan manusia yang hakiki. Menurut Pendiri dan Dewan Pembina YADEMA sekaligus dosen Interreligious Studies UGM, Assoc. Prof. Dr. Dicky Sofjan, konsep human flourishing perlu dipahami melalui lensa budaya dan konteks lokal, bukan semata-mata mengadopsi kerangka pemikiran barat.
“Pemahaman masyarakat Indonesia tentang kehidupan yang baik tidak dapat dipisahkan dari relasi antarmanusia, nilai-nilai keagamaan, serta keterhubungan dengan alam,” tegas Dr. Dicky dalam rangkaian acara pre-event GEF 2026 di Yogyakarta.
Sebagai bagian dari pergerakan menuju GEF 2026, YADEMA dan Globethics berkomitmen agar diskursus etika ini dapat dipahami luas oleh masyarakat melalui pendekatan storytelling yang etis dan empati.
Saat ini juga tengah dibuka Global Ethics Forum 2026 Photo Essay Competition bertema “Human Flourishing”. Kompetisi ini mengundang jurnalis, fotografer, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk membagikan narasi visual tentang perjuangan manusia untuk hidup lebih sejahtera dan bermakna. Karya terpilih nantinya akan dipamerkan langsung pada ajang Global Ethics Forum 2026 di Bali.
Rangkaian ini menghadirkan berbagai pembahasan mengenai inovasi, teknologi, manusia, etika, dan hubungan sosial dalam konteks human flourishing. Informasi lebih lanjut mengenai GEF 2026 dapat diakses melalui situs resmi gef2026.yadema.org.
Baca juga: Kekuatan di Balik Human Flourishing Indonesia: Hubungan Sosial dan Komunitas