Tribunlampung.co.id, Lampung Selatan – Pembatalan sejumlah penerbangan di Bandara Internasional Radin Inten II, Lampung Selatan, akibat erupsi Gunung Anak Krakatau membuat rencana perjalanan sejumlah penumpang berantakan.
Baca juga: 50 Jemaah Umrah Batal Berangkat Imbas Erupsi Gunung Anak Krakatau
Salah satunya Jahnu (23), wisatawan asal Australia yang sebelumnya berada di Krui, Pesisir Barat, untuk menikmati wisata surfing.
Jahnu mengaku hendak melanjutkan perjalanan dengan pesawat menuju Kuala Lumpur, Malaysia.
Ia membutuhkan penerbangan tersebut untuk keperluan visa.
Namun, rencananya tertunda karena penerbangan dari Bandara Internasional Radin Inten II dibatalkan.
"Saya dari Krui untuk surfing. Sekarang saya mau terbang ke Kuala Lumpur karena visa saya sudah habis," kata Jahnu saat ditemui di Bandara Radin Inten II, Senin (7/9/2026).
Jahnu mengaku masih menunggu kepastian mengenai kelanjutan penerbangannya.
"Saya masih menunggu kepastian. Belum tahu bagaimana selanjutnya," ujarnya.
Hal sama dialami Rusman (45), penumpang yang hendak kembali ke Jawa setelah bekerja di Lampung.
Rusman sebelumnya telah datang ke Bandara Radin Inten II dan dijadwalkan berangkat sekitar pukul 09.30 WIB menuju Bandara Soekarno-Hatta.
Namun, penerbangannya dibatalkan. Penumpang kemudian diminta menunggu kepastian lebih lanjut hingga pukul 18.00 WIB.
Daripada harus menunggu berjam-jam di bandara tanpa kepastian, Rusman akhirnya memilih kembali ke Bandar Lampung.
"Awalnya berangkat pukul 09.30. Tapi ternyata dibatalkan lagi, terus menunggu lagi sampai jam 6 sore nanti. Jadi pulang saja," kata Rusman.
Rusman tetap berharap dapat kembali ke Jawa setelah kondisi penerbangan kembali normal.
"Ya mau bagaimana lagi. Daripada nunggu sampai sore di sini, lebih baik pulang dulu. Nanti kalau sore sudah ada kepastian baru berangkat lagi," ujarnya.
Ribuan Penumpang Terdampak
Sebanyak 5.222 penumpang terdampak pembatalan penerbangan di Bandara Internasional Radin Inten II, Lampung Selatan, selama dua hari akibat erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK).
Jumlah tersebut merupakan akumulasi penumpang terdampak sejak Minggu (6/9/2026) hingga Senin (7/9/2026).
"Khusus hari ini, Senin, 29 penerbangan dibatalkan hingga pukul 12.00 WIB dengan total 2.810 penumpang terdampak. Untuk hari Minggu kemarin ada 3.412 orang," kata General Manager Bandara Internasional Radin Inten II, Kiki Eprina Arieanti, Senin.
Kiki mengatakan, Bandara Radin Inten II ditutup untuk seluruh operasional penerbangan pada Senin mulai pukul 00.01 hingga 18.00 WIB.
"Hari ini, terkonfirmasi bahwa kami melakukan NOTAM untuk aerodrome close, penutupan ruang udara mulai dari jam 00.01 sampai dengan 18.00 WIB," sebut Kiki.
Penutupan bandara tersebut membuat maskapai harus membatalkan sejumlah penerbangan. Penumpang yang terdampak kemudian diberikan pilihan sesuai aturan yang berlaku.
Kiki mengatakan, kondisi erupsi Gunung Anak Krakatau masuk kategori force majeure, yakni kejadian di luar kendali seperti bencana alam.
"Karena ini sifatnya force majeure atau bencana alam, refund akan dikembalikan 100 persen," ujarnya.
Selain pengembalian dana tiket, penumpang juga dapat memilih perubahan jadwal penerbangan atau reschedule. Namun, perubahan jadwal tetap mengikuti kebijakan masing-masing maskapai.
"Kalau reschedule (penjadwalan ulang), mereka punya pilihan tanpa biaya sampai dengan 30 hari ke depan," jelasnya.
Untuk diketahui, penutupan bandara dilakukan demi memastikan keselamatan penerbangan karena abu vulkanik GAK masih terdeteksi di sekitar bandara. Pihak bandara bersama BMKG terus melakukan pemeriksaan abu vulkanik setiap satu jam untuk menentukan kondisi penerbangan.
(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)