Bob Hippy Tutup Usia, Tinggalkan Warisan Besar untuk Sepak Bola Indonesia
Dwi Rizki September 07, 2026 09:35 PM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Sepak bola seolah menjadi bahasa yang tak pernah habis dibicarakan Bob Hippy. 

Bahkan ketika usianya telah memasuki senja, obrolannya tetap berkisar pada permainan yang telah menjadi bagian penting dari hidupnya, yakni tim nasional, pemain muda, perkembangan kompetisi, hingga nasib para mantan pesepak bola.

Bagi Eko Priyono, jurnalis Warta Kota yang mengikuti sepak terjang Bob Hippy sejak 2010/2011, sepak bola bukan sekadar masa lalu bagi pria yang pernah memperkuat Timnas Indonesia pada tahun 60-an.

Bob Hippy merupakan legenda Timnas U 20 pada masanya.

Sepak bola adalah percakapan yang terus hidup hingga hari-hari terakhirnya.

Bob Hippy meninggal dunia pada Sabtu (5/9/2026) sore.

Ia wafat sekira pukul 16.30 WIB di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta. 

Baca juga: Masker di Stasiun Depok Lama Diburu Warga, Harga KF94 Naik Dua Kali Lipat

Jenazah Bob Hippy lalu disemayamkan di rumah duka di Jalan Metro Alam X No. TE 22 dan TE 23, Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Lalu dimakamkan di Unit Islam Blok AA I, Blad 08, Petak 0012, TPU Karet Bivak, Karet Tengsin, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Minggu (6/9/2026).

“Obrolan saya sama beliau mayoritas bola. Mulai dari lokal, Piala Dunia, Piala Eropa,” ujar Eko, saat ditemui di lokasi pemakaman. 

Eko masih mengingat bagaimana Bob Hippy mengambil peran dalam salah satu fase penting sepak bola Indonesia, ketika federasi mengalami dualisme kepengurusan pada awal dekade 2010-an. 

Ya, dualisme PSSI dan KPSI adalah masa kelam perpecahan organisasi dan kompetisi sepak bola nasional yang terjadi pada 2011 sampai 2013.

Bob diketahui pernah menjadi Pengurus PSSI pada periode kepengurusan 2011-2015. 

Ia dipercaya menduduki sejumlah posisi penting, di antaranya Ketua Komite Sepak Bola, Ketua Komite Pengembangan Sepak Bola Usia Muda, dan Wakil Ketua Komite Status Pemain.

Pada periode itu pula, Bob dipercaya menjabat sebagai Koordinator Timnas Indonesia. 

Di tengah situasi yang tidak mudah itu, perhatian terhadap pembinaan pemain usia muda mulai mendapatkan ruang lebih besar.

Pada masa itu, kelompok usia seperti U-14 hingga U-17 belum mendapatkan perhatian sebesar tim senior. 

Namun, Bob Hippy justru melihat pembinaan pemain muda sebagai fondasi yang tidak boleh diabaikan.

Dari situlah muncul nama Indra Sjafri. Menurut Eko, Bob Hippy menjadi salah satu sosok yang keukeuh mendukung Indra Sjafri ketika pelatih asal Sumatra Barat itu belum sepenuhnya mendapat kepercayaan dari banyak pihak. 

Indra bahkan bukan berasal dari latar belakang mantan pemain tim nasional, sesuatu yang pada masa itu dianggap tidak lazim untuk seorang pelatih timnas.

“Om Bob yang selalu, terutama masa-masa krusial itu 2011-2012, selalu berdiri meyakinkan kalau Coach Indra ini cocok membina pemain-pemain muda,” kata Eko.

Menurut cerita Bob Hippy yang merupakan mantan anggota Komite Eksekutif atau Exco PSSI, pada pertengahan 2011 dilakukan pemilihan pelatih timnas U-16.

Semula, Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin (63) tak melihat Indra Sjafri dan cenderung ke calon lainnya. 

Namun, Bob Hippy dan beberapa exco lainnya mengaku bersikukuh agar Indra yang dipilih. 

Johan pun setuju dan menantang untuk membuktikan keputusan itu.

Bob Hippy mengatakan, pemilihan Indra Sjafri sudah melewati beragam pertimbangan. 

Ia sempat meminta saran dari mantan pelatih timnas Danurwindo dan tokoh sepak bola nasional Emral Abus. 

Keduanya menunjuk Indra sebagai yang terbaik di kelompok pelatih usia muda. 

Keyakinan Bob bukan tanpa alasan. Ia lihat latar belakang dan lisensi kepelatihan Indra Sjafri sebagai modal penting untuk menangani pemain-pemain usia muda.

Bob tetap memercayakan tugas membangun tim kepada Indra Sjafri. 

Artinya, timnas yang saat itu berjuang di kualifikasi Piala Asia U-19 sudah dipersiapkan sejak dua tahun lalu.

Turnamen pertama Indra adalah kualifikasi Piala Asia U-16 2012. 

Indonesia tergabung di grup G bersama Australia, Thailand, Hongkong, Myanmar, dan Guam.

Kualifikasi grup G berlangsung 12 hingga 22 September 2011 di Thailand. 

Indonesia hanya sampai di peringkat tiga meski sukses menghajar Guam 17-0.

Dukungan itu kemudian menemukan hasil. Indra Sjafri mulai mengorbitkan nama-nama yang kelak dikenal luas publik sepak bola Indonesia. 

Indra Sjafri terkenal dengan gaya blusukan keliling daerah di Indonesia untuk mencari dan memantau langsung talenta pemain muda sepak bola potensial.

Ada Evan Dimas, Maldini Pali, Sabeq Fahmi, hingga sejumlah pemain muda lainnya.

Puncaknya datang ketika generasi tersebut membawa prestasi bagi Indonesia di level kelompok umur.

Bagi Eko, keberanian Bob mempertahankan dukungan kepada Indra Sjafri merupakan salah satu bagian penting dari perjalanan pembinaan sepak bola Indonesia.

“Seandainya waktu itu nggak keukeuh Om Bob berdiri mendukung Coach Indra, mungkin akan di situ-situ aja sepak bola kita,” ujarnya.

Bagi Eko, Indra Sjafri bahkan layak disebut sebagai salah satu pelatih lokal tersukses dalam sejarah tim nasional Indonesia, khususnya di kelompok umur. 

Prestasi di ajang regional, termasuk keberhasilan meraih medali emas SEA Games dan gelar kelompok umur, menjadi bagian dari warisan pembinaan yang pernah diperjuangkan.

Namun, bagi Bob Hippy, persoalan sepak bola Indonesia tidak pernah berhenti pada satu prestasi.

Hingga akhir hayatnya, ia tetap mengikuti perkembangan tim nasional. 

Eko masih menyimpan percakapan terakhirnya dengan Bob pada 20 Agustus 2026.

Bob menyoroti hasil pertandingan Indonesia melawan Singapura. 

Ia bahkan juga mengomentari kekalahan Indonesia dari Vietnam.

“Menurut dia ada yang salah dalam sepak bola Indonesia,” kata Eko.

Usia boleh bertambah, tetapi energi untuk membicarakan sepak bola seolah tidak pernah berkurang.

Kepedulian kepada Mereka yang Terlupakan

Ia peduli kepada mantan pemain. Menurut Eko, Bob kerap memikirkan nasib mantan pesepak bola yang kehidupannya tidak selalu seberuntung ketika masih aktif bermain.

Ia berharap federasi memiliki wadah yang mampu memperhatikan kehidupan para mantan pemain, terutama mereka yang memasuki usia senja.

“Setahu saya memang dia banyak membantu mantan-mantan pemain meskipun nggak diekspos,” kata Eko.

Ketika membantu seseorang, ia tidak selalu ingin disebut.

“Kalau saya sama dia tuh nggak usah ditulis, yaudah gitu aja,” ujar Eko.

Karena itu pula, hubungan Eko dengan Bob perlahan berubah.

Tidak lagi semata wartawan dan narasumber. Mereka menjadi teman. Teman bicara. Teman berdiskusi. Teman yang bisa membicarakan apa saja.

Kesepian di Usia Senja

Ada satu percakapan yang terus diingat Eko.

Bob pernah mengatakan bahwa semakin tua seseorang, semakin sedikit pula teman yang dimilikinya.

Satu per satu orang yang pernah mengisi masa lalu pergi.

Anak-anak telah memiliki kehidupan masing-masing.

Keluarga tetap menjadi tempat pulang, tetapi teman memiliki ruang yang berbeda.

Dengan teman, Bob bisa kembali mengingat masa lalu.

Ia bercerita tentang pertandingan di Bandung, Medan, tentang bermain sepak bola pada masa mudanya, bahkan tentang pengalaman dikejar penonton.

Cerita-cerita kecil yang mungkin tidak penting bagi orang lain, tetapi menjadi bagian dari kehidupan yang hanya bisa dipahami oleh orang yang mengalaminya.

“Beda kalau sama teman kan ada hal yang kita nggak bisa ngobrolin sama istri,” kata Eko.

Karena itulah, bagi Eko, kehilangan Bob bukan hanya kehilangan seorang tokoh sepak bola. Ia kehilangan teman berbicara.

Seorang pengamat sepak bola dan jurnalis TopSkor/Skor.id, Muhammad Rais Adnan, juga mengenang Bob sebagai narasumber yang menyenangkan untuk diajak berdiskusi.

Bob, kata Rais, tidak pernah kehilangan energi ketika membicarakan sepak bola meski usianya tidak lagi muda.

"Narasumber yang selalu asik untuk diajak diskusi, meski sedang dikritik. Tidak pernah kehilangan energi ketika bicara sepak bola meski usia sudah tidak lagi muda," tutur dia.

"Justru kami para jurnalis yang pernah khawatir dengan kesehatannya saat dirinya sedang dihujani kritik terkait organisasi PSSI di masa periodenya," sambungnya.

Bahkan ketika sedang mendapat kritik terkait organisasi PSSI, Bob tetap mampu berdiskusi dengan para jurnalis.

"Terima kasih om Bob untuk semua kontribusinya di sepak bola Indonesia khususnya pembinaan usia muda," kata dia. (m31)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.