"Mau antar anak, anak yang berangkat hari ini harusnya. Mau mulai kuliah"
Andri, Warga Merlung, Kabupaten Tanjab Barat.
TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Sejumlah penumpang pesawat rute Jambi-Jakarta via Bandara Sultan Thaha Jambi, harus merogoh kocek lebih dalam. Imbas erupsi Gunung Anak Krakatau, seluruh penerbangan rute Jambi-Jakarta dibatalkan, Senin (7/9/2026).
Dampaknya, penumpang mengubah rencana perjalanan, terutama penumpang yang datang dari luar Kota Jambi.
Penumpang dari luar Kota Jambi harus menyesuaikan kembali jadwal keberangkatan, termasuk menyiapkan waktu dan biaya tambahan apabila harus memperpanjang masa menginap di Jambi.
Andri, warga Merlung, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, yang datang ke Bandara Sultan Thaha untuk mengantarkan anaknya kembali ke Jakarta.
Jarak Merlung dengan bandara Jambi sekira 112 kilometer, dengan waktu tempuh 3 jam perjalanan normal melalui Jalan Lintas Sumatera yang kondisinya beragam.
Anaknya dijadwalkan terbang pada Senin untuk memulai kuliah di Jakarta. Namun, rencana tersebut harus tertunda setelah penerbangannya dibatalkan.
"Mau antar anak, anak yang berangkat hari ini harusnya. Mau mulai kuliah," ujar Andri.
Andri mengaku sebelumnya tidak mengetahui adanya pembatalan penerbangan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
Dia pun masih mempertimbangkan pilihan untuk menjadwalkan ulang penerbangan atau mengajukan pengembalian dana tiket.
Hal serupa dialami Yanti, warga Kota Jambi, yang hendak mengantar anaknya untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Telkom di Jakarta.
Anaknya seharusnya berangkat pada Senin ini. Barang bawaan bahkan sudah dipersiapkan sebelum keluarga tersebut mengetahui penerbangannya dibatalkan.
"Iya, kuliah di Universitas Telkom, harusnya hari ini berangkat. Sudah bawa barang, ternyata dibatalkan," kata Yanti.
Saat ini, anak Yanti masih mengurus penjadwalan ulang atau reschedule penerbangan.
Mempertimbangkan jarak tempuh, dibanding harus kembali ke rumah, walhasil, sebagian penumpang dari luar Kota Jambi akhirnya terpaksa mencari hotel dan penginapan di Kota Jambi.
Mereka menginap di Kota Jambi sembari menunggu jadwal penerbangan Jambi-Jakarta dibuka.
18 Penerbangan Batal
Hingga Senin, setidaknya 18 penerbangan dari Bandara Sultan Thaha Jambi menuju Bandara Soekarno-Hatta Jakarta dibatalkan.
General Manager Bandara Sultan Thaha Jambi, Ardon Marbun, mengatakan pembatalan tersebut cukup berdampak terhadap aktivitas penerbangan di Jambi.
Pasalnya, hampir 95 persen penerbangan dari Bandara Sultan Thaha Jambi merupakan penerbangan dengan tujuan Jakarta.
"Karena memang hampir 95 persen penerbangan kita ke Jakarta," ujar Ardon.
Meski kondisi di Bandara Sultan Thaha Jambi terlihat normal, aktivitas penumpang masih cukup padat. Sejumlah calon penumpang bahkan mengaku baru mengetahui penerbangannya dibatalkan setelah tiba di bandara.
Bisa Refund 100 Persen atau Reschedule
Bandara Sultan Thaha Jambi mengimbau penumpang yang terdampak pembatalan untuk segera berkoordinasi dengan maskapai terkait pilihan perjalanan mereka.
Ardon mengatakan penumpang terdampak dapat memilih pengembalian dana atau menjadwalkan ulang penerbangan.
"Kami pastikan penumpang bisa melakukan refund dan akan dikembalikan 100 persen. Atau pilihan untuk reschedule," ujar Ardon.
Bagi penumpang dari luar Kota Jambi, kepastian jadwal baru menjadi penting karena pembatalan penerbangan dapat membuat mereka harus menyesuaikan kembali rencana perjalanan dan masa tinggal di Jambi.
Penumpang juga disarankan tidak langsung kembali ke bandara sebelum mendapatkan kepastian jadwal dari maskapai.
Informasi mengenai pembatalan, perubahan jadwal, refund, dan reschedule dapat dikonfirmasi melalui layanan resmi maskapai.
Penumpang diimbau memantau informasi penerbangan secara berkala agar dapat mengetahui perkembangan terbaru terkait jadwal keberangkatan Jambi-Jakarta.
Gunung Kerinci Status Waspada
Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda erupsi pada Minggu (6/9). Aktivitas vulkanik itu tidak memengaruhi kondisi Gunung Kerinci di Kabupaten Kerinci.
Meski begitu, saat ini, "Puncak Sumatra" itu masih tetap berstatus Waspada Level II. Belum ada indikasi peningkatan aktivitas.
Berdasarkan informasi dari Pos Pengamatan Gunung Kerinci, kondisi gunung api tertinggi di Sumatra tersebut masih dalam kondisi seperti biasa.
"Info dari Pos Pengamatan Gunung Kerinci saat ini Gunung Kerinci masih seperti biasa, normal-normal saja," ujar David, pihak pengelola kawasan Gunung Kerinci.
Meski demikian, status Waspada Level II pada Gunung Kerinci tetap perlu menjadi perhatian. Status tersebut menunjukkan adanya aktivitas vulkanik di atas kondisi normal sehingga masyarakat tetap diminta mengikuti rekomendasi dan informasi resmi dari pihak berwenang.
Masyarakat, khususnya warga Kerinci dan wisatawan, juga diimbau tidak mengaitkan secara langsung erupsi Gunung Anak Krakatau dengan aktivitas Gunung Kerinci tanpa adanya keterangan resmi dari PVMBG.
Jalur Pendakian Ditutup
Penutupan sementara jalur pendakian Gunung Kerinci sejak 1 September 2026 juga bukan disebabkan oleh peningkatan aktivitas vulkanik.
Penutupan dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).
Dengan demikian, erupsi Gunung Anak Krakatau dan penutupan jalur pendakian Gunung Kerinci merupakan dua hal yang berbeda.
Masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Perkembangan aktivitas Gunung Kerinci maupun gunung api lainnya sebaiknya dipantau melalui kanal resmi PVMBG dan instansi terkait.
Aktivitas vulkanik setiap gunung api dipengaruhi oleh sistem magmatisnya masing-masing. Karena itu, erupsi di satu gunung api tidak secara otomatis menunjukkan adanya peningkatan aktivitas pada gunung api lainnya. (Tribun Jambi/Srituti Apriliani Putri/Herupitra)
Imbas Erupsi
Baca juga: Pelajar SMA Sarolangun Naik RX King Standing lalu Roda Depan Lepas, Tindakan Membahayakan
Baca juga: Selain Jakarta, Rute Jambi-Batam hingga Medan Masih Dilayani di Bandara Jambi