Tito Ungkap Empat Komponen Utama untuk Dorong Pertumbuhan Ekonomi dan Keluar dari Middle Income Trap
Mursal Ismail September 07, 2026 11:36 PM

SERAMBINEWS.COM - Pemerintah terus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional agar Indonesia dapat keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah atau middle income trap.

Menteri Dalam Negeri atau Mendagri, Muhammad Tito Karnavian menilai pertumbuhan ekonomi yang tinggi menjadi salah satu kunci untuk mencapai status negara maju.

Tito menekankan empat komponen utama pertumbuhan ekonomi yang perlu diperkuat secara bersama oleh pemerintah pusat dan daerah.

Komponen pertama adalah konsumsi rumah tangga yang mencerminkan kekuatan daya beli masyarakat.

Komponen kedua adalah belanja pemerintah yang dinilai penting untuk memastikan peredaran uang di masyarakat dan menstimulasi sektor swasta.

Komponen ketiga adalah investasi dalam negeri maupun luar negeri yang dapat membuka lapangan kerja, menambah modal, dan meningkatkan perputaran uang.

Baca juga: VIDEO - Detik-Detik Air Laut Surut di Pesisir Lampung, Anak Krakatau Kembali Erupsi

Komponen keempat adalah peningkatan nilai ekspor dibandingkan impor untuk mendorong devisa dan surplus perdagangan internasional.

Pemerintah pusat dan daerah diharapkan dapat mengoptimalkan keempat komponen tersebut untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional.

Pemerintah terus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah (middle income trap).

Mendagri mengatakan, negara-negara yang berhasil menjadi negara maju umumnya mampu melewati fase tersebut setelah mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Untuk mencapai target tersebut, ia menekankan pentingnya penguatan empat komponen utama pertumbuhan ekonomi yang perlu dioptimalkan secara bersama oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah (pemda).

Hal tersebut disampaikan Tito saat memimpin Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi yang dirangkaikan dengan Rilis Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota Triwulan II 2026 di Gedung Sasana Bhakti Praja (SBP), Kantor Pusat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Jakarta, Senin (7/9/2026).

Baca juga: Kasus KMP Teluk Sinabang, Publik Sorot Tali Jangkar di Jalur Pelayaran Umum

"Spesifik mengenai masalah pertumbuhan ekonomi dan kami akan betul-betul kawal juga sama-sama. Karena kami ingin keluar dari negara berkembang, terjebak pada pendapatan kelas menengah, middle income trap. Salah satu kuncinya adalah pertumbuhan ekonomi harus tinggi, bila perlu double digit," ucap Tito dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Senin.

Empat Komponen Pertumbuhan Ekonomi

Lebih lanjut, Tito menjelaskan empat komponen utama yang perlu diperkuat.

Pertama, konsumsi rumah tangga. Tingginya konsumsi rumah tangga mencerminkan kuatnya daya beli masyarakat. Sebaliknya, ketika daya beli melemah, konsumsi rumah tangga turut mengalami penurunan.

"Itu menyumbang hampir 50 persen angka pertumbuhan ekonomi. Apakah masyarakat memiliki daya beli, sehingga mereka belanja, konsumsi.

Itu menjadi penyumbang terbesar, dan ini melibatkan pemerintah pusat maupun daerah," ucap Tito.

Kedua, belanja pemerintah, baik pusat maupun daerah. Ia menekankan pentingnya memastikan realisasi belanja pemerintah berjalan sesuai target.

Kemendagri pun secara berkala mengevaluasi realisasi belanja setiap daerah. Daerah dengan realisasi belanja yang masih rendah akan mendapat perhatian dan pengingat dari pemerintah.

Dalam proses tersebut, Kemendagri juga menurunkan tim untuk melakukan pemantauan.

"Belanja pemerintah sangat penting, karena untuk meyakinkan bahwa uang pemerintah beredar di masyarakat, dan bisa memancing, menstimulasi sektor swasta," ujar Tito.

Ketiga, investasi dalam negeri maupun luar negeri. Ia mengatakan, peningkatan investasi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pembukaan lapangan kerja, penambahan modal, serta peningkatan perputaran uang di masyarakat.

Oleh karena itu, investasi menjadi salah satu komponen penting yang perlu terus didorong oleh pemerintah pusat dan daerah.

"Kunci adalah bagaimana daerah bisa mempermudah investasi, mengundang investor, dan lain-lain agar hidup," ucap Tito.

Keempat, nilai ekspor lebih tinggi daripada impor. Tito menilai pemerintah pusat dan daerah perlu mendorong pengusaha, produsen, serta pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) agar semakin berorientasi pada pasar ekspor.

Pemda juga berperan dalam mengidentifikasi dan mendorong sektor-sektor unggulan yang memiliki potensi menembus pasar internasional.

"Kalau ekspor lebih banyak daripada impor, otomatis kami akan memiliki devisa, kita surplus dalam perdagangan internasional. Itu akan memberikan pertumbuhan ekonomi kami menyumbang (kenaikan), angkanya akan menjadi terdongkrak," tutur Tito.

Dalam rapat koordinasi tersebut, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti, serta Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa turut hadir.

Hadir pula Pelaksana Tugas (Plt) Deputi II Bidang Perekonomian dan Pangan Kantor Staf Presiden (KSP) Popy Rufaidah. (*)

Sumber: https://nasional.kompas.com/read/2026/09/07/20263041/targetkan-keluar-dari-middle-income-trap-mendagri-dorong-pertumbuhan-ekonomi

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.