Semarang (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyampaikan bahwa sampai saat ini belum terpantau abu vulkanik dampak dari erupsi Gunung Anak Krakatau di wilayah tersebut, tetapi mengimbau masyarakat untuk tetap waspada.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng Bergas Catursasi Penanggungan, di Semarang, Senin, mengatakan, pihaknya bersama BPBD di 35 kabupaten/ kota telah melakukan penilaian di sejumlah wilayah yang berbatasan dengan Jawa Barat.

"Ada informasi simpang siur terkait dampak langsung (abu letusan Anak Krakatau, red.) kepada masyarakat (Jawa Tengah). Untuk menjelaskan isu-isu itu, harus didukung dengan data," kata Bergas.

Dari penilaian yang dilakukan mulai Cilacap, Kebumen, Purworejo, Brebes, Tegal, Banyumas, hingga meluas ke wilayah timur, BPBD Jateng menyimpulkan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau belum berdampak pada aktivitas warga.

Setelah dilakukan penilaian di beberapa wilayah dan analisis meteorologi, Bergas menyatakan belum ada residu abu vulkanik GAK yang sampai di Jateng.

"Setelah kita cek di beberapa wilayah, hal yang mengganggu aktivitas kehidupan penghidupan masyarakat belum terjadi," ujar Bergas.

Namun demikian, pihaknya tetap mengimbau warga untuk tetap waspada, misalnya dengan menggunakan masker saat bepergian atau beraktivitas di luar rumah.

Ia juga menginstruksikan agar BPBD di seluruh Jateng melakukan edukasi, terkait antisipasi terhadap debu akibat aktivitas vulkanik maupun dampak musim kemarau.

"Kalau kita bicara di musim ini (kemarau, red.), debu itu pasti luar biasa. Maka penggunaan masker itu menjadi penting. Kemudian tidak banyak keluar rumah. Kalau aktivitasnya banyak di luar rumah, banyak minum air putih," katanya.

Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang Yoga Sambodo mengatakan, pihaknya mengacu pada data yang dirilis oleh Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin dan analisis citra satelit BMKG Himawari.

Dari analisis tersebut, angin permukaan yang berada pada ketinggian 1.500 meter bergerak dari timur ke barat.

"Jadi, kenapa kemarin agak heboh, barangkali memang di lapisan atas itu trajektori debu vulkanik itu diperkirakan sampai ke Jateng, tapi itu di lapisan atas. Sementara lapisan di bawahnya, anginnya ke arah dari timur ke barat," katanya.

Di samping itu, pihaknya juga telah melakukan analisis empiris dengan melakukan "paper test" pada 6 dan 7 September 2026 di lingkungan Bandara Ahmad Yani Semarang yang menunjukkan debu vulkanik GAK dinyatakan negatif.

Tidak hanya di Semarang, "paper test" juga dilakukan pada Stasiun Klimatologi Kertajati, Stasiun Meteorologi Maritim Tegal, dan Cilacap, dan memperlihatkan hasil yang sama.