TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan kecerdasan buatan (AI), Pemerintah Kabupaten Magelang mendorong masyarakat memiliki kemampuan literasi yang lebih kritis.
Hal tersebut disampaikan oleh Bupati Magelang, Grengseng Pamudji dalam GEMILANG FEST 2026 yang digelar 7–11 September sebagai bagian dari rangkaian Hari Kunjung Perpustakaan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Magelang.
Bupati Magelang Grengseng Pamudji mengatakan tantangan literasi saat ini semakin kompleks.
“Literasi tidak lagi sebatas kemampuan membaca dan menulis,” katanya.
Menurutnya, masyarakat harus mampu memahami, mengolah, dan memanfaatkan informasi secara cerdas, kritis, dan produktif.
Ia menilai perkembangan teknologi digital membuat kemampuan memilah informasi menjadi semakin penting.
“Di tengah kepungan zaman yang hari ini semua berbasis chat dan media sosial, sebenarnya dengan literasi ini semua komponen inovasi itu terbuka,” ujarnya.
Grengseng menegaskan, literasi juga harus memberikan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat.
“Pengetahuan yang didapat hendaknya mampu diimplementasikan menjadi keterampilan nyata,” katanya.
Mulai dari “membuka peluang ekonomi, meningkatkan produktivitas UMKM, memajukan sektor pertanian, maupun membangun karakter keluarga yang sejahtera dan mandiri.”
Karena itu, ia meminta perpustakaan tidak hanya menjadi tempat menyimpan buku.
“Jangan hanya jadi simbol perpustakaan, tetapi harus bermanfaat,” tegasnya.
Menurutnya, perpustakaan dapat menjadi ruang bagi anak muda untuk belajar, berdiskusi, berkarya hingga mengembangkan kreativitas.
Grengseng berharap kegiatan tersebut mampu mendorong generasi muda semakin dekat dengan pengetahuan.
“Cakrawala ilmu pengetahuan itu dimulai dari literasi,” katanya.
“Jangan pernah bosan, mari kita bangun literasi sebagai cakrawala ilmu pengetahuan untuk masa depannya,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Magelang Azis Amin Mujahidin mengatakan GEMILANG FEST menjadi momentum untuk menumbuhkan budaya membaca, memperluas akses pengetahuan, dan memperkuat kolaborasi.
Festival tersebut menghadirkan pameran buku, expo perpustakaan desa dan komunitas literasi, workshop, gelar wicara hingga pementasan karya literasi.