Penumpang dari China Terpaksa Lewat Bali Imbas Bandara Soetta Ditutup
Dwi Rizki September 08, 2026 01:35 AM

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Penutupan Bandara Internasional Soekarno-Hatta akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau membuat sejumlah penumpang dari luar negeri harus mengubah rute perjalanan menuju Jakarta.

Salah satunya seorang Warga Negara Indonesia (WNI) yang sebelumnya berada di China dan hendak menuju Jakarta.

Penerbangan yang semula dijadwalkan dari China menuju Jakarta akhirnya dialihkan ke Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali, karena Bandara Soekarno-Hatta ditutup.

Penumpang tersebut kemudian melanjutkan perjalanan dari China menuju Bali terlebih dahulu sebelum menuju Jakarta.

"Dua hari ini, Minggu (6/9/2026) sampai Senin (7/9/2026), hampir semua maskapai penerbangan dari luar negeri menunda penerbangan ke Indonesia," ujarnya saat dihubungi pada Senin (7/9/2026) malam.

Setelah mendapat informasi bahwa Bandara Soekarno-Hatta akan kembali dibuka mulai Selasa (8/9/2026) pukul 00.01 WIB, ia kemudian mencari penerbangan lanjutan dari Bali menuju Jakarta.

Ia pun memesan tiket Garuda Indonesia secara online untuk penerbangan dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Ia dijadwalkan terbang dari Bali menuju Jakarta pada Selasa (8/9/2026) siang pukul 13.25  WIB.

"Kami mestinya tadi malam jam 19.20 take off dari China ke Soetta. Lalu tertunda 1 hari. Karena sampai siang tadi belum ada indikasi Soetta dibuka, maka jam 02.00 ini terbang dari Bandara Baiyun Guangzhou ke Ngurahrai Bali," ungkapnya.

Garuda Indonesia Kembali Layani Penerbangan

Dalam siaran tertulis, Garuda Indonesia menyatakan kembali melayani penerbangan dari dan menuju Jakarta secara bertahap setelah operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta kembali dibuka.

Pelayanan penerbangan tersebut mulai dilakukan pada Selasa (8/9/2026) pukul 00.01 WIB.

Garuda Indonesia memastikan setiap penerbangan hanya dioperasikan setelah melalui asesmen keselamatan dan inspeksi kelaikan pesawat terkait potensi dampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Proses tersebut juga dilakukan berdasarkan hasil koordinasi dengan otoritas terkait.

"Setiap penerbangan dioperasikan setelah melalui asesmen keselamatan dan inspeksi kelaikan pesawat terhadap potensi dampak sebaran abu vulkanik, serta berdasarkan hasil koordinasi dengan otoritas terkait," demikian keterangan resmi Garuda Indonesia yang diperbarui pada Senin (7/9/2026) pukul 19.30 WIB.

Garuda Indonesia juga mengimbau penumpang yang memiliki tiket penerbangan mulai pukul 00.01 WIB pada Selasa (8/9/2026) untuk datang ke bandara tiga jam sebelum jadwal keberangkatan.

Imbauan tersebut disampaikan untuk memastikan proses perjalanan berjalan lancar di tengah dimulainya kembali operasional penerbangan secara bertahap.

Sebelumnya, operasional Bandara Internasional Soekarno-Hatta terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Garuda Indonesia menyatakan keselamatan penumpang tetap menjadi prioritas dalam setiap keputusan pengoperasian penerbangan.

Maskapai juga menyampaikan apresiasi kepada para penumpang atas pengertian dan kepercayaan selama kondisi operasional penerbangan terdampak sebaran abu vulkanik.

"Keselamatan Anda, prioritas kami," demikian pernyataan Garuda Indonesia

Perpanjangan penutupan tersebut disampaikan AirNav Indonesia melalui pembaruan Notice to Airmen (NOTAM) A3387/26 atau NOTAMR A3373/26.

Berdasarkan NOTAM terbaru, Bandara Internasional Soekarno-Hatta (WIII) masih berstatus closed akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Penutupan berlaku mulai pukul 17.33 WIB pada Senin (7/9/2026), dengan estimasi bandara kembali dibuka pada pukul 23.59 WIB di hari yang sama.

Pembaruan ini menggantikan NOTAM A3373/26 yang sebelumnya menetapkan periode penutupan hingga estimasi pukul 18.00 WIB.

AirNav Indonesia menyebut penyesuaian periode penutupan dilakukan sebagai langkah mitigasi dengan mempertimbangkan kondisi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung keselamatan penerbangan, khususnya dengan mempertimbangkan kondisi ruang udara di sekitar wilayah terdampak abu vulkanik.

"Penyesuaian periode penutupan tersebut merupakan langkah mitigasi untuk mendukung keselamatan penerbangan dengan mempertimbangkan kondisi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau," demikian keterangan AirNav Indonesia, Senin (7/9/2026).

AirNav Indonesia terus memantau perkembangan kondisi ruang udara dan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Informasi aeronautika juga akan terus diperbarui menyesuaikan perkembangan kondisi aktual serta informasi terkait keselamatan penerbangan.

Selain itu, AirNav Indonesia berkoordinasi dengan para pemangku kepentingan penerbangan untuk memastikan informasi mengenai kondisi ruang udara dan pelayanan navigasi penerbangan dapat tersampaikan secara tepat waktu.

Dengan adanya pembaruan NOTAM tersebut, pengguna jasa penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta diimbau memperhatikan informasi terbaru terkait jadwal dan operasional penerbangan dari maskapai maupun otoritas bandara.

Mengapa Bandara Soekarno-Hatta Ditutup

Harapan ribuan penumpang yang telantar di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) sempat melambung pada Senin (7/9/2026) pagi.

Udara tampak bersih, dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membawa kabar melegakan:

Bandara Soetta dinyatakan bersih dari paparan abu vulkanik mematikan Gunung Anak Krakatau.

Namun, mengapa jadwal penerbangan tak kunjung dibuka?

Di balik ruang tunggu terminal yang membeludak oleh antrean reschedule dan refund, nyawa penumpang tetap menjadi garis merah yang tak bisa ditawar oleh otoritas penerbangan.

Bukti Bebas Abu dan Inovasi BMKG

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam Rapat Terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto yang ditayangkan Kompas TV, Senin (7/9/2026), menegaskan bahwa hasil pengujian berlapis menunjukkan kondisi udara di sejumlah bandara vital mulai berangsur normal.

"Ada empat bandara yang posisi dari pengamatan paper test menunjukkan hasil negatif, yaitu di Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Husein Sastranegara, dan Budiarto Curug," papar Faisal.

Khusus untuk Bandara Soetta, hasil tes bahkan dikonfirmasi negatif sebanyak empat kali berturut-turut.

Untuk meredam kebingungan publik, BMKG juga merilis situs web Aviation Weather Station.

Melalui platform real-time ini, masyarakat bisa memantau langsung bandara mana saja yang ditutup dan sampai kapan penutupan berlangsung, sehingga penumpang tidak perlu datang ke bandara hanya untuk mendapati penerbangan mereka dibatalkan.

Angin Berubah Arah: Alasan Soetta Tetap Lumpuh

Meski landasan pacu Soetta telah bersih dari debu kelabu, Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi memiliki alasan krusial mengapa gembok operasional di gerbang utama Indonesia itu belum dibuka.

Jawabannya ada pada pergerakan arah angin yang tidak bisa ditebak.

Baca juga: Bandara Soetta Lumpuh Imbas Abu Krakatau: Ratusan Jadwal Batal, Maskapai Tekor Rp19 Miliar Sehari!

"Kami tidak langsung serta-merta membuka (Bandara Soetta). Kami ingin memastikan betul, karena kemarin terjadi perubahan arah angin yang semula bergerak dari Barat ke Timur, kini berubah lagi," tegas Menhub Dudy.

Hingga Senin (7/9/2026), baru Bandara Atung Bungsu (PXA) di Pagar Alam, Sumatera Selatan, yang resmi dibuka kembali.

Sementara itu, 7 bandara berikut masih berstatus ditutup sementara:

 * Bandara Internasional Soekarno-Hatta (CGK), Tangerang

 * Bandara Halim Perdanakusuma (HLP), Jakarta

 * Bandara Radin Inten II (TKG), Lampung

 * Bandara Budiarto (RTO), Curug, Tangerang

 * Bandara Pondok Cabe (PCB), Tangerang Selatan

 * Bandara Husein Sastranegara (BDO), Bandung

 * Bandara Taufik Kiemas (TFY), Pesisir Barat

Efek Domino: 373 Penerbangan Berantakan

Keputusan berat ini bukannya tanpa konsekuensi.

Ditjen Perhubungan Udara mencatat, abu vulkanik Anak Krakatau telah menciptakan efek domino yang luar biasa terhadap rotasi pesawat udara di seluruh negeri.

Sebanyak 373 penerbangan terdampak secara nasional.

Di Bandara Soetta saja, penutupan ini mengandaskan 209 pergerakan pesawat dan membuat nasib 22.798 penumpang terkatung-katung.

Keselamatan memang mahal harganya.

Untuk saat ini, para penumpang dan maskapai hanya bisa bersabar menanti alam kembali bersahabat, sembari memantau pembaruan status penerbangan secara berkala.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.