8 Tahun Terakhir: Morowali Utara Juara Kebakaran Hutan di Sulteng, Tembus 15 Ribu Hektar
Regina Goldie September 08, 2026 04:08 PM

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Robit Silmi

TRIBUNPALU.COM, PALU - Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terus membayangi wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng). 

Berdasarkan rekaman data historis Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Sulteng selama 8 tahun terakhir (2019 hingga Agustus 2026), Kabupaten Morowali Utara memegang rekor kelam sebagai daerah dengan akumulasi kerusakan lahan terluas di Sulteng.  

Selama periode 2019–2026, akumulasi luasan karhutla di Morowali Utara menembus angka fantastis, yakni 15.172,64 Hektar. 

Angka ini menjadikan Morowali Utara sebagai "juara" wilayah terdampak paling parah, menyumbang hampir sepertiga dari total keseluruhan kebakaran hutan di Sulawesi Tengah.  

Secara akumulatif nasional/provinsi, total area yang terbakar di Sulteng dalam kurun waktu 8 tahun tersebut telah mencapai 48.425,40 Hektar.  

Baca juga: DSLNG Salurkan Dukungan Budaya dan Olahraga untuk Masyarakat Nambo

Top 3 Kabupaten Terparah (2019–2026)

Data rekapitulasi Dishut Sulteng mencatat tiga kabupaten teratas yang mendominasi angka kebakaran hutan di Sulawesi Tengah:  

 1. Morowali Utara: 15.172,64 Hektar  

 2. Kabupaten Poso: 11.752,83 Hektar  

 3. Kabupaten Tojo Una-Una: 8.343,42 Hektar  

Lonjakan kebakaran paling masif di Morowali Utara terjadi pada tahun 2023 dengan luasan mencapai 4.293,77 hektar dalam satu tahun saja, disusul tahun 2019 seluas 2.578 hektar, dan tahun 2022 seluas 2.181 hektar.  

Baca juga: Layanan Metrologi Legal Perdana Dibuka di Morowali, Alat Ukur Perdagangan Mulai Diperiksa

Tahun 2026: Morowali Utara Kembali Pimpin Angka Karhutla

Dominasi Morowali Utara masih berlanjut hingga tahun 2026. 

Berdasarkan pemantauan hotspot dan identifikasi lapangan periode Januari hingga Agustus 2026, dari total 3.138,08 hektar lahan terbakar di Sulteng, Morowali Utara menyumbang angka terbesar yaitu 1.832,86 Hektar.  

Kepala Dinas Kehutanan Sulteng, Susanto Wibowo, menjelaskan bahwa maraknya karhutla di daerah tersebut sangat dipengaruhi oleh pembersihan lahan perkebunan masyarakat dengan cara dibakar, yang diperparah oleh kemarau panjang serta angin kencang.  

"Aktivitas pembukaan kebun dengan cara dibakar masih menjadi pemicu utama. Dampaknya menyasar area perkebunan warga hingga kawasan hutan produksi," ungkap Susanto, Selasa (8/9/2026).  

Baca juga: Komisi IV DPRD Sulteng Angkat Bicara Soal Polemik Penonaktifan Pimpinan PGRI Parimo

Posko Taktis dan Penguatan Penanganan

Untuk meredam laju kerusakan yang makin meluas di titik rawan tersebut, Dishut Sulteng menetapkan Morowali Utara sebagai salah satu wilayah prioritas penanganan.  

Melalui kerja sama dengan Balai Pengendalian Karhutla Wilayah Sulawesi, Pemprov Sulteng menyiagakan Posko Siaga V khusus wilayah Morowali Utara dan Morowali. 

Penanganan di lapangan mengandalkan kolaborasi tim gabungan yang terdiri dari Polhut, Penyuluh, Manggala Agni, TNI-Polri, BPBD, serta kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA). (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.