TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Puluhan siswa di Kapanewon Jetis, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, mengalami mual, pusing, dan diare seusai mengonsumsi makan bergizi gratis (MBG) dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Patalan 2 yang didistribusikan pada Jumat (4/9/2026).
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Bantul, Hermawan Setiaji, menyampaikan, sejauh ini baru ada satu laporan yang diduga mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi MBG. Kejadian itu dialami oleh guru dan siswa SD Negeri 1 Sumberagung, Kapanewon Jetis.
Data berbeda diungkap oleh pihak SD Negeri 1 Sumberagung. Salah satu pihak sekolah yang enggan dibeberkan identitasnya, menjelaskan, saat pembagian MBG berlangsung pada Jumat (4/9/2026), sebenarnya ada guru yang mulai curiga karena dalam ompreng yang sama kondisi galantin teksturnya berbeda.
"Siang harinya pulang sekolah ada murid yang diare, sakit perut, dan pusing. Namun wali menganggap siswa hanya masuk angin," ujar dia.
Selanjutnya pada Minggu (6/9/2026), salah satu guru ada yang izin untuk menitipkan kelas ke guru kelas 4B dikarenakan pusing, mual, muntah, diare, dan lemas hingga sulit bangun dan bercerita ke guru lain (dugaan sementara karena mengonsumsi MBG, karena tidak mengonsumsi makanan lain).
"Kemudian, guru kelas 6B menanyakan ke grup wali siswa apakah ada yang mengalami keluhan setelah Jumat kemarin. Ternyata terdapat sembilan siswa kelas 6B terdapat yang mengalami hal serupa," bebernya.
Kepala sekolah menginstruksikan untuk mendata di masing masing group kelas jika ada anak yang mengalami keluhan. Semua guru/wali kelas mengonfirmasi ke grup kelas masing-masing.
Setelah didata, terdapat 53 orang terdiri atas 50 siswa dan tiga guru yang mengalami hal serupa. Lalu pihak kepala sekolah menyampaikan agar anak yang sakit segera berobat ke rumah sakit/klinik, dan Puskesmas terdekat. Kepala sekolah menindaklanjuti dengan melaporkan ke SPPG terkait. SPPG meminta sekolah mendata nama siswa terdampak dan alamat untuk didatangi.
"Pada Senin (7/9/2026) kemarin, banyak siswa yang tidak berangkat karena sakit perut dan diare. Siswa yang berangkat juga masih banyak yang mengeluh sakit perut, mual, dan diare. Sekitar 18 anak sempat menjalani pemeriksaan di sekolah. Kemudian guru juga ada yang mengantar satu per satu murid ke rumah," karena murid masih sakit, papar dia.
Beberapa siswa dan guru ada yang sempat menjalani perawatan di rumah. Namun, per Selasa ini, baru ada sekitar 16 siswa dan dua guru yang masuk sekolah. Beberapa lainnya masih izin tidak masuk. Dua siswa di antanya masih menjalani perawatan di Puskesmas Jetis 1 dan RS PKU Bantul. Lalu satu guru belum masuk dan menjalani perawatan di rumah.
"Setelah kejadian itu, per hari Senin kemarin kami meminta untuk tidak didistribusikan MBG. Kami juga sudah mengonfirmasi dan bertanya kepada wali murid, hasilnya pelaksanaan MBG sementara ini disetip. Karena kami masih trauma dengan kejadian kemarin," terangnya.
Selain itu, pihaknya juga tengah membuat surat pernyataan untuk tidak menerima MBG dari SPPG tersebut. Sebagai gantinya, orang tua/wali murid disarankan membawakan bekal untuk masing-masing anak. Demi fokus penyembuhan siswa, pada hari ini pelaksanaan belajar mengajar hanya dilakukan sampai pukul 12.00 WIB.
"Kami juga sudah berkoordinasi dengan SPPG terkait. Katanya, pihak SPPG akan membantu membayar biaya pengobatan siswa dan guru yang mengalami gejala diduga keracunan MBG," papar dia.
Sementara, Hermawan Setiaji menjelaskan tindak lanjut atas peristiwa dugaan keracunan MBG tersebut. Ia mengatakan petugas telah berusaha mengambil sampel makanan untuk diperiksa.
"Untuk sampel menu di sekolah kan sudah habis karena MBG dibagikan pada Jumat. Kemudian, kami ambil sampel mateng di SPPG-nya. Karena SPPG kan ada kewajiban untuk menyimpan sampel di kulkas. Waktu penyimpanan sampai kapan saya kurang paham," katanya, saat dihubungi Tribunjogja.com, Selasa (8/9/2026).
Disampaikannya, dalam menu MBG yang dibagikan tersebut terdapat potato wedges, buah semangka, sayur buncis wortel, tempe garit, hingga bistik galantin. Sampai saat ini, pihaknya belum bisa menduga makanan apa yang menyebabkan puluhan orang di SD Negeri 1 Sumberagung mengalami keracunan.
Hanya saja, berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, kasus keracunan MBG kerap ditemukan dari olahan menu. Sebagai langkah antisipasi, pihaknya tengah berupaya mengusulkan pihak SPPG menyajikan makanan tidak langsung dikemas ke masing-masing ompreng melainkan dikemas secara prasmanan.
"Dari beberapa kasus itu kan, salah satu sebabnya karena jeda waktu antara selesai memasak sampai didistribusikan atau dimakan cukup panjang. Nah, kami ingin kalau Badan Gizi Nasional (BGN) mengizinkan, ada beberapa SPPG yang dilakukan pilot project menyajikan menu tidak langsung diompreng melainkan dibuat prasmanan," ucap Hermawan.
Metode penyajian makanan secara prasmanan ini dinilai memangkas jeda waktu antara selesai memasak sampai didistribusikan atau dimakan oleh penerima manfaat MBG. Dalam waktu dekat ini, pihaknya akan melakukan evaluasi untuk dilakukan uji coba penyajian MBG secara prasmanan atau tidak langsung dibagikan lewat ompreng tertutup.
"Ya memang nanti dari SPPG dan pihak sekolah agak repot sedikit. Tapi itu demi keamanan lah. Karena kita lihat di sekolah rakyat itu, mereka buat makanan banyak tapi baik-baik saja. Makanan Jawa seperti nasi rames terus Warteg itu aman-aman saja. Maka penyajian menu dalam bentuk prasmanan ini akan kami usulkan dulu," terang dia.
Sebagai antisipasi kejadian serupa, pihaknya akan melakukan komunikasi terhadap BGN untuk memberikan sanksi yang terhadap pihak SPPG Patalan 2. Sebab, kejadian diduga keracunan MBG sudah berulang yang kedua kalinya. Di mana, pada beberapa waktu lalu terdapat kejadian serupa di SPPG Patalan 2.
"Kami akan komunikasi dengan BGN agar ada sanksi yang tegas lagi. Karena ini kan sudah berulang. Tapi, memang hari ini di SPPG tersebut sudah tidak beroperasi, sudah diberhentikan. Begitu mendapatkan informasi kejadian diduga kercunan MBG itu, per Senin mungkin sudah off (tidak beroperasional sementara)," papar Hermawan.
Kendati begitu, BGN akan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap SPPG Patalan 2 sebelum akhirnya diberikan putusan apakah dilakukan pemberhentian operasional sementara dengan catatan harus ada perbaikam atau diberikan sanksi tutup permanen.
Di sisi lain, berdasarkan pantauan Tribunjogja.com di SPPG Patalan 2, terpantau tidak terdapat aktivitas, melainkan hanya ada beberapa kendaraan pegawai dan kendaraan distribusi MBG yang terparkir di depan SPPG Patalan 2.
Salah satu karyawan SPPG Patalan 2 yang enggan dibeberkan namanya, tidak banyak memberikan komentar. Namun ia menyampaikan bahwa saat ini, SPPG Patalan 2 sedang tutup operasional sementara dan sedang dilakukan evaluasi bersama.
"Saat ini kami sedang melakukan evaluasi. Kami belum bisa memberikan banyak komentar. Nanti, jika sudah ada hasil pembahasan akan kami sampaikan melalui akun Instagram resmi kami di @sppgbantuljetispatalan2," tandas dia.(nei)