Dulu Tempat Ramai Orang Cari Barang, Begini Nasib Klitikan Niten di Era Digital
Joko Widiyarso September 08, 2026 04:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM - Pasar Klitikan Niten di Kabupaten Bantul masih menunjukkan denyut aktivitas meski terhimpit oleh masifnya tren belanja online dan dampak ekonomi pascapandemi.

Menggelar lapak secara spesifik mulai pukul 18.00 hingga 21.00 WIB, pasar ini menawarkan suasana malam yang khas.

Di lorong-lorong lapaknya, interaksi tatap muka, seni tawar-menawar, hingga fleksibilitas bertransaksi menjadi daya tarik utama yang tidak bisa direplikasi oleh layar gawai.

Pasar ini membuktikan diri mampu bertahan sebagai ruang interaksi sosial sekaligus sarana jual beli alternatif bagi masyarakat.

Kondisi lesunya perputaran ekonomi dirasakan langsung oleh Pilip, seorang penjual cincin dan barang lawas.

Ia menjajakan ragam cincin hingga batu akik dari para pengepul dengan kisaran harga sangat terjangkau mulai Rp12.000 hingga Rp15.000.

Pilip juga tak menyangkal adanya kelesuan pembeli belakangan ini.

"Sepi saiki. Mboten ngerti nopo niki, nopo pengaruh ekonomi nopo pripun mboten semerap (Sepi sekarang. Tidak tahu kenapa ini, apa pengaruh ekonomi apa bagaimana, tidak tahu)," ungkapnya.

Meski pengunjung tak menentu, ada satu hal unik yang membuat lapak Pilip dan pasar klitikan secara umum tetap hidup adalah fleksibilitas transaksi non-tunai.

Pilip mengaku pertukaran barang dengan sesama pedagang atau kolektor masih sering terjadi, sebuah praktik ekonomi yang jelas tidak difasilitasi oleh aplikasi toko online.

"Kadang barternan, nggih ngoten niku wonten (Kadang barter, ya seperti itu juga ada),” tegasnya.

Sensasi kebebasan berbelanja fisik ini juga yang membuat Marti, pedagang buku bekas dan lawasan yang telah berjualan sejak tahun 2010, tidak menutup tokonya.

Marti sebenarnya sudah beradaptasi dengan era digital dengan membuka toko online bernama TB Narindra di Tokopedia dan Shopee.

Di ranah digital, ia berfokus menjual buku-buku orisinal dengan kondisi prima.

Namun, Marti menilai pasar fisik memiliki kebebasan observasi yang paling dicari konsumen.

"Kalau di sini kan orang mau lihat, mau yang KW, mau yang apa, bisa megang, bisa," jelasnya.

Marti membeberkan alasan utama mengapa Pasar Klitikan Niten pantang mati, bahkan tidak pernah tutup total saat pandemi Corona melanda.

Berbelanja di klitikan pada dasarnya bukanlah pemenuhan urgensi kebutuhan pokok layaknya pasar tradisional biasa, melainkan arena rekreasi.

"Kalau di sini kan paling orang jalan-jalan, ada yang bagus cocok beli," terang Marti.

Sensasi "jalan-jalan" mencari majalah lawas seperti Joko Lodang, novel, komik, maupun buku kuno yang halamannya sudah kecoklatan memberikan sensasi berburu harta karun bagi pelajar maupun mahasiswa.

Keberadaan pasar ini sejalan dengan ketekunan para pedagangnya.

Hal ini dibuktikan oleh Marti yang konsisten memilih repot melakukan sistem kulakan mandiri daripada sekadar menerima barang titipan.

Pada akhirnya, Pasar Klitikan Niten tetap bertahan bukan sekadar menjadi tempat mencari barang, melainkan ruang interaksi dan rekreasi yang tak bisa dilakukan lewat layar gawai.

(MG Fauzan Ardana)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.