Karhutla di Sulteng Tembus 3.138 Hektar, Kadishut Minta Warga Jauhi Bakar Lahan
Regina Goldie September 08, 2026 04:08 PM

Laporan Wartawan TribunPalu.com, Robit Silmi

TRIBUNPALU.COM, PALU - Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) menetapkan status siaga terhadap ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). 

Langkah ini diambil seiring meningkatnya potensi kebakaran akibat cuaca ekstrem dan kemarau panjang.

Kemarau di Sulteng dipicu oleh fenomena El Nino yaitu pemanasan suhu permukaan laut diatas normal.

BMKG sebelumnya memprediksi El Nino hingga akhir tahun 2026.

Akibatnya banyak lahan dan hutan disejumlah wilayah di Sulteng terbakar akibat rendahnya kadar air pada tumbuhan.

Kepala Dinas Kehutanan Sulteng, Susanto Wibowo, mengungkapkan akumulasi luas lahan yang terbakar di wilayah Sulawesi Tengah sejak Januari hingga Agustus 2026 telah mencapai 3.138,08 hektar berdasarkan data aplikasi Sipongi Kementerian Kehutanan.

"Catatan akumulasi dari Januari hingga Agustus mencapai lebih dari 3.000 hektar. Angka ini terbilang sangat tinggi dan menempatkan Sulteng di peringkat ke-13 secara nasional," ujar Susanto saat ditemui, Selasa (8/9/2026).

Baca juga: Tak Perlu Keluar Daerah, Pelaku Usaha di Morowali Kini Bisa Lakukan Tera Alat Ukur

5 Wilayah Rawan Karhutla di Sulteng

Berdasarkan pemantauan Dishut Sulteng, terdapat lima wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) yang memiliki potensi dan aktivitas Karhutla tertinggi:

 KPH Dampelas Tinombo (Paling marak saat ini)

 KPH Sipi 47 (Wilayah Ampana)

 KPH Sintuwu Maroso (Kabupaten Poso)

 KPH Tojo Una-Una / Tepe Asa Aroa (Morowali Utara)

 KPH Balantak

Untuk wilayah Kota Palu, potensi titik api (hotspot) terpantau di sekitar kawasan Poboya. 

Secara keseluruhan, data aplikasi Sipongi mencatat terdapat sekitar 1.300 hotspot di wilayah Sulteng.

Baca juga: Aksi Bergizi Digelar di SMPN 8 Sigi, Camat Tanambulava Dorong Kebiasaan Hidup Sehat

Lahan Perkebunan dan Pinus Turut Terbakar

Susanto menjelaskan, pemicu utama maraknya kebakaran ini adalah kombinasi musim kemarau panjang serta aktivitas pembukaan kebun oleh masyarakat dengan cara dibakar. 

Selain itu, kebiasaan membuang puntung rokok sembarangan di area kering turut memperparah kondisi.

Dampak kebakaran ini menyasar lahan produktif perkebunan milik warga serta kawasan tanaman pinus, khususnya yang berada di wilayah KPH Sintuwu Maroso, Kabupaten Poso.

Kesiapsiagaan Tim Gabungan dan Anggaran Penanganan

Guna mengantisipasi meluasnya dampak Karhutla, Dishut Sulteng telah membentuk dan menyiagakan Masyarakat Peduli Api (MPA) di seluruh UPT (13 KPH dan 1 Taman Hutan Raya).

Penanganan di lapangan dilakukan secara berkolaborasi melalui tim gabungan yang terdiri dari:

 Polhut dan Penyuluh Dishut Sulteng

 Manggala Agni (Kementerian Kehutanan / PPI)

 TNI dan Polri

 Masyarakat Peduli Api (MPA)

Baca juga: PLN UP3 Palu Ungkap Alasan Pemadaman Bergilir, Sebut Ada Pemeliharaan Sistem Kelistrikan

Meskipun saat ini penanganan masih mengandalkan peralatan sederhana seperti alat semprot tangan dan baju pelindung, Susanto menegaskan tekad personel di lapangan sangat tinggi untuk memadamkan api.

Terkait dukungan anggaran, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah telah menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Karhutla yang dipimpin langsung oleh Gubernur. 

Pemprov Sulteng siap menggelontorkan dana penanganan Karhutla yang nantinya disalurkan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah selaku ketua satgas penanganan bencana. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.