Diserang Tungro Saat Kemarau Panjang, Hasil Panen Padi di Sungai Lulut Banjarmasin Menyusut Tajam
Hari Widodo September 08, 2026 04:50 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Saat ini sudah mulai masuk masa panen padi di Banjarmasin, termasuk di wilayah Banjarmasin Timur.

Petani di Sungai Lulut tampak menuai hasil padi yang mereka tanam, Selasa (8/9/2026), persawahan di Sungai Lulut terletak di kawasan Sungai Lulut Dalam.

Di tengah musim kemarau panjang dan serangan penyakit tungro, proses panen kini telah memasuki hari terakhir.

Petani Sungai Lulut, Iwansyah menjelaskan, selama masa panen saat ini rata-rata menghasilkan lima ton gabah per hari.

Baca juga: Antisipasi Pertanian Kering saat Kemarau, Penanaman Padi di Banjarmasin Diuji Coba 1,5 Kali Setahun

"Untuk panen hari ini sekitar 50 kilogram, dan masih berlangsung, sebelumnya rata-rata 5 ton per hari. Panen tahun ini menyusut dari tahun sebelumnya karena kekeringan," ujarnya di sela panen.

Proses panen sudah mencapai dua pekan atau 14 hari, sehingga rata-rata gabah yang dihasilkan sekitar 70 ton.

Selama panen, pihaknya mengerahkan mesin pemanen modern Combine Bimo untuk menggenjot produksi. 

Ia mengaku, para petani ditarget mengelola selama lahan sebanyak 100 hektar dari Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Banjarmasin.

Namun, tantangan berat masih membayangi para petani lokal. Beberapa tahun terakhir hasil panen belum maksimal, sedangkan musim panen kali ini harus berhadapan dengan serangan penyakit tungro yang merusak struktur tanaman. 

Penyakit tungro tersebut mengisap nutrisi pada batang padi hingga menyebabkan tanaman menguning, kerdil, dan bulirnya menjadi kosong.

"​Kondisi itu berdampak signifikan pada penurunan volume hasil panen. Produksi gabah tercatat menyusut drastis hingga tersisa sekitar seperempat dari potensi panen normal," papar petani anggota Brigadir Pangan (BP) tersebut.

Ia mengungkapkan bahwa hampir seluruh kawasan lahan garapan terdampak penyakit tungro tersebut.

Iwansyah juga mengeluhkan adanya penyakit tungro itu kecil kemungkinan untuk bisa diatasi ketika sudah menyerang.

"Batangnya diisap sampai kosong dan mati, jadinya banyak yang tidak berbuah dan menguning. Hasil panen merosot drastis, hanya dapat sekitar seperempat dari biasanya," ujarnya.

Guna meminimalisasi dampak kekeringan akibat kemarau, pihak dinas telah menyalurkan bantuan operasional kepada para petani. 

Bantuan tersebut mencakup mesin pompa air, pasokan bahan bakar minyak jenis solar dan pertalite, hingga fasilitas alat dan mesin pertanian (alsintan).

​“Untuk mengatasi kekeringan, kami dibantu mesin pompa air beserta minyak solar dan pertalite dari dinas. Bantuan alsintan seperti Combine Bimo ini juga sangat membantu karena proses pemanenan jadi lebih cepat dan hasilnya bersih," tambahnya.

Kendala kemarau panjang dan serangan tungro memang dibenarkan Kepala Bidang Pertanian DKP3 Banjarmasin Jenderawati.

Ia menjelaskan, tungro tidak selalu menyebabkan tanaman mati. Namun, penyakit tersebut dapat membuat sebagian bulir padi tidak terisi sempurna.

Akibatnya, tanaman tetap menghasilkan, tetapi produksi yang diperoleh petani menurun.

"Tidak mematikan langsung, tetapi tetap menghasilkan. Produksinya berkurang karena bulirnya ada yang kosong," jelasnya.

Baca juga: Petani dan Distan Banjar Bersinergi Gempur Ancaman Walang Sangit di Sawah Sungai Rangas

Untuk menangani serangan penyakit tersebut, DKP3 menurunkan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) ke lapangan.

Pihaknya melakukan pemeriksaan setelah menerima laporan dari petani sekaligus memberikan penanganan awal agar serangan tidak meluas. (Banjarmasinpost.co.id/Mariana)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.