Pekerjaan Rendi Pembunuh Kakak Adik di Banyuasin, Sempat Bersumpah, Baru Nikah Sebelum Ditangkap
Weni Wahyuny September 08, 2026 05:01 PM

TRIBUNSUMSEL.COM – RS alias Rendi (27), menjadi dalang utama pembunuhan Rani (18) dan adiknya, Ayuhana (13), kakak beradik di Talang Kelapa, Banyuasin, yang sempat dilaporkan hilang sejak 27 Oktober 2021.

Rendi sendiri merupakan kekasih dari Rani yang yang sering berkunjung dan akrab dengan keluarga korban.

Selama lima tahun pencarian, aksi keji Rendi sama sekali tak tercium oleh pihak keluarga maupun warga sekitar. 

Belakangan diketahui, Rendi sehari-hari bekerja sebagai kuli bangunan.

Baca juga: Sadisnya Rendi Rencanakan Pembunuhan Adik-Kakak di Banyuasin, Ngaku Sakit Hati Cinta Tak Direstui

Rendi pun melanjutkan hidup seperti biasa dan baru menikah selama dua minggu sebelum akhirnya dibekuk petugas di wilayah Kenten, Kecamatan Talang Kelapa.

Sementara, kepercayaan pihak keluarga tersebut dibalas dengan pengkhianatan yang teramat menyakitkan setelah polisi menangkapnya dan rekannya, Andika atas pembunuhan berencana yang menewaskan dua saudara perempuan tersebut.

Sempat Ikut Yasinan 

Untuk menutupi jejaknya dan mengelabui keluarga korban, Rendi berpura-pura tenang, ikut mencari keberadaan korban, hingga tak pernah absen menghadiri pengajian dan tahlilan di rumah duka.

Ibu korban, Helmi Nursidah (50), mengaku sangat terpukul karena pelaku merupakan sosok yang sudah dianggap seperti bagian dari keluarga sendiri.

"Memang sering ke rumah, akrab ke rumah. Bahkan sebelum kejadian itu kalau datang istilahnya apellah, makan minum di rumah," ujar Helmi saat diwawancarai TribunSumsel.com, Senin (7/9/2026).

Sikap Rendi yang sangat tenang selama bertahun-tahun sama sekali tidak mengundang kecurigaan.

"Pas hilang itu melok (ikut) nyari juga dia. Yang dikagetkan seluruh warga dan keluarga ini, kita yasinan dia melok yasinan, kita tahlilan melok tahlilan. Seakan tidak terjadi masalah," kata Helmi.

"Dia datang cuma duduk bae (saja), melok yasinan. Wajahnya tenang, jadi seolah-olah bukan dia pelakunya," tuturnya lagi.

Baca juga: Melihat Lokasi Penemuan 2 Kerangka Kakak-Adik di Banyuasin Tewas Dibunuh, 5 Tahun Baru Terungkap

Saat dicecar oleh keluarga korban, Rendi secara tegas menyatakan berani bersumpah bahwa dirinya tidak terlibat sama sekali dalam peristiwa menghilangnya sang kekasih dan adiknya.

Namun, kebohongan yang dirawat Rendi terhenti setelah seorang warga bernama Rohani alias Otong secara tidak sengaja menemukan bangkai sepeda motor korban di dalam parit pada Minggu (6/9/2026) sekitar pukul 10.12 WIB.

Temuan itu langsung ditindaklanjuti Ketua RT Heri Fauzi dan pihak kepolisian hingga ditemukannya dua kerangka manusia di rumah kosong yang berjarak sekitar 10 meter dari parit.

Motif Sakit Hati Tak Direstui dan Kronologi Pembunuhan

Kasat Reskrim Polres Banyuasin AKP Shandy Kharisma, mengungkapkan bahwa motif pembunuhan sadis ini dipicu rasa sakit hati Rendi lantaran hubungannya dengan Rani tidak direstui keluarga.

"Hubungan keduanya diduga tidak mendapat restu keluarga, sehingga muncul rasa sakit hati dari pelaku RS. Dari rasa sakit hati karena tidak direstui, pelaku dendam hingga berencana melakukan pembunuhan terhadap korban," kata Shandy, Selasa (8/9/2026).

Aksi pembunuhan tersebut telah direncanakan secara matang.

Rendi dan Andika sempat menginap di rumah kosong lokasi eksekusi.

Pada pagi hari, mereka memasang balok kayu di jalan untuk menghadang sepeda motor yang dikendarai Rani dan Ayuhana saat hendak berangkat sekolah.

"Korban Ayu berusaha melarikan diri, akan tetapi dikejar tersangka Andika. Saat itulah, korban ditikam tersangka Andika di bagian leher hingga membuat korban Ayu meninggal dunia," jelas Shandy.

Baca juga: 7 Fakta Pembunuhan Kakak-Adik di Banyuasin Ditemukan Tinggal Kerangka, Pacar Korban Sempat Akting

Setelah membunuh Ayuhana, Rendi menyeret Rani ke dalam rumah kosong. Di sana sempat terjadi adu mulut ketika Rendi kembali mengajak Rani untuk menikah.

"Mendengar apa yang diungkapkan korban Rani, membuat pelaku Rendi naik pitam dan menusuk korban Rani di bagian dada sebanyak satu kali," lanjutnya.

"Penusukan itu membuat korban Rani meninggal di lokasi kejadian. Setelah itu, pelaku membuang sepeda motor korban di aliran air dekat perumahan dan meninggalkan kedua korban di dalam rumah kosong dengan kondisi sudah meninggal dunia," pungkas Shandy.

Keluarga Tuntut Hukuman Maksimal

Pertemuan antara pihak keluarga korban dan Rendi di kantor polisi dipenuhi tangis dan emosi.

Ibu korban, Helmi, mengaku syok hingga pingsan karena tak mengira pelaku adalah orang dekat yang mereka percayai.

"Semalam pas ketemu langsung, dak sadar lagi saya, kepengin ngantam (memukul). Geram sekali karena dia yang dipercaya, tidak menyangka sama sekali," ungkap Helmi.

Keluarga korban berharap aparat penegak hukum memberikan sanksi seberat-beratnya kepada Rendi dan rekannya atas perbuatan kejam yang tersembunyi selama lima tahun tersebut.

"Bila perlu nyawa balik nyawa, tengkorak pulang tengkorak. Kami minta hukumannya ditambah dan dijatuhi hukuman maksimal," tegas Helmi.

(*)

Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.