TRIBUNSUMSEL.COM -- Pernyataan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ulta Levenia Nababan, memicu kontroversi publik.
Akademisi di bidang kontraterorisme ini melontarkan pandangan pribadi yang mempertanyakan apakah serangkaian bencana alam dan erupsi gunung berapi di Indonesia belakangan ini murni fenomena alam, atau justru hasil manipulasi teknologi canggih High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP) milik militer Amerika Serikat.
Lewat unggahan di laman instagram pribadinya yang membagikan perbincangan di kanal YouTube Bukan Kaleng-Kaleng, dengan beberapa narasumber lain, Ulta mempertanyakan rentetan peristiwa tersebut yang terjadi pasca-pertemuan diplomasi Presiden RI di Rusia.
Dalam unggahan tersebut Ulta mengungkapkan alasannya mengangkat isu sensitif tersebut.
Ia mengaku tidak ingin menelan bulat-bulat penjelasan formal mengenai bencana yang terjadi secara berturut-turut.
"HAARP atau Beruntun bencana alam ini mungkin memang terjadi secara natural, memang kejadian alam yang harus kita terima. Tapi karna saya orangnya skeptis banget, gak mau terima dengan penjelasan yang biasa dan lumrah HARUS diterima. Maka ada alternative lain kemungkinan besar akan digolongkan ke teori konspirasi," tulis Ulta di akun Instagram pribadinya, dikutip Tribunsumsel.com, Selasa (8/9/2026).
Menurut Ulta, kecurigaan publik terhadap proyek riset ionosfer tersebut tidak muncul tanpa alasan.
Sejarah mencatat fasilitas pemancar radio frekuensi tinggi di Alaska itu pada awalnya didanai oleh instansi militer seperti US Air Force, US Navy, dan DARPA, yang kemudian memicu spekulasi global mengenai kemampuan merekayasa cuaca hingga kondisi tektonik.
"Tapi toh terbukti konspirasi sebagian besar adalah fakta yang tertunda. Kalau di Amerika umurnya konspirasi 20-40 tahun tergantung kapan sebuah project ditutup/selesai dan sudah bisa untuk disclosed to public," lanjutnya di Instagram.
"HAARP ini sering dikaitkan dengan teori konspirasi karena memang awalnya didanai oleh US Air Force, US Navy dan DARPA (Defense Advanced Research Projects Agency). Walau tdk ada bukti ilmiah, tapi banyak spekulasi bahwa Project HAARP bisa mengendalikan cuaca, membuat badai hingga gempa bumi," urainya menambahkan.
Selain keterangan dalam unggahan instagramnya, pada video yang diunggah lewat akun Youtube Bukan Kaleng Kaleng, Ulta memaparkan pengamatannya terhadap dinamika politik nasional dan fenomena alam yang dinilainya terlalu runtut untuk sekadar disebut kebetulan.
Ia menilai berbagai tekanan politik, isu demonstrasi, hingga fenomena alam di bulan Agustus dan September memiliki pola yang saling terhubung.
"Emang jadi Pak Prabowo nih kata gua sih berat banget ya karena ee misal Agustus ini kalau misal gua dibilang konspiratif lah gitu kan, tapi banyak banget hal-hal yang menurut gua tuh terlalu terlalu kentara untuk dibilang itu kebetulan gitu loh," ujar Ulta dalam tayangan di kanal YouTube Bukan Kaleng-Kaleng, dikutip Tribunsumsel.com, Selasa (8/9/2026).
Untuk memperkuat dugaan skeptisnya, Ulta membandingkan situasi di Indonesia dengan beberapa peristiwa bencana besar di negara lain yang menurutnya terjadi tak lama setelah timbul gesekan diplomatik dengan negara adidaya.
Dari pengamatan terhadap pola-pola global tersebut, Ulta menyatakan keyakinannya bahwa serangkaian dinamika ini diatur oleh entitas tertentu, bahkan mengindikasikan adanya pergerakan kepentingan atau keterlibatan agen asing di balik situasi tersebut.
"Sehingga gua agak mungkin sekitar 73,5 persen gua kayak, 'Wah, ini pasti ada yang orkestrasi deh,' gitu," kata Ulta dalam keterangannya di laman youtube tersebut.
Isu pembahasan mengenai spekulasi keterlibatan asing dan analisis erupsi gunung berapi dalam sesi YouTube tersebut kemudian ditutup dengan ungkapan keprihatinannya atas situasi nasional pada menit ke-25:08.
"Iya, makanya bagi gua tuh agak aneh aja dan kasihan gua ngelihat kayak apa, [mendengus] wah ini negara mau dibikin kayak gimana banget sih gitu. Apa banget sih salahnya presiden nih? Salahnya apa banget sih sampai harus kayak gini gitu?" tutur Ulta menumpahkan keprihatinannya.
Puncak dari spekulasi tersebut kemudian ia tegaskan kembali lewat unggahan Instagram pribadinya, di mana Ulta mengaitkan waktu erupsi enam gunung api di Indonesia dengan momen diplomasi Presiden RI di Vladivostok, Rusia.
"Walau gak ada bukti ilmiah yg kredible, tapi otak skeptis pasti berfikir atau setidaknya entertain pemikiran, ‘Kenapa sehari setelah Presiden RI bersalaman mesra dg Putin di Vladivostok, 6 Gunung Vulkanik Indonesia Erupsi secara bersamaan?’ Yg curiga ttg ini bukan sy sendiri pasti, Jepang, China, dan Turkiye pernah punya kecurigaan yg sama. God Bless Indonesia," pungkasnya.
Asumsi yang diutarakannya dengan cepat memicu polemik di ruang publik.
Para ahli kebencanaan dan ilmu kebumian merespons tegas bahwa rentetan aktivitas vulkanik di Indonesia adalah keniscayaan geologis.
Indonesia yang berada di jalur Ring of Fire secara alami memiliki keaktifan gunung api yang dinamis, sehingga mengaitkannya dengan rekayasa teknologi buatan manusia dinilai sebagai bentuk disinformasi yang mengabaikan sains dasar.
Di sisi lain, kolom komentar akun Instagram Ulta Levenia dibanjiri kritik pedas dari masyarakat yang menganggap asumsinya terlalu jauh dari kenyataan.
"Makin halu ini cewek.. segitu jilat nya." tulis salah satu warganet.
Sebagian warganet lain merasa heran karena fenomena bencana alam yang murni keniscayaan geologi justru dikaitkan dengan narasi politik.
"Alam aja disalahin ada gila gilanya juga nih," timpal pengguna lainnya.
Kritik tajam juga mengarah pada dinamika di lingkaran pemerintahan yang dianggap menyebarkan asumsi tidak berdasar kepada publik.
"G presiden nya , anak buah nya sama2 halu" tulis warganet lain.
Sindiran bernada satir turut disampaikan masyarakat yang menilai spekulasi tersebut sangat tidak masuk akal.
"Terlalu berat nih make nya," sindir seorang pengguna Instagram.
Tak hanya sekadar sindiran, warganet yang lebih kritis turut menyoroti latar belakang pendidikan Ulta.
Mereka mengingatkan pentingnya berbicara sesuai disiplin keilmuan, mengingat Ulta berlatar akademis ilmu politik dan hubungan internasional, bukan ilmu bumi atau geologi.
"Bicaralah sesuai keahlian, anda s1 lulusan ilmu politik, se humaniora. Trus tiba2 ngomongin soal geolog. Ibarat kata jadi dokter bedah tp buka tutorial youtube." tegas kritik warganet yang mengingatkan batas kapasitas keilmuan.
(*)
Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com