TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Seorang siswi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) asal Kabupaten Karo, Sumatra Utara, berinisial FP (16), mengalami penurunan kondisi kesehatan secara drastis hingga diduga mengalami gangguan ingatan.
Kondisi memprihatinkan tersebut dialami korban usai diduga mengalami keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Kamis (13/8/2026).
Saat ini, siswi SMK Bersama Berastagi tersebut tengah menjalani serangkaian pemeriksaan medis intensif dan rawat jalan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H Adam Malik, Kota Medan.
Ibu korban, Elvinus Lusiana Sitanggang (49), mengungkapkan awal mula peristiwa tragis yang menimpa buah hatinya.
Baca juga: UPDATE Korban Keracunan MBG di Jayapura 543 Orang, Bupati sebut Tersisa 8 Pasien Masih Dirawat
Menurutnya, FP menyantap hidangan MBG dengan menu lauk ikan tongkol yang terasa pahit dan keras karena merasa sangat lapar.
"Rasanya pahit dan keras, katanya. Tapi pikirnya kek gitu rasanya. Makan aja dia karena udah lapar," ujar Elvinus.
Usai menyantap makanan tersebut, FP mendadak pusing, mengalami gatal-gatal, muntah, hingga lemas sebelum akhirnya dilarikan ke Rumah Sakit Umum (RSU) Kabanjahe.
Selesai dirawat tiga hari dan diperbolehkan pulang, FP justru mengalami kejang berulang hingga harus berpindah-pindah rumah sakit, mulai dari RS Efarina Berastagi, RSU Haji, hingga akhirnya dirujuk untuk perawatan spesialis di RSUP Adam Malik Medan.
Tak Mengenali Keluarga dan Lidah Tertelan
Kondisi kesehatan FP dilaporkan terus memburuk dari hari ke hari.
Bahkan, korban kini mengalami hilang ingatan secara bertahap hingga tidak mampu mengenali keluarga serta teman sekolahnya.
"Lupa dia, misalnya bibinya kalau datang, ini siapa katanya. Kami kasih tahu lah, ini Bibi. Adik-adiknya juga gitu (gak ingat). Kawan-kawannya di sekolah datang pun gak kenal," ungkap Elvinus pilu.
Selain masalah ingatan, fisik korban juga terganggu pada bagian mulut.
Lidah FP tampak makin tertarik atau masuk ke dalam sehingga korban mengalami kesulitan saat berbicara.
"Karena lidahnya agak masuk, jadi makin susah ngomongnya," lanjutnya.
Ditangani 3 Dokter Spesialis
Humas RSUP H Adam Malik Medan, Rosario Dorothy, membenarkan pasien FP saat ini sedang menangani pemeriksaan kesehatan berkala melalui jalur rawat jalan.
Rosario menyebut, penanganan FP melibatkan tim medis dari tiga divisi spesialisasi berbeda untuk mengusut akar penyakit yang diderita pasien.
"Pasien ditangani dokter spesialis gastro anak, kemudian spesialis neurologi anak, serta psikiatri," kata Rosario.
Pada pemeriksaan terbaru, FP telah menjalani tes electroencephalography (EEG) untuk merekam aktivitas gelombang otak.
Baca juga: BEM Nusantara Kritik Guru Papua Dijadikan Tameng MBG dan Anak Jadi Objek Keracunan
Pihak rumah sakit belum menyimpulkan diagnosis pasti sebelum seluruh rangkaian tes laboratorium rampung.
"Belum bisa kita pastikan karena dari EEG ini nanti akan ada pemeriksaan-pemeriksaan lanjutan lagi untuk menegakkan diagnosa sebenarnya dia sakit apa," terangnya.
Sementara itu, Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Medan, Erdianta Sitepu, menegaskan pihaknya masih menunggu rilis medis resmi dari tim dokter RSUP Adam Malik terkait kepastian penyebab memburuknya kondisi FP. (*)
Sumber: Tribunnews.com