Liputan6.com, Jakarta - Kesehatan dan lingkungan menjadi dua hal yang semakin sulit dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang dikonsumsi, bagaimana makanan diolah, hingga cara sumber daya digunakan turut menentukan kualitas hidup dalam jangka panjang.
Hubungan antara kesehatan dan keberlanjutan lingkungan menjadi bagian dari perjalanan PT Ajinomoto Indonesia selama 57 tahun di Indonesia. Melalui pendekatan berbasis amino science, Ajinomoto mengembangkan berbagai upaya yang bersinggungan dengan kesehatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
“Purpose kami adalah memperkuat kesejahteraan yang berkelanjutan bagi manusia, masyarakat, dan bumi melalui amino science,” kata Head of Corporate Communications PT Ajinomoto Indonesia, Grant Senjaya, dalam Media Gathering di Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Salah satu topik yang dekat dengan keseharian adalah penggunaan garam saat memasak. Tubuh memang membutuhkan natrium, tetapi asupan yang berlebihan perlu diwaspadai karena dapat berkaitan dengan risiko tekanan darah tinggi.
Dari kebiasaan sederhana di dapur, Ajinomoto kemudian memperkenalkan gerakan bijak garam dengan pendekatan yang cukup sederhana yakni mengurangi penggunaan garam tanpa harus menghilangkan cita rasa makanan.
“Dengan mengurangi garam dan menambahkan Ajinomoto, rasa makanan tetap bisa dipertahankan, tetapi natrium dapat dikurangi hingga 30 persen. Sehingga kita bisa mengurangi risiko hipertensi,” ujarnya.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa perubahan pola makan tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Mengatur penggunaan garam saat memasak pun dapat menjadi salah satu langkah yang lebih mudah dilakukan secara konsisten.

Selain soal garam, memahami kebutuhan tubuh bisa menjadi langkah sederhana untuk mulai membangun pola makan yang lebih seimbang. Pengetahuan dasar soal gizi, termasuk mengenali Indeks Massa Tubuh (IMT), dapat membantu seseorang mendapatkan gambaran awal mengenai kondisi berat badan dibandingkan tinggi badan.
Upaya mengenalkan pengetahuan semacam ini juga dilakukan Ajinomoto melalui berbagai ruang edukasi, salah satunya Dapur Umami dan Visitor Center di Karawang. Di sana, masyarakat diajak mengenal lebih dekat berbagai hal seputar makanan, gizi, dan kebiasaan makan yang dapat diterapkan dalam keseharian.

Kepedulian terhadap kesejahteraan juga tidak bisa dilepaskan dari kondisi lingkungan. Apa yang terjadi setelah sebuah produk dibuat, termasuk bagaimana hasil samping proses produksi dikelola, menjadi bagian penting dari upaya menjaga lingkungan.
Upaya tersebut antara lain diwujudkan melalui Biocycle, dengan memanfaatkan kembali hasil samping proses produksi agar tidak berakhir sebagai limbah.
“Selain kegiatan kesehatan masyarakat, kami juga memiliki kegiatan untuk melestarikan bumi. Salah satu yang utama adalah Biocycle,” ujar Grant Senjaya.
Langkah serupa juga dilakukan dari sisi kemasan, antara lain dengan mengembangkan penggunaan plastik yang lebih efisien.
(*)