Menlu Rusia Sebut Eropa 'Ketakutan' terhadap Rencana Perdamaian Trump untuk Ukraina
Wahyu Gilang Putranto September 08, 2026 06:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov menyebut para pemimpin Eropa saat ini tengah "ketakutan setengah mati".

Ketakutan tersebut disebabkan oleh usulan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menyelesaikan konflik di Ukraina.

Menurut Lavrov, ketakutan tersebut memicu negara-negara Eropa anggota NATO berupaya keras menggagalkan inisiatif diplomasi Washington.

Lavrov menuduh Eropa sengaja menghalangi Trump untuk kembali ke gagasan kompromi yang sempat dibahas bersama Presiden Rusia Vladimir Putin di Anchorage, Alaska, tahun lalu, serta dalam pembicaraan telepon kedua pemimpin pada 4 Juli lalu.

"Eropa memahami bahwa jika AS tiba-tiba kembali ke proposal awalnya, seperti yang terjadi di Anchorage, Eropa menjadi sangat ketakutan setengah mati," ujar Lavrov, dikutip dari RT, Selasa (8/9/2026).

Ia menambahkan, para pemimpin Eropa "langsung bergerak cepat" membujuk Trump agar membatalkan inisiatif damainya sendiri.

Lavrov turut menyoroti pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron pada KTT NATO Juni lalu.

Menurutnya, Macron saat itu seolah menyombongkan diri bahwa inisiatif Anchorage telah "dikhianati dan dikubur".

Macron juga mengklaim bahwa Washington telah kembali sejalan dengan Eropa untuk membentuk front bersama melawan Rusia.

Menanggapi tindakan negara-negara Barat tersebut, Menlu Rusia itu menegaskan Moskow siap menghadapi situasi apa pun.

"Jika diplomasi Barat hanya bertujuan menahan negara-negara yang mengajukan inisiatif kompromi yang masuk akal dan seimbang, biarlah begitu," tegas Lavrov.

Baca juga: Serangan Drone Ukraina Hantam Saratov, Infrastruktur Sipil Rusia Rusak

Ia menambahkan, apabila jalan diplomasi ditutup, Rusia akan terus mengejar tujuannya di luar meja perundingan.

"Bukan di meja perundingan — yang sebenarnya lebih kami sukai — melainkan di medan perang," pungkasnya.

Zelenskyy Hati-Hati Soal Gagasan Utusan Trump

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy memberikan respons berhati-hati terhadap gagasan perdamaian terbaru yang dibawa oleh utusan khusus Trump.

Meski begitu, Zelenskyy menilai beberapa ide yang diajukan cukup menjanjikan untuk mengakhiri perang dengan Rusia.

Tetapi Zelenskyy mengaku belum yakin apakah proposal tersebut benar-benar dapat diimplementasikan di lapangan.

"Kita perlu memahami apakah kita dapat menerapkannya dan membuatnya efektif," tegasnya, dikutip dari Kyiv Independent.

"Saya belum tahu apakah itu akan berhasil," lanjutnya.

Meski enggan membeberkan isi rinci dari proposal rahasia AS tersebut, Zelenskyy memberi sinyal bahwa isu energi dan pasokan pangan memegang peranan kunci dalam potensi kesepakatan mendatang.

Menurutnya, kedua hal tersebut merupakan area paling sensitif baik bagi Ukraina maupun Rusia.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, salah satu poin baru yang dibahas dalam pertemuan tersebut adalah usulan gencatan senjata di udara.

Baca juga: Zelenskyy: AS Jajaki Langkah De-eskalasi Perang Rusia-Ukraina Jelang Musim Dingin

Opsi ini mencakup penghentian serangan terhadap infrastruktur energi atau penghentian total seluruh serangan udara dari kedua belah pihak.

Namun hingga saat ini, pihak Rusia dilaporkan belum memberikan persetujuan.

Isu infrastruktur energi menjadi sangat mendesak bagi Kyiv mengingat musim dingin yang semakin dekat.

Ukraina mengkhawatirkan Moskow akan kembali meluncurkan gelombang serangan masif ke instalasi listrik dan pembangkit energi mereka, seperti yang memicu krisis pemadaman listrik massal di tengah suhu dingin ekstrem pada musim dingin sebelumnya.

Di sisi lain, jaminan keamanan jalur distribusi gandum di Laut Hitam juga terus diupayakan setelah Rusia mengintensifkan serangan ke kapal-kapal kargo sipil.

Menurut Zelenskyy, krisis pangan ini bukan lagi sekadar urusan dua negara.

"Ini adalah masalah mendesak bagi seluruh dunia, termasuk bagi negara-negara seperti India, UEA, Arab Saudi, Mesir, hingga wilayah Asia lainnya."

"Kami siap mencari titik kompromi di sektor ini," ucap Zelenskyy.

(Tribunnews.com/Whiesa)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.