TRIBUNGORONTALO.COM – Antrean panjang kendaraan kembali terlihat di SPBU 74.961.06 di wilayah Luhu, Kecamatan Telaga Jaya, Kabupaten Gorontalo, sejak Senin (7/9/2026) siang.
Deretan kendaraan tampak mengular di area SPBU. Para pengendara harus menunggu cukup lama sebelum mendapatkan giliran mengisi Pertalite. Sebagian memilih tetap bertahan di dalam kendaraan; ada yang duduk sambil menunggu, ada pula yang sesekali melihat ke depan untuk memastikan antrean mulai bergerak.
Bagi sebagian warga, antrean panjang seperti ini bukan lagi pemandangan baru. Namun, kondisi tersebut tetap menyisakan keluhan.
Berdasarkan pantauan TribunGorontalo.com di lapangan dalam beberapa pekan belakangan, antrean mengular dengan berbagai alasan di hampir setiap SPBU, mulai dari SPBU Andalas, SPBU Nani Wartabone, SPBU Luhu Telaga Jaya, hingga SPBU di Jalan Reformasi.
Kondisi ini menimbulkan berbagai macam pertanyaan di kalangan masyarakat, apakah stok berkurang ataupun ada faktor lain yang terjadi, terutama bagi masyarakat yang menggunakan kendaraan untuk bekerja dan menggantungkan penghasilan dari aktivitas di jalan.
Saripudin Ishak (65) adalah salah satunya. Ia mengaku sudah menghabiskan waktu sekitar satu jam untuk mengantre di SPBU tersebut, meski belum bisa memastikan akan mendapatkan BBM atau tidak.
"Ya saya merasa karena ini sudah biasa jadi tidak mengeluh sih. Kalau pun ada antrean, saya sudah menunggu satu jam. Walaupun tidak dapat, ya biasanya saya cari di tempat lain seperti di SPBU Andalas ataupun SPBU di Agus Salim," kata Saripudin kepada TribunGorontalo.com.
Saripudin mengatakan, antrean panjang sudah menjadi fenomena yang biasa ditemuinya, sehingga ia memilih tidak terlalu mempermasalahkannya. Namun, ada satu hal yang menurutnya perlu menjadi perhatian, yakni mengenai kendaraan pribadi yang ikut mengantre untuk mendapatkan BBM bersubsidi.
"Yang seharusnya mobil pribadi tidak layak subsidi, kenapa harus antrean di sini," katanya.
Baca juga: Sosok Alfatih Fabrizal Taha, Siswa Perkuat SSB Cendrawasih Gorontalo di Piala Soeratin Yogyakarta
Menurutnya, kendaraan yang memang membutuhkan BBM untuk bekerja seharusnya tidak harus berhadapan dengan antrean yang semakin panjang.
Keluhan serupa juga dirasakan Iwan Ali (48), sopir angkot mikrolet yang menggantungkan mata pencahariannya di jalanan setiap hari untuk mencari penumpang.
Bagi Iwan, antrean panjang bukan sekadar persoalan menunggu. Waktu yang habis di SPBU berarti waktu untuk mencari penumpang ikut berkurang.
"Iya kadang kalau antrean seperti ini, waktu ngetem saya atau cari penumpang itu bisa sampai satu jam. Satu jam paling lama saya ikut antrean ini," ujar Iwan kepada TribunGorontalo.com.
Ia mengatakan bahwa dirinya tidak setiap kali mengantre bisa mendapatkan BBM. Jika tidak memperoleh pengisian, Iwan terpaksa mencari alternatif lain.
"Kalau memang tidak dapat, ya saya isi BBM di depot-depot kecil," katanya.
Bagi Iwan, kondisi tersebut tentu menambah beban. Sebab, sebagai sopir angkot, penghasilannya bergantung pada seberapa lama ia berada di jalan dan mendapatkan penumpang. Ketika waktunya tersita untuk mengantre, kesempatan mendapatkan penumpang otomatis berkurang.
"Ya itu keluhan kami. Harusnya mobil-mobil pribadi yang tidak dapat subsidi itu tidak usah ikut antrean," ungkapnya.
Tak hanya kendaraan pribadi, Iwan juga menyoroti aktivitas pembelian BBM yang kemudian dijual kembali. Menurutnya, aktivitas tersebut turut berpengaruh terhadap panjangnya antrean di SPBU.
"Terus kadang ini orang-orang yang menjual kembali BBM seperti Pertalite itu kadang yang bikin antrean ini panjang. Walaupun juga ya di satu sisi mereka sudah punya jalur, tapi ya begitu ini keluhan kita sebagai sopir," katanya.
Keluhan warga tersebut menggambarkan bahwa persoalan antrean Pertalite tidak hanya berkaitan dengan panjangnya barisan kendaraan, tetapi juga ada persoalan waktu, pekerjaan, hingga penghasilan masyarakat yang ikut terdampak. Bagi pengendara yang menggunakan kendaraan untuk bekerja, satu jam berada di antrean tentu bukan waktu yang sedikit.
Sementara itu, petugas SPBU 74.961.06, Arlan Umar, menjelaskan bahwa pihaknya memiliki mekanisme tersendiri dalam pelayanan BBM. Untuk kendaraan tertentu, pengisian dilakukan dengan jumlah sekitar 100 liter setiap truk.
"Yang dilayani tiap truk 100 liter," kata Arlan.
Arlan juga menjelaskan bahwa pelayanan kendaraan dilakukan berdasarkan data nomor kendaraan yang telah terdaftar. Data tersebut menjadi acuan petugas dan pengawas SPBU dalam memberikan pelayanan.
"Jadi dilayani bagi nomor kendaraan yang sudah terdaftar. Jadi terdaftarnya itu datanya sudah ada di petugas SPBU dan pengawas," jelasnya.
Ia juga menyebutkan kapasitas pelayanan yang tersedia di SPBU tersebut.
"Untuk kapasitas per hari 24.000 KL dan Rp8.000 KL pelayanan untuk kendaraan di sini," ujarnya.
Arlan menambahkan, SPBU tersebut tidak menerapkan sistem nomor antrean.
"Kalau di sini kita tidak pakai nomor antrean," katanya.
Pantauan TribunGorontalo.com pada Senin siang menunjukkan antrean kendaraan masih terlihat cukup panjang dengan mobil-mobil berjajar menunggu giliran.
Sebagian pengendara memilih tetap berada di dalam kendaraan meski harus menunggu cukup lama. Kondisi ini menjadi perhatian terutama bagi sopir angkot, sebab waktu yang seharusnya digunakan untuk mencari penumpang harus tersita karena mengantre BBM.
Iwan berharap persoalan antrean tersebut dapat menjadi perhatian agar masyarakat yang memang membutuhkan BBM untuk bekerja tidak semakin dirugikan karena antrean yang panjang. Sementara itu, Saripudin berharap pelayanan BBM tetap berjalan dengan baik sehingga masyarakat memiliki pilihan untuk mendapatkannya ketika membutuhkan.
Bagi warga, antrean panjang bukan hanya soal menunggu kendaraan bergerak beberapa meter demi beberapa liter Pertalite.
Di balik antrean tersebut ada waktu kerja yang hilang, penumpang yang terlewat, hingga penghasilan harian yang berpotensi berkurang.
Keluhan warga pun sederhana: mereka ingin mendapatkan BBM tanpa harus menghabiskan terlalu banyak waktu di SPBU dan berharap penyaluran BBM bersubsidi benar-benar tepat sasaran. (*)