Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Skaye Lampung Cafe and Bar turut merasakan dampak erupsi yang terjadi Sabtu (5/9/2026) dan Minggu (6/9/2026) di Bandar Lampung belakangan ini.
Baca juga: Erupsi Gunung Anak Krakatau Picu Penurunan Okupansi Hotel di Lampung
Cafe dengan konsep outdoor tersebut mengalami penurunan jumlah tamu hingga 30 persen dibandingkan kondisi normal.
Meski demikian, Skaye Lampung Cafe and Bar memilih tetap beroperasi seperti biasa dan tidak melakukan perubahan jam operasional selama periode abu vulkanik.
Assistant Manager Skaye, Muhamad Adzhanie Novan, mengatakan dampak erupsi paling terasa dari sisi kenyamanan dan pemandangan yang dinikmati para tamu.
"Cukup berdampak dari segi penglihatan dan kenyamanan bagi tamu Skaye," ujar Novan, Selasa (8/9/2026).
Ia menjelaskan, hingga saat ini Skaye Lampung Cafe and Bar tetap buka setiap hari mulai pukul 16.00 hingga 24.00 WIB.
"Tidak ada perubahan jam operasional Skaye, tetap buka setiap hari dari 16.00 sampai 24.00," katanya.
Dampak erupsi juga terlihat dari jumlah kunjungan pelanggan. Muhamad menyebut terjadi penurunan jumlah tamu sekitar 30 persen sejak erupsi dan abu vulkanik melanda.
"Ya, terjadi penurunan jumlah tamu sejak terjadinya erupsi, kira-kira 30 persen penurunan dibandingkan kondisi normal," ungkapnya.
Penurunan jumlah pengunjung tersebut turut berdampak terhadap pendapatan Skaye. Berdasarkan estimasi manajemen, omzet selama periode erupsi mengalami penurunan sekitar 30 persen.
"Estimasi penurunan omzet selama periode erupsi di 30 persen," ujarnya.
“Dalam kondisi normal tamu kita bisa sampai 600 orang selama 3 hari , karena ada abu vulkanik ini, menjadi 180-200 orang pengunjung Skaye selama 3 hari terakhir ini,” tambahnya.
Meski terjadi penurunan kunjungan dan omzet, Skaye belum menerima pembatalan reservasi yang disebabkan langsung oleh abu vulkanik. "Tidak ada pembatalan reservasi akibat abu vulkanik," kata Novan.
Sebagai cafe yang mengusung konsep outdoor, Skaye menjadi salah satu usaha yang cukup merasakan dampak langsung dari abu vulkanik.
Debu vulkanik membuat sejumlah fasilitas harus lebih sering dibersihkan agar tetap nyaman digunakan pelanggan.
"Cukup besar, karena Skaye ini cafe dengan konsep outdoor. Jadi banyak fasilitas kita yang kotor akibat debu vulkanik," jelas Novan.
Sejumlah fasilitas yang paling terdampak di antaranya meja, kursi, sofa, hingga kolam air mancur.
"Seperti meja, kursi, sofa dan kolam air mancur kita yang paling terdampak debu vulkanik," ungkapnya.
Meski menghadapi kondisi tersebut, Skaye hingga kini tetap membuka layanan bagi pelanggan. Tidak ada penutupan sementara maupun perubahan jam operasional selama periode abu vulkanik.
(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)