Biodata Ulta Levenia, Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden Singgung Erupsi Gunung dengan Proyek HAARP 
Rusaidah September 08, 2026 07:27 PM

 

BANGKAPOS.COM -- Nama Ulta Levenia Nababan, Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden mendadak jadi sorotan setelah menyinggung fenomena meletusnya banyak gunung di Indonesia dengan proyek High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP).

HAARP adalah fasilitas penelitian ilmiah di Gakona, Alaska, yang menggunakan gelombang radio untuk mempelajari lapisan ionosfer bumi.

Ulta Levenia juga bertanya-tanya penyebab sejumlah gunung meletus dalam waktu hampir bersamaan.

“Tapi karena saya orangnya skeptis banget, gak mau terima dengan penjelasan yang biasa dan lumrah HARUS diterima. Maka ada alternatif lain kemungkinan besar akan digolongkan ke teori konspirasi,” kata Ulta di akun Instagram miliknya, Senin, (7/9/2026).

“Tapi toh terbukti konspirasi sebagian besar adalah fakta yang tertunda. Kalau di Amerika umurnya konspirasi 20-40 tahun tergantung kapan sebuah proyek ditutup/selesai dan sudah bisa untuk disclosed to public."

Baca juga: Pilu Kisah Kakak Adik Rani dan Ayuhana Hilang 5 Tahun, Ternyata Dibunuh Kekasih, Motifnya Sakit Hati

Dia menyinggung sebuah proyek HAARP yang sering disebut dalam podcast di luar negeri.

Menurut dia, proyek HAARP kerap dikaitkan dengan teori konspirasi karena memang awal didanai oleh Angkatan Udara Amerika Serikat (AS), Angkatan Laut AS, dan Badan Proyek Pengembangan Riset Lanjutan Pertahanan (DARPA).

Ulta mengatakan, ada banyak spekulasi bahwa HAARP bisa mengendalikan cuaca, membuat badai, hingga menciptakan gempa bumi meski tidak ada bukti ilmiahnya.

“Kenapa ada gap conspiracy ini tentang proyek HAARP? Karena kalau dilihat dengan kacamata geopolitik dan intelijen, proyek HAARP berkaitan dengan penelitian eksploitasi ionosfer dan menggunakan energi radio frekuensi tinggi yang awalnya berpusat di Alaska. Kemudian menimbulkan pertanyaan: untuk apa militer Amerika membangun pemancar radio yang sangat kuat di Alaska?” ujarnya.

Dia lalu mempertanyakan penyebab meletusnya gunung-gunung di tanah air setelah Presiden Prabowo Subianto berkunjung ke Kota Vladivostok, Rusia, beberapa hari lalu untuk menghadiri Eastern Economic Forum 2026.

“Walau gak ada bukti ilmiah yg kredibel, tapi otak skeptis pasti berpikir atau setidaknya entertain pemikiran, ‘Kenapa sehari setelah Presiden RI bersalaman mesra dengan Putin di Vladivostok, 6 gunung vulkanik Indonesia erupsi secara bersamaan?”

Penjelasan Mantan Kepala BMKG 

Daryono, mantan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sekaligus anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), membantah bahwa erupsi gunung-gunung di Indonesia disebabkan oleh campur tangan manusia.

“Tudingan bahwa fenomena erupsi beberapa gunung api di Indonesia disebabkan oleh rekayasa teknologi atau senjata konspirasi sama sekali tidak masuk akal secara ilmu kebumian,” kata Daryono dalam keterangannya ketika dihubungi Tribunnews dari Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Selasa, (8/9/2026).

Erupsi Gunung Anak Krakatau membuat abu vulkanik meluas hingga Jakarta. Bandara Soetta ditutup sementara dan 33 penerbangan terdampak.
Erupsi Gunung Anak Krakatau membuat abu vulkanik meluas hingga Jakarta. Bandara Soetta ditutup sementara dan 33 penerbangan terdampak. (Dok istimewa/tangkapan layar)

Mengenai erupsi gunung-gunung di Indonesia yang kerap terjadi beruntun atau bersamaan, Daryono menyebut hal itu karena Indonesia secara geografis terletak di jalur cincin api.

“Narasi yang mengaitkan erupsi beruntun dengan rekayasa teknologi merupakan bentuk disinformasi yang mengabaikan sains dasar, mengingat aktivitas vulkanik Indonesia adalah keniscayaan dinamis dari geologi bumi yang terus bergerak,” kata Daryono.

Lantas siapakah sosok Ulta Levenia Nababan?

Biodata Ulta Levenia Nababan

Ulta Levenia Nababan lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat. 

Hanya sedikit yang diketahui tentang latar belakangnya.

Baca juga: Profil Irjen Pol Arif Budiman, Kapolda Maluku Utara Akpol 1994, Pecat 21 Anak Buah dan Daftarnya

Dikutip dari akun LinkedIn miliknya, Ulta berkuliah di Jurusan Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia dari tahun 2013 hingga 2018.

Skripsinya berjudul Partai Lokal dalam Otonomi Khusus sebagai Sarana Resolusi Konflik Separatisme: Studi komparatif Aceh, Indonesia dan Mindanao, Filipina.

Ulta menekuni bidang kontraterorisme dan keamanan internasional. 

Dia pernah berada di Afghanistan dan bersinggungan dengan kelompok Taliban, dan berinteraksi dengan pemimpin kelompok separatis Abu Sayaf di Filipina. 

Dari September 2022 hingga September 2023, Ulta meneruskan pendidikan S-2 di Universitas Leeds, Inggris, dengan mengambil kajian tentang keamanan, terorisme, dan pemberontakan.

Di samping itu, dia tercatat pula menjalani program pendidikan singkat bidang keamanan internasional di Institut des Hautes Etudes de Défense Nationale (IHEDN) dari Maret hingga April 2019.

Ulta tercatat pernah menjadi relawan di Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat mulai Juli 2016

Dia pernah menjadi penulis di International Journal of Academic & Scientific Research dari November 2015 hingga Juli 2019 dan peneliti senior di Center of Terrorism and Radicalism Studie dari Juni 2018 hingga Maret 2025.

Pada Pemilu 2024, Ulta pernah menjadi juru bicara dan anggota Tim Fanta dalam Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran.

Kemudian, dia diangkat sebagai Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden sejak November 2025.

Dia turut dikenal mendirikan organisasi MAPAN (Millenial untuk Pertahanan dan Keamanan)

Kritikan dan Kontroversi ‘Daster’ Almamater

Pada bulan Juli 2026, Ulta pernah disorot setelah mengomentari pernyataan seorang mahasiswi UI dalam program televisi yang membahas pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG).

Lewat unggahan di akun Instagram miliknya, Ulta mengkritik mahasiswi itu yang menyebut banyak sekolah mengalami kendala dalam pelaksanaan program MBG.

"Lahhh 'banyak sekali sekolah-sekolah' ukuran banyak sekali-nya ini dari mana sih? Terus pas ditanya angka enggak mau jawab, malah playing victim," tulis Ulta.

SOROTAN - Foto Ulta Levenia Nababan, Tenaga Ahli di Kantor Staf Presiden. Ulta mendapat sorotan karena mengaitkan fenomena erupsi gunung di Indonesia dengan proyek HAARP.  (Tribunnews.com/YouTube Ulta Levenia)

Ulta juga menyampaikan sindiran dengan menyamakan jas kuning almamater UI dengan daster.

"Kochaque bunda pakai daster kuning ini. Maaf Bund beli dasternya di mana?" tulisnya disertai emoji tertawa.

Warganet kemudian menilai sindiran itu sebagai sesuatu yang tidak layak disampaikan oleh seorang pejabat publik, terlebih seorang Tenaga Ahli Kantor Staf Presiden.

Daftar Eruosi Gunung Api 

Berikut sejumlah gunung api di Indonesia yang erupsi pada 6 September 2026, dilansir dari laman Magma Indonesia Kementerian ESDM.

1. Gunung Anak Krakatau (Selat Sunda)

Terjadi erupsi Gunung Anak Krakatau pada Minggu, 6 September 2026, pukul 03.53 WIB. Visual letusan tidak teramati.

Masyarakat/pengunjung/wisatawan/pendaki diminta tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif.

Kembali terjadi erupsi pada pukul 07.10 WIB. Visual letusan tidak teramati.

Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 50 mm dan durasi 16 detik.

Baca juga: Isi Rekening Irjen Arif Budiman, Kapolda Maluku Utara yang Pecat 21 Anak Buahnya Punya Harta Rp2,7 M

2. Gunung Ibu (Halmahera Barat, Maluku Utara)

Terjadi erupsi Gunung Ibu pada Minggu, 6 September 2026, pukul 04.55 WIT.

Tinggi kolom letusan teramati ± 400 m di atas puncak (± 1725 m di atas permukaan laut).

Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas sedang ke arah timur laut.

Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 15 mm dan durasi 35 detik.

Kembali terjadi erupsi pada pukul 10.04 WIT dengan tinggi kolom abu teramati ± 600 m di atas puncak (± 1925 m di atas permukaan laut).

Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal ke arah utara.

Erupsi juga terjadi pada pukul 11.26 WIT. Visual letusan tidak teramati.

3. Gunung Ili Lewotolok (Nusa Tenggara Timur)

Terjadi erupsi Gunung Ili Lewotolok pada Minggu, 6 September 2026, pukul 06.11 WITA dengan tinggi kolom abu teramati ± 400 m di atas puncak (± 1823 m di atas permukaan laut).

Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah barat.

Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 40 mm dan durasi 40 detik.

Erupsi juga terjadi pada pukul 06.41 WITA dengan tinggi kolom abu teramati ± 600 m di atas puncak (± 2023 m di atas permukaan laut).

Kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah tenggara.

Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 40 mm dan durasi 82 detik.

4. Gunung Semeru (Jawa Timur)

Terjadi erupsi Gunung Semeru pada Minggu, 6 September 2026, pukul 07.51 WIB dengan tinggi kolom abu teramati ± 1000 m di atas puncak (± 4676 m di atas permukaan laut).

Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal ke arah timur.

Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 23 mm dan durasi 102 detik.

Kembali terjadi erupsi pada pukul 10.07 WIB. Visual letusan tidak teramati.

Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 86 detik.

(Tribunnews/Febri/Nuryanti) (Kompas.com/Bangkapos.com)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.