Dewi, Ojol Perempuan di Surabaya, Terlempar ke Desil 6-10: PBI BPJS dan PIP Anak Hilang
Pipit Maulidya September 08, 2026 07:32 PM

 

SURYA.co.id, SURABAYA - Kisah pilu dialami Dewi Anggraini (45), pengemudi ojek online (ojol) perempuan di Surabaya, Jawa Timur.

Status Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan miliknya mendadak nonaktif setelah keluarganya terlempar dari Desil 4 ke Desil 6-10 dalam data kesejahteraan sosial.

Bukan hanya jaminan kesehatan yang hilang. Anak Dewi yang masih duduk di bangku SMA juga terdampak karena tidak lagi menerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP).

Dewi dan suaminya, Sofyan Amalianto (47), sama-sama bekerja sebagai pengemudi ojol. Dewi menjadi pengemudi Gojek, sedangkan Sofyan bekerja sebagai pengemudi Grab.

Pasangan suami istri (pasutri) dengan dua anak itu tinggal menumpang di rumah mertua di Putat Jaya Sekolahan, Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya.

Baca juga: Ribuan Warga Surabaya Lakukan Pemutakhiran Desil

Mereka menempati satu kamar bersama salah satu anaknya yang kini duduk di bangku SMA. Anak pertama mereka sudah menikah dan tinggal terpisah di sebuah kos.

Pendapatan Dewi dan Sofyan sebagai pengemudi ojol juga tidak menentu.

Saat surya.co.id (TribunJatim Network) mengecek kondisi Dewi, Selasa (8/9/2026) siang, sebuah motor matic baru saja masuk ke gang sempit kawasan Putat Jaya Sekolahan.

Dewi kemudian melangkah lemas masuk ke rumah mertuanya. Jaket ojek online warna hijau khas yang dikenakannya dilepas dan digantung begitu saja di paku yang tertancap di pagar.

Hawa panas khas Surabaya terasa menyengat. Namun, bagi Dewi, persoalan yang dihadapinya terasa jauh lebih berat daripada sekadar cuaca.

Teras rumah berukuran sekitar 1,5 x 4 meter menjadi ruang multifungsi. Ruang tersebut digunakan sebagai ruang tamu, tempat memasak, sekaligus tempat beristirahat.

"Tak menentu. Kadang sehari bisa dapat Rp 100.000," ucapnya sambil menghela napas di tengah leyeh-leyeh.

Penghasilan dari bekerja di jalanan itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, dalam data kesejahteraan sosial, keluarga Dewi justru tercatat berada di Desil 6-10.

Terlempar dari Desil 4

Masalah itu diketahui Dewi setelah muncul notifikasi di aplikasi Mobile JKN pada ponselnya.

Dewi mengaku terkejut ketika mengetahui status kepesertaan BPJS Kesehatan PBI miliknya mendadak tidak aktif.

Sebelumnya, keluarga Dewi tercatat berada di Desil 4. Kini, mereka disebut terlempar ke Desil 6-10.

"Saya kaget dan lemas begitu ada notifikasi kalau BPJS saya tidak aktif lagi. Setelah saya cek, saya tak lagi jadi peserta PBI. Yang paling saya tidak terima, BPJS PBI lenyap. Bagaimana ini pendataannya?" protes Dewi dengan suara bergetar.

Perubahan status tersebut berdampak langsung pada kondisi ekonomi keluarganya.

Setelah tidak lagi terdaftar sebagai Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) di Surabaya, anak Dewi yang duduk di bangku SMA juga tidak bisa lagi menerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP).

Padahal, bantuan tersebut sangat dibutuhkan untuk membantu kebutuhan pendidikan anaknya, termasuk biaya seragam dan biaya jahit di SMA Negeri tempat anaknya bersekolah.

Tetap Narik Ojol Meski Sakit

Kondisi Dewi semakin berat karena dirinya juga tengah berjuang melawan penyakit hipotiroid dan pengapuran tulang kaki.

Tanpa BPJS Kesehatan PBI, Dewi khawatir biaya pengobatan akan semakin membebani kondisi ekonomi keluarganya.

Meski mengalami sakit pada bagian kaki, Dewi mengaku tetap bekerja sebagai pengemudi ojol.

Jaket ojol dibiarkan menggantung di tiang teras yang berhimpitan dengan peralatan dapur. Di tengah kondisi tersebut, Dewi tetap berusaha mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan keluarga dan melunasi cicilan motor.

Motor tersebut menjadi modal utama Dewi untuk mencari penghasilan.

"Saya dulu gali lubang tutup lubang hingga pinjol (pinjaman online). Saya kapok. Sekarang tinggal cicilan motor saja dan biaya satu anak sekolah SMA," akunya.

Sebelumnya, Dewi terpaksa terlilit utang sambil tetap bekerja sebagai pengemudi ojol. Penghasilan tersebut digunakan untuk mencukupi kebutuhan pokok keluarga sekaligus memenuhi kebutuhan sekolah anaknya.

Menagih Akurasi Data Kesejahteraan

Kisah Dewi dan Sofyan menjadi gambaran persoalan yang mereka hadapi setelah perubahan status dalam data kesejahteraan sosial.

Pasangan pengemudi ojol dengan pendapatan tidak menentu dan masih tinggal menumpang di rumah mertua tersebut justru tercatat berada di Desil 6-10.

Perubahan status itu berdampak pada hak mereka untuk mendapatkan bantuan kesehatan dan pendidikan.

Di atas motor, di sela-sela kemacetan Kota Surabaya, Dewi kini tidak hanya mengejar target harian sebagai pengemudi ojol.

Ia juga membawa harapan agar kondisi keluarganya dapat kembali tercatat sesuai kondisi ekonomi yang sebenarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.