SURYA.CO.ID, GRESIK – Warga Menganti, Kabupaten Gresik, Jawa Timur mengeluhkan pengerjaan perbaikan Jalan Raya Bringkang yang tak kunjung rampung.
Proyek lambat itu sangat berdampak buruk bagi warga, memicu debu pekat beterbangan di mana-mana hingga mengganggu pernapasan serta kenyamanan masyarakat setempat.
Situasi makin parah karena jalur vital itu terpaksa menerapkan sistem buka-tutup.
Pantauan SURYA.CO.ID di lokasi, bahkan proyek perbaikan jalan itu seolah proyek mangkrak, tanpa ada aktivitas pekerja pada Selasa (8/9/2026) siang.
Baca juga: Pemkab Gresik Matangkan Pelebaran Jalan Menganti Menuju Lakarsantri
Antrean kendaraan mengular hingga hampir satu kilometer pada jam-jam sibuk akibat penumpukan volume kendaraan.
"Beberapa hari ini pas lewat belum ada aktivitas pengerjaan jalan," keluh Pupuh, warga Wonoayu Ceper, Mojotengah, yang saban hari melintasi jalur itu.
Pria yang bekerja di Manyar itu menegaskan bahwa proyek pengerjaan sejak Mei itu sudah sangat mengganggu mobilitas harian.
"Parah pokoknya, debunya menggangu sekali," tegas bapak dua anak itu.
Selain memicu kemacetan, pengerjaan betonisasi tinggi itu membuat posisi warung di pinggir jalan terperosok lebih rendah dan terisolasi.
Kondisi diperparah oleh debu tebal yang terus mengepul, membuat tempat usaha warga mendadak sepi pengunjung.
Baca juga: Ratusan Warga Gresik Jawa Timur Manfaatkan Rail Clinic KAI di Stasiun Cerme
Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Komisi III DPRD Gresik, Abdullah Hamdi, mengaku kerap menerima aduan serupa dari masyarakat.
"Jadi, kalau melihat dari progresnya memang ini pekerjaan sampai di akhir tahun, tapi sebisa mungkin untuk dipercepat karena di situ itu sebagai jalan penghubung antara Bunder ke Legundi yang sangat vital sekali," beber Hamdi.
Politisi asal Menganti itu menyoroti kemacetan luar biasa yang kerap terjadi saat jam berangkat dan pulang kerja atau sekolah.
"Bahkan yang sangat disayangkan itu masih belum tertutup semuanya, kami memang berharap segera untuk diselesaikan karena potensi kemacetan, debu beterbangan, dan efek kesehatan begitu riskan," paparnya.
Meski jalan itu bukan wewenang Kabupaten, pihaknya berjanji terus berkoordinasi dengan DPUTR Gresik untuk mendesak pimpinan proyek di lapangan.
"Kemarin sudah kita komunikasikan dengan teman-teman PU Gresik untuk memberikan perhatian kepada pelaksana kegiatan, mudah-mudahan segera selesai," pungkasnya.