Pemprov Jateng Tetapkan Kandri Jadi Desa Wisata Ramah Muslim, Ini Pertimbangannya
deni setiawan September 08, 2026 08:11 PM

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah menyerahkan Surat Keputusan (SK) dan Sertifikat Penetapan Desa Wisata Kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang sebagai Desa Wisata Ramah Muslim pada Selasa, (8/9/2026).

Pelaksanaan Pariwisata Ramah Muslim di Jawa Tengah mengacu pada Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 40 Tahun 2023 tentang Pariwisata Ramah Muslim Dalam Rangka Pengembangan Ekonomi, serta kebijakan nasional mengenai layanan dasar pariwisata ramah muslim.

Dalam pengembangannya, Pemprov Jateng telah menetapkan target program 2027, yaitu terdapat lima usaha pariwisata ramah muslim pada masing-masing kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Baca juga: Kontingen Jepara Bawa Pulang 49 Medali di Popda Jateng 2026, Finish Lima Besar

Dengan cakupan 35 kabupaten/kota, target tersebut diharapkan dapat mendorong terbentuknya ekosistem pariwisata ramah muslim secara lebih luas di Jawa Tengah.

Usaha pariwisata yang menjadi sasaran pengembangan meliputi usaha daya tarik wisata, usaha penyediaan akomodasi, serta usaha jasa makanan dan minuman.

Penetapan tersebut menjadi bagian langkah Pemprov Jateng dalam memperkuat pengembangan pariwisata ramah muslim sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan dan pengalaman wisata bagi wisatawan muslim.

Sebagai bagian dari persiapan implementasi program tersebut, Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Jawa Tengah telah melaksanakan penilaian penerapan Pariwisata Ramah Muslim di Desa Wisata Kandri, Kota Semarang.

Desa Wisata Kandri dipilih sebagai pilot project atau percontohan dalam penerapan konsep pariwisata ramah muslim di Jawa Tengah.

Penilaian dilakukan untuk melihat kesiapan serta sejauh mana prinsip-prinsip pariwisata ramah muslim telah diterapkan di destinasi tersebut.

Berdasarkan hasil penilaian yang telah dilaksanakan, Desa Wisata Kandri dinyatakan telah memenuhi kriteria untuk ditetapkan sebagai Desa Wisata Ramah Muslim.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jawa Tengah, Hanung Triyono mengatakan, pengembangan pariwisata ramah muslim menjadi bagian dari upaya pemerintah menyiapkan sektor pariwisata Jawa Tengah menuju 2027.

"Kami menyiapkan 35 kabupaten/kota untuk pariwisata ramah muslim. Nantinya mendukung tema kami pada 2027, yaitu pariwisata berkelanjutan dan meningkatkan ekonomi syariah," kata Hanung.

Menurutnya, konsep pariwisata ramah muslim tidak berarti seluruh destinasi harus memiliki nuansa atau identitas ke-Islaman.

Konsep tersebut lebih menekankan pada tersedianya layanan dan fasilitas yang membuat wisatawan muslim dapat berwisata secara nyaman dan aman.

"Pariwisata ramah muslim bukan berarti semua wisata harus bernuansa muslim. Namun, seluruh proses yang ada di dalamnya harus memenuhi aspek yang mendukung kenyamanan wisatawan," jelasnya.

Melalui pilot project tersebut, Desa Wisata Kandri diharapkan dapat menjadi role model dalam penerapan standar pelayanan, penyediaan fasilitas, serta penciptaan lingkungan wisata yang nyaman, aman, bersih, dan inklusif bagi wisatawan muslim.

Selanjutnya, konsep yang diterapkan di Desa Wisata Kandri diharapkan dapat direplikasi oleh desa wisata dan usaha pariwisata lainnya di 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Hal ini sejalan target pengembangan Pariwisata Ramah Muslim tahun 2027.

• Dishub Pati Siapkan 11 Halte untuk Dukung Operasional Trans Jateng Rute Jekuti

Penerapan konsep Pariwisata Ramah Muslim juga diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pelayanan dan daya saing destinasi, memperkuat keterlibatan masyarakat serta pelaku usaha pariwisata, dan memberikan pengalaman berwisata yang semakin nyaman bagi wisatawan muslim.

Pengembangan pariwisata ramah muslim tersebut juga akan berjalan beriringan dengan penguatan desa wisata di Jawa Tengah.

Menurut Hanung, desa wisata memiliki potensi yang tidak hanya bertumpu pada daya tarik alam, tetapi juga sejarah, warisan budaya, seni dan berbagai atraksi yang dapat memberikan pengalaman kepada wisatawan.

Dia mencontohkan Desa Wisata Kandri yang memiliki situs sejarah dan warisan budaya, serta beragam atraksi seni.

"Storytelling-nya juga penting, sehingga orang yang datang bisa mengetahui cerita di balik destinasi tersebut. Kemudian wisatawan bisa mendapatkan pengalaman atau experience," katanya.

Di Kandri, lanjut Hanung, terdapat berbagai pertunjukan seni budaya, seperti tari kontemporer, tari barongan dan tari topeng.

Libatkan Perguruan Tinggi

Pengembangan desa wisata di Jawa Tengah, menurutnya, juga tidak dapat dilakukan hanya oleh pemerintah maupun masyarakat desa. Perguruan tinggi turut didorong untuk terlibat melalui program pendampingan dan KKN tematik.

"KKN tematik itu pasti. Jadi, kalau ada wisata baru, KKN tematik tetap kami optimalkan," ujar Hanung.

Dia mengatakan, Pemprov Jateng telah menjalin kerja sama dengan ratusan perguruan tinggi di Jawa Tengah.

Kerja sama tersebut diarahkan untuk mendukung berbagai kebutuhan pengembangan desa wisata.

Bentuknya di antaranya pelatihan, pembenahan desa wisata, hingga pendampingan sumber daya manusia.

"Kerja sama sudah banyak dilakukan, baik untuk pelatihan, pembenahan desa-desa wisata maupun pendampingan."

"Pendampingan tersebut bisa berupa pendampingan desa wisata maupun pengembangan SDM," pungkasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.