Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) yang menimbulkan hujan abu vulkanik berdampak cukup signifikan terhadap aktivitas bisnis kuliner, salah satunya Randu Resto.
Baca juga: Dampak Erupsi GAK Membuat Omzet Skaye Lampung Cafe and Bar Turun 30 Persen
Restoran yang biasanya ramai dikunjungi pelanggan tersebut kini harus menyesuaikan jam operasional hingga membatasi penggunaan area outdoor demi menjaga kenyamanan dan keselamatan staf maupun pelanggan.
Assistant Manager Randu Resto, Putri Marlina, mengatakan dampak erupsi sangat terasa terhadap beberapa fasilitas serta aktivitas operasional restoran.
Biasanya, Randu Resto beroperasi mulai pukul 09.00 hingga 22.00 WIB. Namun, sejak erupsi terjadi, jam operasional harus diubah.
"Kami terpaksa mengubah jam operasional. Biasanya kami buka dari pukul 09.00 pagi hingga 22.00 malam. Namun sejak erupsi, kami baru bisa buka pukul 11.00 siang karena pagi harinya seluruh staf harus fokus membersihkan sisa abu vulkanik terlebih dahulu," ujar Putri, Selasa (8/9/2026).
Tidak hanya membuka restoran lebih siang, pihak Randu Resto juga memilih menutup operasional lebih awal. "Kami juga tutup lebih awal di jam 20.00 malam untuk meminimalkan paparan udara buruk bagi staf dan pelanggan," jelasnya.
Dampak erupsi juga terlihat dari jumlah pelanggan yang datang langsung untuk makan di tempat.
Putri menyebut jumlah pelanggan dine-in mengalami penurunan drastis sejak terjadinya erupsi, terlebih setelah adanya imbauan pemerintah daerah agar masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan.
"Betul, penurunannya sangat drastis. Karena ada imbauan dari pemerintah daerah untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, jumlah pelanggan yang datang dine-in merosot tajam," katanya.
Menurut Putri, penurunan jumlah pelanggan diperkirakan mencapai 70 hingga 80 persen dibandingkan kondisi normal.
Penurunan tersebut semakin terasa pada akhir pekan yang biasanya menjadi salah satu waktu tersibuk bagi restoran.
"Penurunannya mencapai 70 persen hingga 80 persen dibandingkan kondisi normal, terutama pada akhir pekan yang biasanya selalu penuh," ungkapnya.
Berkurangnya pelanggan secara otomatis berdampak pada pendapatan Randu Resto.
Putri memperkirakan omzet restoran mengalami penurunan sekitar 75 persen selama periode erupsi.
"Sejalan dengan turunnya jumlah pelanggan, omzet kami otomatis anjlok. Estimasi penurunan omzet kami berkisar di angka 75 persen," jelas Putri.
Untuk tetap menjaga aktivitas usaha, Randu Resto berupaya memaksimalkan layanan delivery, termasuk pemesanan nasi kotak.
Namun, layanan tersebut dinilai belum mampu menggantikan pendapatan yang biasanya diperoleh dari pelanggan dine-in maupun acara dalam jumlah besar.
"Meskipun kami mencoba memaksimalkan layanan delivery (pesan antar nasi kotak), namun itu belum bisa menutupi hilangnya pendapatan dari pengunjung makan di tempat dan acara-acara besar," tuturnya.
Tak hanya pelanggan harian, sejumlah acara yang sebelumnya telah direncanakan di Randu Resto juga ikut terdampak.
Sedikitnya 8 hingga 10 acara terpaksa dibatalkan atau dijadwalkan ulang. Acara yang terdampak tersebut antara lain intimate wedding, pesta ulang tahun hingga gathering perusahaan.
"Sayangnya banyak sekali. Ada sekitar 8 hingga 10 acara yang terpaksa dibatalkan atau ditunda (reschedule)," kata Putri.
Dari jumlah tersebut, terdapat dua acara intimate wedding yang ikut terdampak.
Mayoritas pembatalan terjadi karena konsep acara menggunakan area semi-outdoor yang tidak memungkinkan digunakan ketika kondisi lingkungan masih dipenuhi abu vulkanik.
"Ini termasuk dua acara intimate wedding, beberapa reservasi ulang tahun, dan gathering kantor. Mayoritas membatalkan karena konsep acara mereka berada di area semi-outdoor yang tidak memungkinkan dipakai saat hujan abu," jelasnya.
Meski terdampak cukup besar, Randu Resto tidak sampai menghentikan seluruh kegiatan operasional. Restoran tetap buka dengan mengalihkan seluruh aktivitas pelayanan ke area indoor.
"Kami tidak tutup total. Kami tetap beroperasi melayani pelanggan dengan mengalihkan dan memfokuskan seluruh pelayanan di area indoor (dalam ruangan)," ujar Putri.
Sementara itu, area outdoor untuk sementara tidak digunakan. Area tersebut harus dibersihkan secara berkala dari abu vulkanik yang menumpuk.
"Area outdoor memang tidak kami gunakan sementara waktu karena harus dibersihkan secara berkala dari abu vulkanik," katanya.
Menurut Putri, langkah tersebut dilakukan agar pelanggan yang tetap datang ke Randu Resto dapat menikmati makanan dengan lebih nyaman dan aman.
"Dengan memaksimalkan area indoor, kami memastikan tamu tetap bisa makan dengan nyaman, aman, dan terhindar dari paparan debu," imbuhnya.
Selain berdampak pada jumlah pelanggan dan pendapatan, abu vulkanik juga memberikan pekerjaan tambahan bagi pengelola restoran. Sejumlah fasilitas Randu Resto mengalami dampak akibat paparan abu vulkanik.
Putri menyebut area makan outdoor seperti gazebo dan taman menjadi salah satu bagian yang paling terdampak. Selain itu, tumpukan abu juga ditemukan di bagian atap kanopi yang melengkung.
"Abu vulkanik itu sifatnya korosif dan berat jika terkena air. Fasilitas yang paling terdampak adalah area makan outdoor (gazebo/taman), atap kanopi yang melengkung karena terdapat tumpukan debu," ungkapnya.
Dampak juga dirasakan pada fasilitas di area indoor. Filter pendingin udara atau AC mengalami penyumbatan sehingga harus segera mendapatkan perawatan.
"Filter AC di ruangan indoor juga tersumbat dan harus segera diservis," jelas Putri.
Tak hanya itu, kolam ikan di area restoran juga harus dikuras secara total akibat air yang tercemar abu vulkanik.
"Kolam ikan kami juga harus dikuras total karena airnya tercemar abu," pungkasnya.
(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini)