Alami Trauma, Siswa Korban Keracunan MBG Pilih Bawa Bekal dari Rumah
Vivi Febrianti September 08, 2026 08:19 PM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Sebagian siswa korban keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, disebut trauma usai menjalani perawatan di puskesmas.

Mereka memilih membawa bekal dari rumah setelah mengalami kejadian tersebut.

Hal itu disampaikan Anggota MBG Watch, Galau D Muhammad, usai melakukan pemantauan langsung terhadap kondisi korban di SMAN 1 Lasem pada Jumat (5/9/2026).

"Ke depannya gimana, apakah adik-adik setelah pengalaman keracunan itu tidak diberikan MBG lagi? Sebagian menjawab kami lebih baik membawa bekal dari rumah," kata Galau saat diwawancarai melalui sambungan telepon, Selasa (8/9/2026).

Sementara sebagian siswa lainnya meminta agar program MBG dievaluasi sebelum dilanjutkan kembali.

Galau menyebut kondisi tersebut menunjukkan adanya pengalaman traumatis yang dirasakan siswa setelah mengalami dugaan keracunan hingga harus mendapat perawatan.

Bukan hanya siswa, orangtua juga disebut mengusulkan agar pelaksanaan MBG dievaluasi. 

Salah satu usulan yang disampaikan adalah agar makanan tidak lagi didistribusikan langsung dari dapur, melainkan bantuan diberikan dalam bentuk uang jajan.

“Ada trauma yang kami baca dari siswa yang sampai rawat inap sih. Dari orangtua itu juga sempat menyampaikan bahwa MBG perlu ditinjau ulang, dievaluasi, bahkan mungkin bisa diganti dengan uang jajan saja, tidak lagi disediakan langsung dari dapur (SPPG) ya,” ujarnya. 

Makanan Berbau Tidak Sedap dan Berubah Warna

Sementara itu, dari hasil wawancara MBG Watch dengan siswa, mereka mengaku tidak mengonsumsi makanan lain selain menu MBG sebelum mengalami gejala keracunan.

Galau mengatakan, para siswa merasa mengalami kerugian akibat kejadian tersebut. 

Mereka tidak dapat mengikuti ulangan yang berlangsung setelah dilarikan ke puskesmas. 

"Mereka merasa dirugikan karena yang pertama mereka belum bisa ikut ulangan karena hari Kamis pagi itu sudah dilarikan ke rawat inap ke puskesmas," ujarnya. 

Selain itu, siswa juga disebut mengalami gangguan kondisi fisik. 

Orangtua mereka juga harus meluangkan waktu untuk menjaga anak selama menjalani perawatan. 

Galau mengatakan, sebagian besar siswa yang sebelumnya menjalani rawat inap telah diperbolehkan pulang pada 6 September 2026. 

Namun, beberapa di antaranya masih menjalani rawat jalan karena mengalami keluhan seperti mual dan gangguan pencernaan. 

MBG Watch juga mendapat keterangan dari siswa yang menyebut makanan tersebut sudah mengeluarkan bau tidak sedap dan mengalami perubahan warna.

Bahkan, siswa yang tidak menghabiskan makanan tetap mengalami gejala keracunan.

Meski mengalami kerugian akibat kejadian tersebut, Galau mengatakan siswa dan keluarga yang ditemui MBG Watch sejauh ini tidak menuntut kompensasi tambahan.

Biaya pengobatan di puskesmas disebut telah ditanggung oleh pihak SPPG yang bertanggung jawab melayani MBG di sekolah tersebut.

PGRI Jateng Desak Investigasi Menyeluruh

Sebelumnya, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jawa Tengah mendesak investigasi menyeluruh atas kasus dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami 777 siswa dan guru di SMAN 1 Lasem, Rembang.

Dugaan itu mencuat pada Kamis (3/9/2026). 

Ketua PGRI Jawa Tengah, Muhdi, mengatakan para siswa menerima MBG pada Rabu (2/9/2026) sekitar pukul 12.00 WIB dengan menu nasi, ayam bakar, sambal teri, dan lalapan.

"Kepala BGN tidak cukup melakukan perbaikan kebijakan dengan terus terjadi kasus keracunan, menghentikan (sementara/penuh) SPPG yang bersangkutan, tetapi memastikan tidak terjadi keracunan dengan langkah-langkah yang pasti," tegas Muhdi, Jumat (4/9/2026).

Sumber: Kompas.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.