SURYA.co.id, TRENGGALEK - Kabupaten Trenggalek tidak hanya dikenal dengan keindahan alamnya, tetapi juga kekayaan seni budayanya yang ikonik. Salah satu yang paling menonjol adalah Turonggo Yakso.
Kesenian jaranan dengan properti kuda berkepala raksasa ini memiliki akar sejarah yang kuat di Kecamatan Dongko, sekitar 30 kilometer dari pusat kota Bumi Menak Sopal.
Dibalik gerakannya yang dinamis dan enerjik, Turonggo Yakso menyimpan kisah perjuangan para seniman lokal dalam melestarikan identitas daerah.
Baca juga: Trenggalek Diguyur Hujan Gerimis di Musim Kemarau, BMKG Beri Penjelasan
Eksistensi Turonggo Yakso tidak lepas dari tangan dingin dua seniman lintas daerah pada tahun 1974. Mereka adalah Muan, seorang pegiat seni ludruk asal Dongko, dan Puguh Daroini, seniman wayang orang dari Tulungagung.
Agus Priyo Utomo, putra dari Mbah Muan sekaligus pewaris semangat kesenian ini, menceritakan bahwa kolaborasi tersebut menjadi titik awal lahirnya kreasi baru di wilayah Dongko.
"Untuk Turonggo Yakso sendiri awal mulanya dari bertemunya dua seniman antara Tulungagung dan Dongko, yaitu Bapak Puguh Daroini dan Bapak Muan. Itu awal terjadi pertemuan," kenang Agus saat ditemui di kediamannya di Desa Dongko, Selasa (8/9/2026).
Sebelum dikenal dengan nama yang gagah seperti sekarang, kesenian ini awalnya bernama Jaranan Buto. Penampilannya pun cukup berbeda, jika sekarang menggunakan kepala raksasa (Yakso), dahulu propertinya masih menggunakan kepala sapi atau kerbau.
Perubahan besar terjadi sekitar tahun 1982 saat kesenian ini mulai merambah wilayah Kabupaten Trenggalek secara luas. Berdasarkan masukan dari berbagai tokoh seni, nama Jaranan Buto kemudian diperhalus menjadi Turonggo Yakso.
"Dengan banyaknya saran seniman di Kabupaten Trenggalek, akhirnya diganti menjadi Turonggo Yakso, bukan Jaranan Buto. Properti juga diganti dengan yang berwajah raksasa," jelas Agus.
Kesenian ini pun mulai rutin mengikuti festival sejak tahun 1987, yang semakin mengukuhkan posisinya sebagai identitas kolektif masyarakat Trenggalek.
Baca juga: Penyebab Pelajar Trenggalek Tewas saat Jelajah Pramuka, Gelagat Korban dan Kondisi Sungai Terkuak
Turonggo Yakso berbeda dari jaranan pada umumnya. Karakter raksasa yang dibawakan menuntut penari memiliki stamina ekstra dan penjiwaan yang kuat. Gerakannya cenderung cepat, lugas, dan penuh tenaga.
Agus menekankan bahwa kekuatan adalah kunci utama dalam tarian ini.
"Gerakan memerlukan tenaga yang lebih besar daripada yang lain. Kita perlu gerakan-gerakan yang sedikit menguras tenaga, dari kecepatan langkah mungkin juga bisa. Yang penting intinya kita menggunakan power," tegasnya.
Selain itu, musik pengiringnya memiliki pola pakem yang sangat spesifik, terutama pada bunyi kenong, gong, dan kempul yang tidak boleh diubah sembarangan.
Lebih dari sekadar tontonan, Turonggo Yakso mengandung ajaran moral yang mendalam. Nama ini menggambarkan sosok ksatria yang mampu menaklukkan sifat-sifat buruk atau angkara murka yang disimbolkan oleh wajah raksasa (Yakso).
"Turonggo Yakso itu bahasa halusnya Jaranan Buto. Jadi Turonggo Yakso tetap Jaranan Buto yang menggambarkan seorang satria yang mengendalikan hawa nafsunya," papar Agus.
Selain itu, gerakan-gerakannya banyak terinspirasi dari aktivitas agraris masyarakat Dongko. Sebagai daerah pertanian, setiap hentakan kaki dan ayunan tangan dalam tari Turonggo Yakso mencerminkan semangat para petani saat mengolah sawah dan kebun.
Di era modern, kelompok seni seperti Purwo Budoyo yang diikuti Agus berupaya menyeimbangkan antara tradisi dan kreasi. Meski inovasi diperlukan agar tetap relevan, penguasaan terhadap gerakan dasar atau pakem adalah harga mati bagi setiap seniman baru.
"Kita dituntut kemajuan, tetapi kita juga harus menguasai pakem terlebih dahulu. Jangan hanya digarap langsung digarap dulu, nanti kalau ditanya seperti apa," pungkasnya.
Hingga kini, Turonggo Yakso terus berdiri tegak sebagai kebanggaan Trenggalek, menjadi bukti bahwa sinergi antara filosofi hidup dan kreativitas mampu menciptakan warisan budaya yang abadi.