Tribunlampung.co.id, Pesawaran - Dinas Kesehatan Kabupaten Pesawaran memperkuat surveilans dan pemantauan harian kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di seluruh puskesmas, terutama wilayah yang berpotensi terpapar abu vulkanik.
Baca juga: PTBA Aktif Kolaborasi Bantu Penanganan Karhutla, Perkuat Respon Cepat
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Diskes Pesawaran Chris Michael Manurung mengatakan, pemantauan dilakukan untuk mendeteksi sejak dini apabila terjadi peningkatan kasus ISPA maupun gangguan pernapasan lainnya setelah paparan abu vulkanik.
“Kami akan terus melakukan surveilans dan pemantauan harian kasus ISPA di seluruh puskesmas, terutama di wilayah yang berpotensi terpapar abu vulkanik,” kata Chris kepada Tribun Lampung, Selasa (8/9/2026).
Berdasarkan laporan 15 puskesmas hingga 8 September 2026, Diskes Pesawaran mencatat 212 kasus ISPA. Dari jumlah tersebut, 32 kasus terjadi pada kelompok usia balita dan 180 kasus pada kelompok usia lima tahun ke atas.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pesawaran dr. Imelda Carolia menegaskan, angka tersebut merupakan kasus ISPA yang ditemukan dan dilaporkan oleh fasilitas pelayanan kesehatan. Data itu belum dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa seluruh kasus berkaitan dengan paparan abu vulkanik.
“Data tersebut merupakan data kasus ISPA yang ditemukan dan dilaporkan oleh fasilitas pelayanan kesehatan, bukan berarti seluruh kasus tersebut secara otomatis disebabkan oleh paparan abu vulkanik,” ujar Imelda.
Menurut Imelda, hubungan antara paparan abu vulkanik dan peningkatan kasus ISPA perlu dibuktikan melalui kajian epidemiologi dengan dukungan data paparan lingkungan yang memadai.
Ia menjelaskan, sejumlah faktor lain juga dapat memengaruhi perbedaan jumlah kasus antardaerah, antara lain kepadatan penduduk, jumlah kunjungan masyarakat ke fasilitas pelayanan kesehatan, serta kondisi kualitas udara.
Dari laporan puskesmas, kasus ISPA terbanyak tercatat di Puskesmas Gedong Tataan dengan 31 kasus. Berikutnya Puskesmas Kedondong sebanyak 29 kasus dan Puskesmas Bunut sebanyak 22 kasus.
Imelda mengingatkan, tingginya jumlah kasus di suatu puskesmas tidak serta-merta menunjukkan wilayah tersebut sebagai daerah yang paling terdampak abu vulkanik.
“Abu vulkanik memang dapat menjadi salah satu faktor yang memicu atau memperberat gangguan saluran pernapasan. Tetapi untuk memastikan peningkatan kasus ISPA secara spesifik akibat abu vulkanik, harus dilakukan kajian epidemiologi dengan membandingkan data kasus sebelum dan sesudah paparan serta data kualitas udara dan distribusi abu,” katanya.
Sementara itu, berdasarkan laporan yang diterima Diskes Pesawaran dari 15 puskesmas, hingga saat ini belum terdapat laporan kasus pneumonia pada kelompok usia balita maupun usia lima tahun ke atas.
Chris mengatakan, selain memantau perkembangan kasus, Diskes juga memperkuat komunikasi risiko kepada masyarakat, berkoordinasi dengan lintas sektor, serta memberikan perhatian khusus terhadap kelompok rentan.
“Apabila ditemukan peningkatan kasus ISPA yang signifikan atau muncul kasus pneumonia maupun gangguan pernapasan berat, kami akan segera melakukan respons lebih lanjut,” ujarnya.
Warga yang mengalami sesak napas, napas cepat atau sulit bernapas, nyeri dada, batuk yang semakin berat, demam tinggi, atau lemas berat diminta segera memeriksakan diri ke puskesmas maupun fasilitas kesehatan terdekat.
Chris mengimbau masyarakat tetap tenang, namun tetap waspada terhadap potensi gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik.
“Paparan abu vulkanik dapat mengganggu saluran pernapasan, sehingga pencegahan dan perlindungan diri sangat penting,” pungkasnya.
(Tribunlampung.co.id/Okyindrajaya)