TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Persoalan air bersih masih menjadi keluhan serius bagi masyarakat di kawasan Pontianak Utara, Kota Pontianak.
Selama berbulan-bulan, warga harus menghadapi kondisi air PDAM yang mengalir ke rumah mereka dengan rasa asin sehingga tidak dapat digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga.
Kondisi tersebut membuat sebagian warga terpaksa mencari sumber air bersih ke sejumlah tempat yang menyediakan pasokan air.
Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan minum dan keperluan sehari-hari lainnya, warga harus membeli air galon meski harganya kini mengalami kenaikan.
Bagi masyarakat yang terdampak, persoalan tersebut bukan sekadar ketidaknyamanan, tetapi sudah menyentuh kebutuhan dasar.
Air dibutuhkan setiap hari untuk mandi, mencuci pakaian, mencuci bahan makanan, memasak, hingga memenuhi kebutuhan konsumsi.
Salah seorang warga Gang Sabang, Jalan Gusti Situt Mahmud, Sri Natalia (42), mengatakan kondisi krisis air bersih telah berlangsung cukup lama. Ia menyebut warga di lingkungannya sudah berbulan-bulan kesulitan memperoleh air yang benar-benar layak digunakan.
“Di sini krisis. Tidak ada air bersih. Sudah berbulan-bulan kita tidak ada air bersih,” ujar Sri saat mengantre mendapatkan bantuan air bersih di halaman Polsek Pontianak Utara, Selasa, 8 September 2026.
• Retribusi Pelabuhan Pontianak Kini Bayar Pakai QRIS, Dishub Siapkan Portal Otomatis 2027
Menurut Sri, air yang berasal dari jaringan PDAM sebenarnya masih mengalir ke rumah warga. Namun, kualitas air tersebut menjadi persoalan karena terasa asin sehingga warga tidak dapat menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari.
Bahkan, air tersebut disebut tidak nyaman digunakan untuk mandi maupun membilas tubuh. Kondisi itu membuat warga harus mencari alternatif lain agar kebutuhan air di rumah tetap terpenuhi.
“PDAM pun asin, tidak bisa dipakai. Untuk mandi pun tidak bisa. Airnya asin,” katanya.
Harga Air Galon Naik
Kesulitan memperoleh air bersih juga berdampak terhadap pengeluaran rumah tangga warga. Sri mengatakan, masyarakat yang sebelumnya mengandalkan air galon kini harus mengeluarkan biaya lebih besar karena harga air mengalami kenaikan.
Ia menyebut harga air galon yang sebelumnya sekitar Rp7.000 kini meningkat menjadi Rp10.000. Kenaikan harga tersebut semakin terasa karena ketersediaan air bersih di sejumlah tempat juga tidak selalu mudah diperoleh.
“Dulu air galon Rp7 ribu, sekarang sudah naik Rp10 ribu. Itu pun sulit dicari. Kami harus ke mana-mana mencari,” ungkapnya.
Menurut Sri, persoalan utama yang dirasakan warga bukan hanya mengenai kemampuan membeli air. Sebab, meskipun masyarakat memiliki uang untuk membeli air bersih, belum tentu pasokan tersebut tersedia ketika dibutuhkan.
“Kalau ada Rp10 ribu pun tidak apa-apa, tapi ini tidak ada. Jadi sulit mendapatkan air bersih,” tuturnya.
Situasi tersebut membuat warga harus aktif mencari lokasi yang menyediakan air bersih. Ketika memperoleh informasi mengenai adanya distribusi air, warga pun berupaya mendatangi lokasi tersebut untuk mendapatkan pasokan.
Air Bantuan Dipakai untuk Berbagai Kebutuhan
Air bersih yang diperoleh warga melalui distribusi bantuan kemudian dimanfaatkan untuk berbagai keperluan rumah tangga. Mulai dari mencuci peralatan dan kebutuhan rumah, mencuci beras serta sayuran, memasak, hingga memenuhi kebutuhan air minum setelah melalui proses pemasakan.
Sri mengatakan dirinya telah beberapa kali mengantre untuk memperoleh air bersih. Hingga Selasa, 8 September 2026, ia mengaku sudah tiga kali mengikuti antrean untuk mendapatkan pasokan air.
Bagi Sri, keberadaan distribusi air bersih sangat membantu warga yang tidak dapat menggunakan air PDAM akibat rasanya yang asin.
Namun, bantuan tersebut juga membuat warga harus terus memantau lokasi-lokasi yang menyediakan air. Jika persediaan di rumah kembali habis, mereka akan mencari tempat lain untuk memperoleh air.
“Kalau habis, ya kejar lagi kalau ada antrean. Di mana ada air bersih, kami pergi. Pokoknya dikejar,” katanya.
Kondisi itu menggambarkan betapa pentingnya ketersediaan air bersih bagi warga Pontianak Utara. Ketika air dari jaringan PDAM tidak dapat digunakan secara optimal, masyarakat harus mengeluarkan tenaga, waktu, dan biaya tambahan untuk mendapatkan pasokan air yang layak.
• Kabut Asap Karhutla Ganggu Sekolah, Ini Tips psikolog Dampingi Anak Belajar di Rumah
Sri berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap kondisi yang dialami warga Pontianak Utara. Ia berharap distribusi air bersih tidak hanya dilakukan sesekali, tetapi dapat diberikan secara berkelanjutan selama persoalan kualitas air belum sepenuhnya teratasi.
“Harapannya mudah-mudahan ada bantuan air bersih untuk warga di sini,” harap Sri.
Ia mengatakan sebelumnya distribusi air bersih juga pernah dilakukan di sekitar kawasan Gang Sabang. Namun, warga tetap harus mendatangi lokasi tertentu untuk mendapatkan air tersebut.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat warga harus selalu mencari informasi mengenai lokasi distribusi air. Ketika mengetahui ada sumber air bersih di kawasan lain, mereka akan langsung mendatanginya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
“Di mana ada air bersih, kami pergi. Kalau ada di gang sebelah, kami cari ke sana. Pokoknya kalau ada air, kami kejar,” pungkasnya.
Krisis air bersih yang berlangsung selama berbulan-bulan tersebut membuat warga berharap adanya solusi yang lebih permanen. Selain bantuan distribusi air, masyarakat membutuhkan kepastian mengenai ketersediaan air yang layak digunakan agar kebutuhan dasar mereka tidak terus bergantung pada pasokan bantuan maupun pembelian air galon. (*)