TRIBUNWOW.COM - Viral kondisi pengungsi gempa Flores di Pulau Palue, Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), kini menghadapi persoalan serius berupa krisis air bersih.
Persediaan air minum di sejumlah bak penampungan milik warga dan posko pengungsian mulai menipis hingga mengering akibat cuaca panas yang melanda wilayah tersebut.
Kondisi itu disampaikan Camat Palue, Rudolfus Riba, pada Senin (7/9/2026).
Baca juga: Viral Air Laut Surut di Pesisir Lampung, BMKG Tegaskan Pasang Surut Selat Sunda Masih Normal
Dilansir Tribunflores.com, Rudolfus Riba menyebut persediaan air minum warga semakin terbatas karena bak penampungan air hujan mulai mengering.
"Sekarang panas, bak kering, persediaan air minum di bak menipis bahkan bak penampung air hujan kering semua," ujar Rudolfus.
Krisis tersebut semakin berat karena sejumlah fasilitas penampungan air warga turut mengalami kerusakan akibat gempa yang mengguncang Flores pada Sabtu (15/8/2026).
Kesulitan mendapatkan air bersih membuat warga Desa Tuanggeo harus mencari sumber air lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dilansir Kompas.com, Senin (7/9/2026), Kepala Dusun Tomu, Vinsensius Ngaji, melaporkan bahwa bak penampung air hujan di wilayah tersebut retak akibat guncangan gempa.
Baca juga: Heboh! Pengamat Kanada Ramal Gempa Besar Berpotensi Guncang Jakarta Sebelum Akhir 2026
Warga kemudian membeli air sumur dari kawasan Pantai Uwa dengan harga Rp10 ribu untuk satu jerigen berkapasitas 20 liter.
Kondisi tersebut telah berlangsung selama dua minggu.
Persoalannya, air sumur yang dibeli warga memiliki kadar garam tinggi sehingga tidak layak dikonsumsi dalam jangka panjang.
Warga terdampak, Theresia Nona Eci, pun meminta agar ketersediaan air bersih menjadi perhatian utama pemerintah.
"Kalau pasokan air bersih tidak ada, bagaimana kami bisa bertahan hidup? Kami terpaksa membeli air asin dari pantai, padahal harus keluar biaya tambahan," tutur Theresia.
Warga Palue, Nestor Langga, mengatakan selain air bersih, para pengungsi juga masih membutuhkan hunian sementara, selimut, dan alas tidur.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sikka per 5 September 2026, sebanyak 924 kepala keluarga atau 3.462 jiwa masih mengungsi akibat gempa.
Pulau Palue menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak, yakni 892 kepala keluarga atau 3.340 jiwa yang tersebar di sejumlah posko pengungsian.
Sementara itu, Kecamatan Nita mencatat 20 kepala keluarga atau 96 jiwa yang masih mengungsi dan Kecamatan Kangae sebanyak 12 kepala keluarga atau 53 jiwa.
Pulau Palue menjadi salah satu wilayah yang terdampak parah karena berada sekitar 20 kilometer dari pusat gempa.
Gempa tersebut menyebabkan rumah warga rusak, fasilitas umum terdampak dan jaringan internet mengalami gangguan.
Di tengah kondisi tersebut, persediaan air yang semakin berkurang membuat kebutuhan air bersih menjadi persoalan mendesak bagi warga yang masih bertahan di posko pengungsian.
Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Kabupaten Flores Timur, Bung Sila, mendesak pemerintah segera mengirimkan pasokan air bersih ke Palue.
"Cuaca panas ekstrem ditambah minimnya air bersih berisiko menimbulkan penyakit akibat dehidrasi. Pemerintah harus segera bertindak," tegas Bung Sila.
Desakan tersebut ditujukan kepada Gubernur NTT dan Pos Komando Tanggap Darurat Gempa Flores Provinsi NTT agar segera menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah terdampak.
(TribunWow.com/Peserta Magang dari Universitas Sebelas Maret/Ayesha Safwa Chacyrra)