BANJARMASINPOST.CO.ID, PARINGIN-Kemarau panjang yang memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Balangan berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat.
Angka kasus ISPA di Bumi Sanggam pun mengalami lonjakan yang signifikan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Balangan, Juhriadi, mengungkapkan bahwa sepanjang periode Januari hingga Agustus, total kumulatif kasus ISPA di Balangan telah menembus angka 12.866 kasus dengan tren yang fluktuatif.
"Kasus terendah tercatat pada bulan Mei sebanyak 1.176 kasus. Namun, lonjakan paling mencolok terjadi pada bulan Agustus yang mencapai 2.056 kasus," ujar Juhriadi, Selasa (8/9/2026).
Peningkatan dari bulan Juli ke Agustus tercatat melonjak hingga 21,2 persen.
Baca juga: Hujan Kembali Mengguyur Balangan, Merata Turun di Tiap Kecamatan
Kemudian lonjakan tajam pada bulan Agustus ini bertepatan langsung dengan maraknya peristiwa karhutla dan kepungan kabut asap yang diduga memperburuk kualitas udara di wilayah Balangan.
Lebih lanjut terang Juhriadi, berdasarkan analisis demografi, paparan kabut asap paling banyak mengincar kelompok anak-anak dan remaja usia sekolah.
Dari data analisis umur periode Juli–Agustus, kelompok usia 5–9 tahun mencatatkan persentase penderita sebesar 51,1 persen, sedangkan kelompok usia 10–18 tahun menjadi yang tertinggi dengan 54,8 persen.
Sementara itu, balita (0–5 tahun) mencatatkan angka 19,8 persen, usia produktif (19–59 tahun) sebanyak 9 persen, dan kelompok lansia di atas 60 tahun sebesar 12,9 persen.
"Anak-anak dan remaja pada rentang usia 5 hingga 18 tahun menjadi kelompok yang paling terdampak. Hal ini disebabkan tinggi aktivitas produktif mereka di luar rumah, seperti kegiatan sekolah dan aktivitas luar ruangan lainnya," jelas Juhriadi.
Adapun gejala umum yang dilaporkan pasien meliputi batuk hingga sesak napas ringan.
Juhriadi juga menerangkan bahwa penyebaran kasus ISPA tergolong merata di seluruh puskesmas di Kabupaten Balangan. Namun, tiga kecamatan mencatatkan laporan kasus tertinggi, yakni Lampihong, Batumandi, dan Paringin.
Kemudian sebagai upaya penanganan, Dinkes Balangan lanjutnya terus mengagendakan langkah pencegahan melalui promosi kesehatan serta imbauan edukatif.
Masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti bayi, lansia, dan ibu hamil, kata Juhriadi diminta untuk membatasi aktivitas luar ruangan, banyak mengonsumsi air putih, serta menjaga daya tahan tubuh.
Baca juga: ISPA Alami Peningkatan, Dinkes Tabalong Catat Juni dan Agustus Tahun 2026 Lebih dari 3 Ribu Kasus
Selain itu, penyaluran logistik kesehatan seperti masker mulai digencarkan setelah tersedianya stok cadangan di Dinkes Balangan.
Ia pun berharap upaya yang dilakukan baik itu pembagian masker serta edukasi promosi kesehatan yang digencarkan ke sekolah-sekolah dan kecamatan terdampak mampu secara efektif menekan risiko paparan ISPA, terutama bagi kelompok anak usia sekolah dan lansia.
(Banjarmasinpost.co.id/isti rohayanti)