TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU - Laju perekonomian Kabupaten Malinau pada pertengahan tahun 2026 mencatatkan perlambatan.
Melandainya pertumbuhan ekonomi ini dipicu oleh penurunan kinerja dua sektor utama, yakni sektor pertambangan yang terkontraksi serta deselerasi pada sektor konstruksi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Malinau, pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) secara tahunan (year-on-year) pada kuartal II-2026 berada di level 0,61 persen.
Angka ini bergerak lebih lambat dibandingkan capaian triwulan I-2026 yang menembus 2,82 persen, maupun triwulan II-2025 yang mencapai 3,75 persen.
Kepala BPS Kabupaten Malinau, Yanuar Dwi Cristyawan, menjelaskan secara keseluruhan kondisi ekonomi daerah masih berada di jalur positif, meski menunjukkan tren penurun laju pertumbuhan.
"Kalau kita melihat secara year-on-year, artinya triwulan dua 2026 dibandingkan triwulan dua 2025 itu mengalami peningkatan 0,61 persen. Hanya di triwulan satu kemarin menembus 2,82 persen," ujarnya, Selasa (8/9/2026).
Baca juga: Curhatan Nelayan Malinau: Tangkapan Menurun, Limbah Industri, hingga Racun jadi Momok
Yanuar menambahkan, jika dihitung sepanjang paruh pertama tahun ini (semester I-2026), pertumbuhan kumulatif Malinau masih terjaga di atas satu persen.
"Kalau kita melihat secara kumulatif atau semester satu 2026 dibanding semester satu 2025, perekonomian kita mengalami peningkatan 1,70 persen. Angka ini juga menunjukkan perlambatan, namun posisinya tetap berada di zona positif," katanya.
Penyebab utama dari melandainya perekonomian Malinau adalah melemahnya kinerja sektor pertambangan dan penggalian yang terkontraksi minus 2,25 persen (y-on-y).
Mengingat sektor ekstraktif ini memegang porsi dominan hingga 50,85 persen dalam struktur PDRB Malinau, penurunannya langsung memberikan dampak signifikan berupa andil negatif minus 1,14 persen terhadap total pertumbuhan daerah.
Di saat yang sama, sektor konstruksi yang sebelumnya menjadi salah satu penopang utama juga mengalami deselerasi tajam, dari 17,40 persen pada kuartal I-2026 turun menjadi 6,35 persen pada kuartal II-2026.
Tekanan ekonomi diperberat oleh sektor transportasi dan pergudangan yang berbalik terkontraksi minus 2,50 persen, serta sektor pertanian yang hanya tumbuh terbatas di angka 0,75 persen.
Perekonomian Malinau terhindar dari zona kontraksi (minus) berkat tingginya penyerapan anggaran pemerintah daerah.
Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah melesat naik hingga 17,36 persen secara tahunan dan melonjak 33,39 persen secara kuartalan.
Dukungan lain juga datang dari sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh 10,56 persen, serta sektor jasa keuangan yang meningkat 14,17 persen.
Secara nominal, PDRB Kabupaten Malinau atas dasar harga berlaku pada semester I-2026 tercatat sebesar Rp4,74 triliun.
Dalam cakupan Provinsi Kalimantan Utara, Malinau berkontribusi sebesar 11,07 persen terhadap PDRB provinsi, menempatkannya di peringkat keempat setelah Kota Tarakan, Kabupaten Nunukan, dan Kabupaten Bulungan.
(*)
Penulis: Mohammad Supri