TRIBUNMANADO.CO.ID - SANGIHE - Bupati Kepulauan Sangihe Michael Thungari turun langsung memantau kondisi kebakaran yang melanda kawasan Gunung Awu, Senin (8/9/2026).
Gunung dengan ketinggian 1320 mdpl ini berada di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.
Jarak Gunung Awu ke Tahuna, ibu kota Sangihe sejauh 17,5 kilometer dengan waktu tempuh 33 menit berkendara lewat Jalan Kara Manusa.
Sementara Pelabuhan Tahuna ke Gunung Awu berkisar 5 hingga 10 kilometer, tergantung pada titik awal atau pos pendakian yang dituju di kaki gunung.
Via perjalanan darat memakan waktu sekitar 30 menit hingga 1 jam dengan menggunakan kendaraan.
Bupati Michael Thungari bersama rombongan harus menempuh perjalanan sekitar delapan jam pulang-pergi untuk mencapai titik pemantauan yang berada di sekitar lereng Gunung Awu.
Perjalanan tidak mudah. Rombongan harus melewati medan yang cukup sulit hingga mencapai ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Dari titik tersebut, terlihat sedikitnya lima titik api yang masih menyala di kawasan lereng menuju puncak Gunung Awu.
Namun, kondisi medan yang terjal dan sulit membuat titik-titik api tersebut belum dapat dijangkau secara langsung oleh tim untuk dilakukan pemadaman.
Bupati Michael Thungari mengatakan, api masih berada di sekitar lereng menuju puncak Gunung Awu.
Keberadaan ilalang yang cukup banyak di kawasan tersebut juga menjadi salah satu faktor yang membuat api masih berpotensi terus bergerak.
Untuk mengetahui perkembangan kebakaran secara lebih akurat, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe akan melakukan pemantauan menggunakan drone mulai Selasa (9/9/2026).
“Mulai besok setiap jam 4 sore pemerintah daerah sudah bekerja sama dengan pilot drone Christian Natanael Tambunan. Jadi setiap sore hari kami Pemda akan meng-upload jangkauan titik api dan pergerakannya dan dilaporkan kepada masyarakat,” ujar Bupati ke-12 Sangihe ini.
Menurutnya, langkah tersebut dilakukan agar masyarakat dapat memperoleh informasi perkembangan kebakaran secara berkala dan tidak hanya mengandalkan informasi yang beredar di luar sumber resmi.
Mantan Wakil Ketua II DPRD Kabupaten Kepulauan Sangihe ini juga meminta masyarakat tetap tenang dan menjalankan aktivitas seperti biasa, sembari mengikuti perkembangan situasi melalui informasi resmi Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe.
“Untuk seluruh kecamatan, kampung dan kelurahan yang kami kalkulasi akan berdampak, sesegera mungkin kami akan hubungi dan persiapkan tim di titik yang akan kita petakan,” ucapnya.
Pemkab Sangihe, lanjut Bupati, tetap membuka ruang bagi relawan yang ingin membantu penanganan kebakaran. Namun, aktivitas pendakian Gunung Awu untuk sementara waktu ditutup hingga kondisi musim kemarau berakhir.
“Semoga Tuhan memberkati setiap upaya dan doa kita bersama. Sangihe kuat kalau kita kompak,” jelas pejabat lulusan magister Universitas Airlangga - Surabaya ini.
Menurut catatan sejarah gunung ini termasuk gunung api yang mempunyai masa istirahat yang panjang.
Letusan dahsyat Gunung Awu terjadi tahun 1711, 1812, 1856, 1822, 1892, dan 1966. Namun, setiap letusannya selalu tergolong besar.
Sementara erupsi yang terjadi pada Juni 2004 menghasilkan kolom erupsi setinggi 2 kilometer di atas puncak.
Karakteristik erupsinya dapat bersifat magmatik eksplosif, efusif maupun freatik. (edu)
Baca juga: Pendaki Diperiksa Polisi Terkait Kebakaran Gunung Awu di Kepulauan Sangihe