Nyeri Lutut Saat Naik Tangga Tak Selalu karena Usia, Kenali Penyebab dan Penanganannya
Willem Jonata September 08, 2026 10:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nyeri lutut saat naik tangga kerap dianggap sebagai bagian dari proses penuaan. Padahal, keluhan tersebut dapat disebabkan berbagai kondisi, mulai dari osteoartritis, cedera ligamen atau meniskus, peradangan, hingga gangguan otot di sekitar lutut.

Studi yang dipublikasikan pada 2025 terhadap 3.597 orang dewasa di 15 kota di Indonesia menemukan osteoartritis lutut pada sekitar 15 persen peserta.

Dokter spesialis ortopedi konsultan panggul dan lutut Prof. Nicolaas C. Budhiparama mengatakan, perubahan aktivitas akibat nyeri juga perlu diperhatikan.

“Yang perlu diperhatikan bukan hanya seberapa sakit lutut terasa, tetapi apakah keluhan tersebut sudah mulai mengubah cara seseorang bergerak. Kalau sebelumnya bisa naik tangga atau berjalan jauh lalu perlahan mulai menghindarinya, itu sudah menjadi informasi penting bagi dokter untuk mencari tahu penyebabnya,” ujar Prof. Nicolaas, yang juga menjabat President of Asia Pacific Orthopaedic Association (APOA) 2025-2026.

Baca juga: Nyeri Lutut Akibat Obesitas, Ini Pentingnya Quality Weight Loss untuk Jaga Otot

Pemeriksaan biasanya dilakukan dengan melihat pola nyeri, riwayat cedera, aktivitas yang memicu keluhan, serta dampaknya terhadap pergerakan. Pemeriksaan fisik dapat dilengkapi rontgen atau MRI bila diperlukan. Hasil pencitraan juga perlu dinilai bersama kondisi pasien karena tidak selalu mencerminkan tingkat nyeri yang dirasakan.

Menurut Prof Nicolaas, penanganan tidak selalu membutuhkan operasi. Pada banyak kasus, dokter dapat merekomendasikan penyesuaian aktivitas, latihan penguatan otot, fisioterapi, pengelolaan berat badan, atau obat sesuai kondisi pasien.

Operasi total knee replacement umumnya dipertimbangkan jika kerusakan sendi sudah berat dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Pertimbangannya antara lain nyeri yang menetap, kekakuan, lutut tidak stabil, perubahan bentuk kaki, atau keterbatasan gerak. Karena itu, keputusan operasi tidak hanya didasarkan pada usia atau hasil rontgen.

Pada operasi dengan bantuan robotik, dokter dapat melakukan perencanaan secara virtual, termasuk menentukan posisi implan dan menilai keseimbangan ligamen.

Namun, teknologi tetap menjadi alat bantu dan keputusan tindakan disesuaikan dengan anatomi serta kondisi masing-masing pasien.

“Teknologi saja tidak cukup. Semua informasi tersebut tetap harus diterjemahkan oleh dokter berdasarkan anatomi dan kondisi setiap pasien,” jelas Prof. Nicolaas.

Pemulihan juga menjadi bagian dari proses perawatan. Pasien umumnya mulai berlatih berdiri dan berjalan secara bertahap beberapa jam setelah operasi, kemudian menjalani fisioterapi untuk mengembalikan kekuatan, rentang gerak, dan fungsi lutut.

Hospital Director RS Medistra.Dr. Adhitya Wardhana, MARS menambahkan bahwa, teknologi perlu diikuti keputusan klinis yang tepat, komunikasi dengan pasien, serta rehabilitasi yang konsisten.

Masyarakat sebaiknya memeriksakan diri jika nyeri lutut berulang atau semakin sering muncul, disertai pembengkakan, rasa tidak stabil atau terkunci, maupun mulai mengganggu pekerjaan dan aktivitas sehari-hari. .

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.