Dampak Erupsi Anak Krakatau, Nelayan Banten Kehilangan Area Tangkap Ikan Favorit
Abdul Rosid September 08, 2026 11:17 PM

TRIBUNBANTEN.COM, PANDEGLANG - Erupsi Gunung Anak Krakatau yang terjadi dalam beberapa hari terakhir tidak hanya berdampak pada aktivitas penerbangan, tetapi juga memengaruhi mata pencaharian nelayan di pesisir Banten.

Sejumlah nelayan terpaksa mengurangi aktivitas melaut di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau akibat sebaran abu vulkanik yang masih terjadi. 

Kondisi tersebut membuat mereka kehilangan area tangkap ikan yang selama ini menjadi lokasi andalan untuk mencari nafkah.

Salah seorang nelayan, Enon, mengaku kini memilih mencari ikan di perairan sekitar Banten dan menghindari wilayah perairan dekat Gunung Anak Krakatau sejak erupsi terjadi pada 4 September 2026.

 

Menurutnya, abu vulkanik yang terbawa angin menimbulkan rasa perih pada mata sehingga mengganggu aktivitas saat berada di laut.

"Perih mata karena debunya," ujar Enon, Selasa (8/9/2026).

Selain faktor kesehatan, kekhawatiran terhadap kondisi perairan di sekitar gunung api aktif tersebut juga membuat para nelayan enggan mendekat ke lokasi yang biasanya menjadi kawasan penangkapan ikan.

Akibat perubahan lokasi melaut tersebut, pendapatan nelayan pun ikut terdampak. 

Enon mengaku hasil tangkapan yang diperoleh tidak sebanyak saat mencari ikan di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau.

“Pendapatan berkurang, takut juga,” ucapnya.

Sebelum erupsi terjadi, perairan sekitar Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu lokasi favorit para nelayan untuk menangkap ikan karena dikenal memiliki potensi hasil laut yang cukup melimpah.

“Biasanya sering di sekitar gunung nyari ikan. Sekarang di daerah sini-sini saja, Banten,” imbuhnya.

Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pada Selasa (8/9/2026) cenderung bergerak menjauhi wilayah Banten dan mengarah ke Samudera Hindia.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, menjelaskan arah pergerakan abu vulkanik tersebut diketahui berdasarkan hasil analisis citra satelit dan data meteorologi terkini.

Menurut dia, arah angin saat ini bergerak ke barat dengan kecepatan sekitar 15 knot sehingga membawa material abu vulkanik menjauh ke kawasan Laut Hindia.

“Arah angin sekarang bersama abunya sudah bergerak ke arah barat, sesuai dengan analisis citra satelit, dengan kecepatan angin 15 knot,” jelasnya.

“Jadi, kalau kita lihat Sigmet-nya atau significant meteorologis-nya bahwa saat ini abu vulkanik tersebut lebih cenderung mengarah ke Laut Hindia,” tambahnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.