Mengenal 4 Hari Raya Agama Buddha
Joko Widiyarso September 09, 2026 12:14 AM

TRIBUNJOGJA.COM- Perayaan hari besar dalam agama Buddha tidak hanya terbatas pada Waisak. 

Sepanjang tahun, umat Buddha di seluruh dunia memperingati empat hari raya utama yang masing-masing memiliki histori dan makna spiritual mendalam.

Mulai dari peristiwa berkumpulnya ribuan murid Buddha hingga tradisi berdana, berikut adalah empat hari besar keagamaan Buddha yang perlu kamu ketahui:

1. Magha Puja

Waktu: Bulan purnama di bulan Februari atau Maret.

Makna Peristiwa: Memperingati empat peristiwa bersejarah yang terjadi bersamaan pada 587 SM:

  1. Berkumpulnya 1.250 bhikkhu secara spontan tanpa diundang.
  2. Seluruh bhikkhu yang hadir telah mencapai tingkat kesucian Arahat dan memiliki Abhinna.
  3. Seluruh bhikkhu ditahbiskan langsung oleh Sang Buddha (Ehi Bhikkhu Upasampada).
  4. Sang Buddha membabarkan Ovada Patimokkha sebagai ajaran inti para Buddha.

2. Waisak (Trisuci Waisak)

Waktu: Bulan purnama di bulan Mei.

Makna Peristiwa: Memperingati tiga peristiwa penting (Trisuci) dalam kehidupan Siddharta Gautama:

  1. Kelahiran Pangeran Siddharta di Taman Lumbini.
  2. Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Sempurna dan menjadi Buddha Gotama.
  3. Parinibbana (wafatnya) Buddha Gotama.

3. Asadha Puja

Waktu: Bulan purnama ke-8 penanggalan lunar (sekitar bulan Juli).

Makna Peristiwa: Memperingati khotbah pertama Sang Buddha Gotama di Taman Rusa Isipatana, Benares, yang sekaligus menandai awal berdirinya Sangha (komunitas monastik) di dunia.

Pelaksanaan di Indonesia: Berpusat di Candi Mendut dan Candi Borobudur, diisi dengan pembacaan Tipitaka serta prosesi perayaan.

4. Kathina

Waktu: Antara bulan Oktober hingga November.

Makna Peristiwa: Momen bagi umat Buddha untuk berdana kepada para bhikkhu Sangga setelah mereka menyelesaikan masa Vassa (berdiam diri/bertapa selama 3 bulan di musim hujan).

Tradisi Utama (Civara Dana): Persembahan empat kebutuhan pokok untuk kehidupan para bhikkhu, yaitu jubah (Civara), makanan (Pindapatta), tempat tinggal (Senasana), dan obat-obatan (Gilana Bhesajja).

Setiap perayaan hari besar Buddhis pada dasarnya bukan sekadar ritual tahunan, melainkan pengingat bagi umat untuk meneladani ajaran Sang Buddha dan mempererat kebersamaan. Melalui pemahaman terhadap makna empat hari besar ini, masyarakat diharapkan dapat lebih menghargai keberagaman tradisi dan nilai keagamaan yang ada.

(MG Susila Wati Kuseladewi)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.