TRIBUNJOGJA.COM- Perayaan hari besar dalam agama Buddha tidak hanya terbatas pada Waisak.
Sepanjang tahun, umat Buddha di seluruh dunia memperingati empat hari raya utama yang masing-masing memiliki histori dan makna spiritual mendalam.
Mulai dari peristiwa berkumpulnya ribuan murid Buddha hingga tradisi berdana, berikut adalah empat hari besar keagamaan Buddha yang perlu kamu ketahui:
1. Magha Puja
Waktu: Bulan purnama di bulan Februari atau Maret.
Makna Peristiwa: Memperingati empat peristiwa bersejarah yang terjadi bersamaan pada 587 SM:
2. Waisak (Trisuci Waisak)
Waktu: Bulan purnama di bulan Mei.
Makna Peristiwa: Memperingati tiga peristiwa penting (Trisuci) dalam kehidupan Siddharta Gautama:
3. Asadha Puja
Waktu: Bulan purnama ke-8 penanggalan lunar (sekitar bulan Juli).
Makna Peristiwa: Memperingati khotbah pertama Sang Buddha Gotama di Taman Rusa Isipatana, Benares, yang sekaligus menandai awal berdirinya Sangha (komunitas monastik) di dunia.
Pelaksanaan di Indonesia: Berpusat di Candi Mendut dan Candi Borobudur, diisi dengan pembacaan Tipitaka serta prosesi perayaan.
4. Kathina
Waktu: Antara bulan Oktober hingga November.
Makna Peristiwa: Momen bagi umat Buddha untuk berdana kepada para bhikkhu Sangga setelah mereka menyelesaikan masa Vassa (berdiam diri/bertapa selama 3 bulan di musim hujan).
Tradisi Utama (Civara Dana): Persembahan empat kebutuhan pokok untuk kehidupan para bhikkhu, yaitu jubah (Civara), makanan (Pindapatta), tempat tinggal (Senasana), dan obat-obatan (Gilana Bhesajja).
Setiap perayaan hari besar Buddhis pada dasarnya bukan sekadar ritual tahunan, melainkan pengingat bagi umat untuk meneladani ajaran Sang Buddha dan mempererat kebersamaan. Melalui pemahaman terhadap makna empat hari besar ini, masyarakat diharapkan dapat lebih menghargai keberagaman tradisi dan nilai keagamaan yang ada.
(MG Susila Wati Kuseladewi)