Iran Ancam Bentuk Zona Eksklusi di Teluk Persia, Ini Dampaknya
Laksmi Anindita September 09, 2026 12:44 AM

TRIBUNWOW.COM - Ketegangan Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyampaikan rencana pemberlakuan zona eksklusi maritim di seluruh Teluk Persia pada Selasa (8/9/2026).

Langkah tersebut disuarakan Teheran sebagai bentuk balasan terhadap tekanan ekonomi dan blokade yang dilakukan Amerika Serikat. Jika diterapkan, kebijakan ini berpotensi mengganggu kelancaran pelayaran di salah satu jalur perdagangan energi paling strategis di dunia.

Melalui unggahan di akun media sosial pribadinya, Rezaei menegaskan Iran tidak akan tinggal diam menghadapi tekanan dan sanksi Washington.

Ancaman Zona Eksklusi di Teluk Persia

Dalam keterangannya, Rezaei menyebut zona terlarang tersebut akan membentang dari titik awal blokade Amerika Serikat hingga seluruh perairan Teluk Persia.

Setiap kapal komersial yang melintas tanpa izin dari Teheran disebut akan masuk dalam daftar sanksi. Otoritas Iran juga dikabarkan tengah menyiapkan peta koridor pelayaran baru di Selat Hormuz.

Rencana tersebut dapat semakin memperumit upaya untuk membuka kembali jalur pelayaran yang terganggu. Gangguan distribusi komoditas yang berlangsung sepanjang pekan ini juga disebut telah memberikan tekanan terhadap arus perdagangan.

Sebelum konflik pecah, jalur strategis tersebut menyuplai sekitar seperlima kebutuhan minyak dan gas alam cair dunia.

Dampak terhadap Politik Amerika Serikat

Gangguan pada jalur energi turut memberikan tekanan politik di Amerika Serikat. Lonjakan harga energi dunia disebut mulai membebani posisi Partai Republik dan Presiden Donald Trump menjelang pemilihan anggota Kongres pada November mendatang.

Merespons tekanan tersebut, Trump menyampaikan pernyataannya melalui platform Truth Social. Ia mengeklaim kemenangan atas Iran akan segera mendorong penurunan harga energi global.

Trump juga menyebut harga minyak dapat turun hingga sekitar tiga dolar AS per galon dan pada akhirnya berada di bawah dua dolar AS per galon. Ia sekaligus menegaskan Iran tidak akan memiliki senjata nuklir.

Target Operation Epic Fury Belum Tercapai

Dalam naskah tersebut, operasi militer Amerika Serikat yang disebut bersandi Operation Epic Fury dan dimulai sejak Februari lalu disebut masih menghadapi sejumlah target.

Washington disebut masih berupaya melumpuhkan program nuklir Iran, meredam ancaman Teheran terhadap negara-negara tetangga, serta mendorong perubahan terhadap rezim yang berkuasa di Iran.

Di sisi lain, Teheran tetap memilih mempertahankan sikap perlawanan meski menghadapi tekanan ekonomi. Iran menuntut pencabutan total sanksi ekonomi dan disebut berencana memungut biaya operasional dari kapal asing yang melintasi Selat Hormuz.

Ancaman pembatasan pelayaran tersebut menunjukkan bahwa ketegangan Iran dan Amerika Serikat tidak hanya berdampak pada hubungan kedua negara, tetapi juga berpotensi memengaruhi jalur perdagangan dan pasokan energi global. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.