Mengenal Kembali Sejarah dan Aktivitas Vulkanik Gunung Anak Krakatau yang Masih Erupsi
Muhamad Syarif Abdussalam September 09, 2026 11:45 AM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Muhamad Nandri Prilatama

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Gunung Anak Krakatau masih mengalami erupsi pada Selasa (8/9/2026) dan Rabu (9/9/2026). Informasi ini didapatkan dari Badan Geologi yang mencatat ada enam kali gempa erupsi dalam rentang waktu tadi.

Kepala Badan Geologi, Lana Saria menyampaikan ada satu kali gempa hembusan, 50 kali gempa low frequency, 77 kali gempa hybrid/fase banyak, gempa tremor menerus, dan satu gempa vulkanik dangkal, serta satu gempa vulkanik dalam.

"Energi aktivitas vulkanik yang dicerminkan dari nilai peraraan amplitudo RSAM (realtime seismic amplitude measurement) berfluktuatif dengan energi rendah. Dari data tiltmeter Stasiun Tanjung dan Lava93 memperlihatkan kecenderungan pola mendatar sebagai indikasi konstan, tak adanya peningkatan atau penurunan. Kami terus memantau dan mengevaluasi perkembangan dinamika vulkanisme Gunung Api Anak Krakatau," katanya, Rabu (9/9/2026).

Lana mengingatkan, ancaman bahaya erupsi berasal dari lontaran batu pijar disertai hujan abu lebat. Potensi ancaman bahaya lainnya berasal dari aliran lava jika erupsi menerus kembali terjadi. Saat ini, katanya, Gunung Api Anak Krakatau tetap pada Level III atau Siaga.

"Kami mengimbau masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau dan pengunjung, wisatawan, pendaki tidak diperbolehkan memasuki dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 3 km dari pusat aktivitas. Masyarakat juga kami minta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya awan panas, lava, dan lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat," katanya.

Gunung Krakatau, bagian dari rangkaian gunung berapi yang terbentuk akibat pertemuan lempeng tektonik Indo-Australia dan Eurasia. Gunung Krakatau sempat meletus pada 1883, dan pernah juga alami beberapa letusan kecil yang terdeteksi.

Krakatau juga bagian dari gugusan pulau-pulau vulkanik, meliputi Pulau Rakata, Pulau Panjang, dan Pulau Sertung.

Sebelum letusan pada 1883, Krakatau dianggap gunung berapi yang relatif aktif. Tapi, kurang diperhatikan oleh para peneliti. Letusan Krakatau dahsyat terjadi pada 26-27 Agustus 1883 dengan mengeluarkan awan gas panas, abu vulkanik, dan batuan dengan volume sangat besar.

Selain itu, letusan Krakatau saat itu menyebabkan gelombang tsunami mencapai ketinggian mencapai 40 meter hingga menghancurkan permukiman di sepanjang pantai di Sumatra dan Jawa.

Kemudian, muncul Anak Krakatau yang juga gunung api dengan letak di Selat Sunda, Indonesia. Anak Krakatau muncul hasil letusan besar yang terjadi pada Gunung Krakatau pada 1883. Anak Krakatau muncul sekitar 1927 dari dasar laut, tepatnya muncul ke permukaan pada 29 Desember 1927. Gunung ini terus tumbuh sekitar 5 meter per tahunnya, karena aktivitas vulkanik.

Anak Krakatau juga masuk ke salah satu 127 gunung api aktif di Indonesia dan termasuk jalur cincin api Pasifik. Secara berkala, Gunung Anak Krakatau alami letusan-letusan kecil yang umumnya tak menimbulkan ancaman serius bagi penduduk sekitar.

Tapi, pada 2018 mengubah pandangan itu dengan terjadinya tsunami, tepatnya pada 22 Desember 2018, Anak Krakatau alami erupsi yang mengakibatkan runtuhnya lereng gunung dan memicu longsoran bawah laut hingga akibatkan tsunami di sekitar pesisir Selat Sunda.

Tsunami itu menimpa Banten dan Lampung. Peristiwa tersebut lantas menegaskan potensi bahaya yang masih ditimbulkan oleh Gunung Berapi Anak Krakatau.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.