BANJARMASINPOST.CO.ID - Tergiur penggandaan uang dari dukun, korban tertipu Rp327 juta yang dibayar secara bertahap.
Ya, adanya kasus dugaan penipuan dengan modus penggandaan uang melalui ritual spiritual mencuat di Kota Ternate, Maluku Utara.
Adalah seorang warga dilaporkan mengalami kerugian hingga Rp 327 juta.
Ini terjadi setelah menyerahkan uang secara bertahap kepada terduga pelaku.
Peristiwa ini terjadi di Kelurahan Bastiong Talangame, Kecamatan Ternate Selatan.
Kasus tersebut kini ditangani secara intensif oleh Polsek Ternate Selatan.
Baca juga: Minta Istri Dipagari pada Dukun, Pria Ini Malah Kena Tipu Rp74,65 Juta, Berawal Ritual di Makam
Terduga pelaku diketahui bernama Rusdi Arifin alias Uci, sementara korban dalam perkara ini bernama Abi Muslimin alias Mus.
Menurut Kapolsek Ternate Selatan Iptu Irwan Ahdi, pihaknya telah menindaklanjuti laporan tersebut dengan memeriksa saksi-saksi serta menyita sejumlah barang bukti yang berkaitan dengan perkara.
"Kami telah melakukan penyitaan terhadap sejumlah barang yang diduga berkaitan dengan perkara tersebut, "katanya saat dikonfirmasi Tribunternate.com, Selasa (8/9/2026).
Berdasarkan hasil penyidikan sementara, peristiwa penipuan ini bermula sekitar Juni 2026.
Terduga pelaku meyakinkan korban bahwa ia memiliki kemampuan khusus untuk menggandakan uang melalui ritual spiritual.
Karena tergiur dan percaya dengan janji tersebut, korban menyerahkan uang tunai secara bertahap kepada terduga pelaku dengan dalih untuk biaya ritual dan keperluan lainnya.
Namun janji manis itu tidak pernah terwujud, dan uang korban justru dikuasai oleh terduga pelaku.
Akibat kejadian ini, korban menderita kerugian total mencapai Rp 327.000.000 (Rp 327 juta).
Dalam proses penyidikan, polisi turut mengamankan sejumlah benda yang diduga digunakan dalam ritual penipuan tersebut, di antaranya:
Atas perbuatannya, terduga pelaku disangkakan melanggar Pasal 492 dan/atau Pasal 486 UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP terkait dugaan tindak pidana penipuan dan/atau penggelapan.
Hingga kini, Polsek Ternate Selatan masih mendalami kasus tersebut untuk mengungkap seluruh rangkaian peristiwa dan aliran dana dari korban.
Aksi pembunuhan yang dilakukan dukun Slamet yang dikenal sebagai dukun pengganda uang asal Banjarnegara, Jawa Tengah, pada 12 pasiennya membuat gempar masyarakat dalam beberapa waktu terakhir.
Psikolog Sosial UGM, Prof. Koentjoro, angkat bicara soal fenomena dukun Slamet ini.
Menurut dia, di tengah era modern saat ini masih banyak orang yang mempercayai dukun dengan kemampuan luar biasa dapat mengubah hidup seseorang karena cara berpikir masyarakat Indonesia masih bersifat materialistis.
"Kalau dari perspektif korban, masyarakat kita itu konsep berpikirnya sangat materialistis," ucap dia mengutip laman UGM, Selasa (11/4/2023).
Ditambah lagi saat ini di tengah kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, orang bisa dengan mudah melihat unggahan di dunia maya maupun media sosial yang memamerkan kemewahan hidup atau flexing.
Hal tersebut menjadi salah satu faktor yang turut memicu orang memiliki keinginan untuk tampil seperti mereka yang memperlihatkan simbol-simbol kepemilikan material.
Untuk mewujudkannya orang akan berusaha dengan berbagai cara, termasuk dengan jalan pintas menemui dukun.
Prof. Keontjoro menjelaskan, masyarakat tanah air saat ini sudah mengalami perubahan.
Apabila dulu menjalin relasi di komunitas yang didorong pada motif berafiliasi, berkumpul, serta bersahabat, tetapi sekarang ini mulai berubah pada motif kekuasaan maupun simbol-simbol status sosial kian menggejala. Memamerkan simbol status sosial agar bisa diakui dan dihormati.
"Bagi orang berpengaruh, berbakat, maupun terdidik yang jadi korban itu karena serakah, ingin mendapatkan kekayaan lebih. Mereka ingin diakui dan dihormati lewat memamerkan simbol-simbol status sosial," papar dia.
Guru Besar Fakultas Psikologi UGM ini menyampaikan ada dua faktor yang menyebabkan masyarakat mudah percaya dukun.
Pertama, korban terkena hipnotis gendam atau magic.
Kedua, ada orang tertentu yang mampu memengaruhi, meyakinkan bahkan memikat para korban untuk memercayai iming-imingan yang disampaikan.
Keontjoro menambahkan dari sisi pelaku kriminalitas, pelaku melakukan penipuan berkedok dukun untuk mendapatkan jalan uang dengan jalan pintas.
"Biar tidak ditagih terus penggandaan uang yang dijanjikan, korban diajak melakukan ritual yang sebenarnya untuk menghabisi nyawa korban dan mereka percaya kalau itu bagian dari ritual," tutur dia.
Lantas bagaimana cara agar masyarakat tidak terjebak penipuan termasuk berkedok dukun?
Koentjoro mengatakan perlunya pendidikan keluarga yang mengajarkan ketentraman dan kesejahteraan hidup bukan dari simbol status sosial. Namun, memaknai kebahagiaan dengan selalu bersyukur kepada Tuhan.
"Sebenarnya agak susah mencegahnya, selama motif ingin diakui masih ada. Perlu belajar sufisme untuk melawan materialisme sehingga di sini pendidikan keluarga menjadi penting dalam mengajarkan kehidupan untuk senantiasa bersyukur pada Tuhan," jelas dia.
(Banjarmasinpost.co.id/TribunTernate.com)