TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Bantul melakukan inspeksi mendadak (sidak) terkait laporan kejadian dugaan keracunan menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Negeri 1 Sumberagung, Kapanewon Jetis, Kabupaten Bantul.
Ketua Komisi D DPRD Kabupaten Bantul, Pramu Diananto Indratriatmo, mengatakan awalnya hanya ada kejadian dugaan keracunan MBG di satu SD, yakni di SD Negeri 1 Sumberagung.
Namun, ternyata pihaknya menerima laporan kejadian dugaan keracunan MBG tersebut ada di beberapa sekolah.
"Ternyata ini (kejadian diduga keracunan MBG) melebar, ada di beberapa sekolah. Ada di SD Patalan, SD Sawahan, dan SD Kembangsongo. Di SD Kembangsongo ada empat yang berobat, SD Patalan Baru 4 orang, dan SD Sawahan dua orang," terangnya kepada awak media, saat melakukan sidak di SD Negeri 1 Sumberagung, Bantul, Rabu (9/9/2026).
Selain itu, tercatat ada 61 orang di SD Negeri 1 Sumberagung, satu orang di TK KB Mawar Harapan, satu orang KB Teratai Ceria.
Total, ada 73 siswa yang diduga mengalami keracunan usai menyantap menu MBG pada Jumat (4/9/2026) lalu.
Kejadian MBG itu kebanyakan menimpa siswa, kecuali di SD Negeri 1 Sumberagung ada tiga guru yang diduga keracunan MBG.
Seluruh korban diduga keracunan MBG itu mendapatkan suplai MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Patalan 2.
"Yang di sini (SD Negeri 1 Sumberagung) banyak korban karena kelas 5 dan 6 dapat MBG porsi besar. Kemungkinan, volume yang dimakan lebih banyak. Jadi yang terdampak itu kelas 5 dan 6 di Sumberagung," ucap Diananto.
Meski demikian, pihaknya mengaku tidak memiliki kewenangan dalam memberikan sanksi tegas kepada yayasan atau SPPG Patalan 2.
Pemberian sanksi berada di kewenangan Badan Gizi Nasional (BGN).
"Cuma, kami merekomendasikan ke BGN. Karena kejadian sudah dua kali, mohon nanti untuk menjadi perhatian khusus untuk SPPG yang melayani ini," tutur Diananto.
SPPG Patalan 2 diketahui sebelumnya telah terlibat kasus yang sama, yakni dugaan keracunan MBG.
Kejadian pertama berlangsung pada April 2026, kemudian kejadian serupa berulang kembali pada September 2026.
"Kami sangat prihatin atas kejadian ini dan memohon untuk SPPG yang ada di Bantul lebih melakukan usaha ini dengan hati ya. Jadi, layani lah anak-anak kami di Bantul ini dengan baik. Tidak hanya mencari untung, tetapi juga layani mereka," ucap Diananto.
Setiap SPPG diharapkan dapat mengolah menu MBG sesuai standar operasional prosedur hingga izin pendirian dan operasional SPPG harus dilengkapi sesuai aturan.
Dengan begitu, diharapkan tidak ada lagi kejadian serupa.
Momen sidak itupun dihadiri oleh Sekretaris Komisi D DPRD Bantul, Herry Fahamsyah dan anggota DPRD Bantul, Agustinus Sulistyodjati.
Baca juga: Cerita Guru SDN 1 Sumberagung Bantul yang Diduga Keracunan Menu MBG
Sementara itu, Kepala SD Negeri 1 Sumberagung, Parjiyatmi, menyampaikan jumlah korban diduga keracunan MBG di sekolahnya bertambah menjadi 61 orang.
Data itu diperoleh dari update epidemiologi Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul.
"Itu mereka mengisi epidemiologi dari Dinas Kesehatan, sehingga yang kemarin belum terdata, tapi sekarang baru terdata. Ada yang terdampak namun tidak list karena tidak terlalu berat (gejala diduga keracunan MBG tidak parah)," papar dia.
Sampai saat ini, proses pembelajaran sekolah masih dilakukan dengan waktu yang fleksibel.
Sebab, korban diduga keracunan yang kini sudah masuk sekolah ada yang belum begitu sehat, sehingga siswa diperkenankan pulang selepas Dzhuhur atau pukul 12.00 WIB.
"(Proses pembelajaran) belum full. Mungkin kita lihat kondisi, tetapi pembelajaran tetap berjalan. Hari ini yang berangkat sudah lumayan. Yang tidak berangkat tadi ada 11 siswa, termasuk yang opname," ucap Parjiyatmi.
Dari jumlah korban diduga keracunan MBG di SD Negeri 1 Sumberagung, dua orang sempat menjalani rawat inap atau opname di Puskesmas Jetis 1 dan RS Panembahan Senopati.
Namun, hari ini satu orang sudah diperbolehkan pulang, sehingga masih ada satu yang menjalani rawat inap.
Dikarenakan rasa trauma, pihaknya mengambil sikap untuk berhenti atau tidak menerima MBG dari SPPG Patalan 2.
Pihaknya pun sudah menandatangani berkas kesepakatan bersama tersebut bersama komite sekolah dan wali murid siswa.
"Kemarin karena ditawari dari pihak yang lebih aman, ada rekomendasi itu mungkin beda lagi. Tapi, itu pun kita koordinasi dengan komite dan wali murid. Jadi, kita tidak akan memutuskan tanpa mereka. Kita memang mendengar (putusan bersama komite dan wali murid)," kata Parjiyatmi.
Hal itu dilakukan demi keamanan para siswa.
Saat disinggung terkait adanya kasus keracunan MBG yang terjadi pada April 2026, Parjiyatmi tidak bisa memberikan banyak komentar.
Sebab, ia baru resmi menjadi Kepala SD Negeri 1 Sumberagung per Juni 2026.
"Jadi saya belum di sini. Jadi, mohon maaf, saya belum begitu paham waktu itu. Tapi dengar-dengar iya (pernah terjadi keracunan MBG pada April 2026). Waktu itu, kejadian keracunan MBG terjadi dengan SPPG yang berbeda," tuturnya.
Guru Kelas 4A SD Negeri 1 Sumberagung, Markus Andika, menyebut, saat ini sudah masuk sekolah untuk mengajar para siswa setelah beberapa hari terakhir mengalami diare dan mual diduga karena keracunan MBG.
"Ya sekarang saya sudah masuk ngajar. Sudah agak mendingan kondisinya. Kalau kemarin ya memang masih sakit dan bolak balik ke kamar mandi," ucap dia.
Ia pun mengonsumsi beberapa menu tersebut.
"Untuk galantinnya itu seperti dikasih saus tiram atau apa ya. Tapi, saya cuma makan kentang, galantin, sama buah itu. Dan selama ini kan, saya makan enggak apa-apa. Kalau buah itu kan enggak mungkin ya," katanya.
Dikatakannya, menu yang dikonsumsi tersebut tidak memiliki rasa berbeda. Bahkan, teksturnya cenderung normal seperti galantin pada umumnya.
Akan tetapi, sempat ada yang menyampaikan untuk menu galantin memiliki aroma berbeda.
Beberapa waktu kemudian, Markus merasakan perutnya keram kencang.
Awalnya, ia mengira sedang masuk angin dikarenakan setiap tidur menggunakan kipas angin.
Ia pun sempat mengonsumsi bakso dikarenakan pada siang hari sempat mendapat Jumat berkah.
"Ceritanya, untuk meredakan rasa keram di perut itu saya konsumsi bakso. Terus saya keluar karena ada kerjaan dan mengurus beberapa dokumen sekolah. Tapi, sekitar jam 21.00-22.00 WIB, perut saya mulai sakit lagi dan keram perut kencang sekali," tutur Markus.
Kemudian, dia bolak-balik ke kamar mandi untuk buang air besar (BAB). Selain itu, Markus sempat merasa menggigil dan gemetar.
Tidak hanya itu saja, saat kembali ke rumah, Markus kembali BAB dan merasa perut keram hingga kepala pusing.
Markus pun menyempatkan diri untuk periksa ke klinik kesehatan. Tenyata, rasa sakit tersebut masih berlanjut sampai Minggu (6/9/2026).
Markus kemudian berpesan kepada guru lain kalau sedang sakit diare.
"Saya juga pesan kalau Senin masih sakit, saya mau titip kelas. Tapi, saya ingat ada teman guru juga yang konsumsi MBG. Terus saya WhatsApp. Ternyata dia juga sakit diare, pusing, dan mual. Jadi, saya tanya ke teman-teman lain dan crosscheck ke siswa, mual," jelasnya.
Dari situ, sekolah mendapatkan data sekitar 53 orang yang sakit setelah mengonsumsi MBG.
Markus, bahkan harus kembali memeriksakan diri ke rumah sakit guna mendapat perawatan medis lanjutan.(*)