TRIBUNKALTIM.CO, SANGATTA - Ribuan jemaah dari berbagai elemen masyarakat tampak memadati Lapangan Kantor Bupati Kutai Timur (Kutim) di Kawasan Pusat Pemerintahan Bukit Pelangi, Sangatta Utara, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, pada Rabu (9/9/2026) pagi.
Kehadiran para Aparatur Sipil Negara (ASN), unsur TNI-Polri, pegawai instansi vertikal, tokoh agama, hingga pelajar sekolah tersebut menyatukan langkah dalam pelaksanaan Salat Istisqa berjemaah.
Agenda ibadah bersama ini digelar sebagai ikhtiar spiritual untuk memohon pertolongan Tuhan Yang Maha Kuasa agar menyiramkan air hujan di tengah bayang-bayang ancaman cuaca panas ekstrem.
Langkah cepat Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim dalam menggelar Salat Istisqa ini diambil bukan tanpa alasan mendasar.
Baca juga: Krisis Air Bersih dan Karhutla Mengancam, MUI Kaltim Minta Warga Gelar Salat Istisqa
Salat Istisqa sendiri merupakan salat sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) yang dikerjakan di tempat terbuka pada waktu dhuha saat terjadi kemarau panjang.
Salat istisqa adalah shalat sunnah dua rakaat.
Sebelum melakukan Salat Istisqa dianjurkan bertaubat, memperbanyak istighfar, bersedekah, dan meninggalkan perbuatan maksiat.
Lafaz niat Salat Istisqa: "Ushallii sunnatal istisqaa'i rak'ataini imaaman/makmuuman lillaahi ta'aala."
Baca juga: Warga Bersujud Minta Hujan, Gelar Salat Istisqa di Tengah Kemarau Panjang dan Karhutla Ancam Kaltim
"Kalau kita melihat siklusnya, berarti antara 14 sampai 15 tahun. Tahun 2007, kemarau panjang kita tidak melakukan istisqa sehingga kemaraunya tambah panjang. Tahun 2015 pemerintah juga tidak menginisiasi secara berjemaah, sehingga kemaraunya semakin panjang," ujar Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi.
Pelaksanaan ibadah pemohon hujan ini sekaligus menjadi momen refleksi dan evaluasi diri bagi seluruh jajaran pemerintah serta warga Kutai Timur secara menyeluruh.
Manusia menyadari bahwa betapa pun canggihnya ilmu pengetahuan, teknologi, maupun infrastruktur yang telah dibangun seperti bendungan dan jaringan air, manusia tetaplah makhluk yang terbatas.
"Kita beristighfar kepada Allah atas dosa-dosa pribadi kita, atas kekhilafan kita sebagai masyarakat, dan bagi kami pemerintah agar diberikan amanah dalam pemerintahan," imbuh pria kelahiran Balikpapan, 27 November 1972 tersebut.
Baca juga: Forkopimda dan Masyarakat Paser Lakukan Salat Istisqa untuk Memohon Turunnya Hujan
Secara teknis meteorologi, ancaman musim kering di kawasan Kutim saat ini memang memerlukan kewaspadaan dan perataan kesadaran bersama dari semua pihak.
Meski beberapa wilayah sempat diguyur gerimis dalam beberapa hari terakhir, intensitas hujan tipis tersebut dinilai belum menjadi pertanda masuknya musim penghujan.
"Hujan tipis tersebut diduga hanya sisa akhir musim sebelumnya, sementara ancaman kemarau panjang masih berpotensi terjadi di depan mata," terang Mahyunadi yang merupakan Politisi Perindo.
Ancaman ini makin menguat berdasarkan catatan sejarah, di mana wilayah Kutim pernah dilanda kemarau ekstrem pada tahun 1997 serta periode 2014-2015, dan kini siklus berulang potensi terjadi di tahun 2026. (*)