Terungkap Kondisi Speedboat yang Angkut 5 Jurnalis Hilang Saat Liput Erupsi GAK
Noval Andriansyah September 09, 2026 03:19 PM

Tribunlampung.co.id, Banten - Pemilik speedboat Arupadhatu 1, Sandi Wiyasa, mengungkapkan bahwa kapal yang mengangkut lima jurnalis dan tiga kru menuju perairan Gunung Anak Krakatau dalam kondisi layak jalan saat berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang, pada Senin (7/9/2026).

Baca juga: Polda Lampung Turunkan Kapal Patroli Cari 5 Jurnalis dan 3 Kru Kapal Hilang Kontak di Selat Sunda

Kapal bermesin ganda (double engine) sepanjang tujuh meter tersebut dipastikan rutin menjalani pemeriksaan izin kelaikan tahunan dari pihak Syahbandar serta dibekali jaket pelampung bagi seluruh penumpang. 

Namun, kapal penyeberangan tersebut diketahui tidak dilengkapi dengan perangkat radio komunikasi dan hanya mengandalkan jaringan telepon seluler selama pelayaran.

Rombongan kapal yang berlayar sejak pukul 14.00 WIB tersebut tak kunjung kembali ke daratan hingga dilaporkan hilang kontak ke Basarnas pada Selasa (8/9/2026).

Memasuki hari kedua operasi pencarian pada Rabu (9/9/2026), Tim SAR Gabungan menyisir perairan Selat Sunda menggunakan RIB 02 Banten dan KN SAR Tetuka tanpa menemukan tanda-tanda keberadaan delapan korban.

Sandi Wiyasa, yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Sukajadi, Carita, mengonfirmasi kelaikan teknis armada miliknya saat berada di Posko SAR Terpadu Marina Carita.

"Kapal masih sangat layak jalan dan rutin diperiksa perizinannya oleh Syahbandar setiap tahun. Armada ini menggunakan double engine dan rutin melayani rute pelayaran ke Gunung Anak Krakatau maupun Ujung Kulon," kata Sandi Wiyasa, Rabu (9/9/2026), dilansir kompas.com.

Sandi menjelaskan, penggunaan mesin ganda disiapkan untuk mengantisipasi potensi kendala teknis di tengah laut. Jika salah satu mesin mengalami gangguan, mesin lainnya masih dapat diandalkan untuk mendorong kapal sampai ke daratan.

Kendati demikian, ia membenarkan bahwa kapal tersebut tidak memiliki perangkat radio navigasi dan komunikasi penyeberangan.

"Tidak ada radio komunikasi di kapal, pelayaran selama ini hanya mengandalkan sambungan telepon seluler (handphone)," ungkapnya.

Sandi mengaku baru mengetahui kabar hilang kontak tersebut setelah dihubungi oleh pihak Kapolsek Carita pada Selasa (8/9/2026) siang.

Ia segera berkoordinasi dengan kepolisian dan Basarnas di Marina Carita untuk melakukan upaya pencarian awal.

Secara mandiri, pihaknya sempat menghubungi warga, penjaga perairan di sekitar Gunung Anak Krakatau, hingga nelayan di Pulau Sebesi dan wilayah Lampung, namun belum membuahkan hasil.

Menurut perhitungannya, rombongan jurnalis yang fokus melakukan pengambilan gambar seharusnya sudah kembali ke daratan Carita pada Senin sore sekitar pukul 17.00 WIB atau 18.00 WIB.

Hingga Rabu (9/9/2026), Tim SAR Gabungan masih terus mengintensifkan pencarian terhadap delapan orang yang berada di atas speedboat Arupadhatu 1.

Adapun daftar delapan penumpang dan kru yang dilaporkan hilang kontak meliputi:

  • 5 Jurnalis: M. Bagus Khoirunnas (Antara), Ari Basuki (Merdeka), Yudhis (iNews), Daus (Anadolu), dan Donal (Jurnalis Freelance).
  • 3 Kru Kapal: Warta (55) sebagai Nakhoda/Kapten, Surakman (60) sebagai ABK, serta Heriyanto (49) sebagai Pemandu (Guide).
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.