TRIBUNJOGJA.COM - Guna mengatasi paradoks Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai pusat pendidikan nasional yang masih dibayangi persoalan kemiskinan dan ketimpangan wilayah, sebanyak 104 perguruan tinggi negeri dan swasta (PTN-PTS) se-DIY resmi membentuk konsorsium riset terpadu.
Konsorsium yang melibatkan 1.100 doktor dan profesor ini diterjunkan langsung ke 22 klaster pembangunan di lima kabupaten dan kota se-DIY, sebagaimana dipaparkan dalam ajang Sarasehan Sains dan Teknologi Yogyakarta di Yogyakarta, Rabu (9/9/2026).
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamen Diktisaintek) Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., mengkritik keras fenomena "menara gading" yang kerap memisahkan perguruan tinggi dari realitas kehidupan masyarakat sekitarnya. Menurut Fauzan, Yogyakarta memiliki modal akademik yang amat besar berupa puluhan ribu guru besar, ratusan ribu doktor, dan ribuan riset saban tahun, tetapi di sisi lain masih harus bergulat dengan angka kemiskinan dan ketimpangan yang relatif tinggi di Pulau Jawa.
"Daerah dengan ilmu paling banyak belum tentu daerah dengan dampak yang paling bisa dirasakan. Sudah lama dunia perguruan tinggi disebut sebagai menara gading. Menara berarti menjulang tinggi, menjulang berarti jauh dari tanah, dan dari ketinggian kita terbiasa memandang ke bawah, sampai kadang lupa bahwa di kaki menara itulah kehidupan yang sesungguhnya telah berjalan," tegas Fauzan.
Fauzan menekankan pentingnya pergeseran paradigma tata kelola perguruan tinggi melalui jargon "Dikti Ristek Berdampak", di mana keberhasilan riset tidak lagi hanya diukur dari angka akreditasi formal, indeks sitasi, atau publikasi jurnal semata.
"Kita berbangga dengan akreditasi, kita bangga pula dengan sitasi, kita bangga dengan peringkat internasional. Semua itu capaian yang patut dihargai dan terus diperjuangkan. Tetapi kita juga harus melihat sisi lain sebagai entitas masyarakat. Ketika seorang ibu di Gunungkidul membesarkan anak yang tumbuh kerdil karena gizi yang tidak cukup, apakah indeks sitasi kita ikut mengangkat tubuh anak itu? Ketika seorang petani di Kulon Progo kehilangan panen karena hama yang sebetulnya sudah lama diteliti di laboratorium kita, apakah jurnal kita sampai ke ladangnya? Pertanyaan ini adalah panggilan, sebab kemuliaan sebuah perguruan tinggi diukur dari seberapa dalam ia menyentuh akar persoalan masyarakat di sekitarnya," tutur Fauzan.
Menanggapi tantangan tersebut, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa ilmu pengetahuan harus selalu memiliki kepekaan sosial dan tanggung jawab moral untuk memuliakan kehidupan masyarakat. Sultan menyebutkan bahwa sains dan kebudayaan di Yogyakarta harus saling menerangi agar riset tidak tercerabut dari akar masalah warga lokal.
"Ilmu pengetahuan yang bertanggung jawab, pada akhirnya selalu membawa kita kepada satu pertanyaan sederhana: siapa yang hidupnya menjadi lebih baik karena pengetahuan itu hadir? Pertanyaan itu perlu kita simpan baik-baik. Sebab di balik setiap riset, selalu ada manusia yang menunggu manfaatnya. Di balik setiap inovasi, ada warga yang berharap hidupnya menjadi lebih sejahtera. Di balik setiap ruang kuliah, laboratorium, data, dan percobaan, ada masa depan anak-anak kita yang sedang dipersiapkan," ujar Sri Sultan.
Sultan juga menggarisbawahi pentingnya mengintegrasikan nilai filosofis kebudayaan Jawa seperti Hamemayu Hayuning Bawana serta laku Nitik-Napak-Nanting ke dalam disiplin riset ilmiah agar inovasi yang dihasilkan dapat menjawab kebutuhan praktis warga.
"Kadang, inovasi yang paling berarti bukan yang paling rumit, tetapi yang membuat hidup seseorang menjadi lebih pasti, lebih mudah, dan lebih bermartabat. Ajaran Hamemayu Hayuning Bawana mengingatkan kita bahwa setiap ikhtiar manusia, termasuk ikhtiar keilmuan, harus diarahkan untuk merawat dan memuliakan kehidupan. Prinsip yang sama juga hidup dalam laku Nitik-Napak-Nanting: mengamati dengan saksama, menjejak dengan sungguh-sungguh, lalu menimbang dengan hati-hati sebelum mengambil keputusan. Laku ini dekat dengan disiplin ilmiah," kata Sultan.
Guna memastikan riset kampus berjalan efektif dan terstruktur, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah V Yogyakarta memfasilitasi integrasi antara 5 PTN dan 99 PTS se-DIY dengan lima pemerintah daerah setempat.
Kepala LLDIKTI Wilayah V, Prof. Setyabudi Indartono, M.M., Ph.D., memaparkan bahwa sebanyak 1.100 pakar telah disebar ke 22 klaster prioritas yang berada di lima lokus kabupaten dan kota. Persebaran ini diawali di lokus Kabupaten Bantul yang menerima 220 pakar untuk enam klaster, meliputi Klaster Budaya dan Pariwisata yang dikoordinasikan oleh Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) bersama Universitas Ahmad Dahlan (UAD); Klaster UMKM dan Kewirausahaan oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta bersama UAD, UAJY, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas AMIKOM Yogyakarta, dan Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY); serta Klaster Pembinaan Remaja oleh Universitas Sanata Dharma (USD).
Selain itu, terdapat pula Klaster Ketahanan Iklim yang dikoordinasikan oleh UGM bersama Universitas Islam Indonesia (UII), UAD, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), AMIKOM, dan UIN Sunan Kalijaga; Klaster Lingkungan oleh UAD bersama UII; serta Klaster Penyakit Tidak Menular oleh Universitas Respati Indonesia (UNRIYO) bersama Universitas Alma Ata.
Selanjutnya, di lokus Kabupaten Gunungkidul terdapat 200 pakar yang disebar ke dalam tiga klaster utama. Klaster tersebut terdiri dari Klaster Kemiskinan dan Layanan Dasar yang dikoordinasikan oleh STIE YKPN bersama UAD, UII, UPN "Veteran" Yogyakarta, dan USD; Klaster Pariwisata dan Budaya oleh Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) bersama ISI Yogyakarta dan UAD; serta Klaster UMKM dan Kemiskinan oleh UMY bersama UAD dan AMIKOM.
Sementara itu, untuk lokus Kabupaten Kulon Progo, sebanyak 220 pakar dialokasikan pada empat klaster, yakni Klaster Aerotropolis dan Inovasi yang dikoordinasikan oleh UGM bersama UII, USD, AMIKOM, dan UMY; Klaster Penyakit Tidak Menular oleh Universitas Alma Ata bersama UII dan USD; Klaster SDM dan Pendidikan oleh UNY; serta Klaster UMKM dan Ekonomi Kreatif oleh UAD bersama UAJY, UII, dan UMY.
Distribusi pakar juga dilakukan di lokus Kabupaten Sleman dengan total 220 pakar untuk lima klaster. Kelima klaster tersebut mencakup Klaster Ketahanan Pangan yang dikoordinasikan oleh UMY bersama UAD, UII, dan AMIKOM; Klaster Lingkungan dan Tata Ruang oleh UGM bersama UII, AMIKOM, dan UMY; Klaster Pariwisata dan Budaya oleh ISI Yogyakarta bersama UII; Klaster Persampahan oleh UAD bersama UAJY, UII, UMY, USD, dan AMIKOM; serta Klaster Sumber Daya Manusia oleh USD.
Terakhir, di lokus Kota Yogyakarta, sebanyak 220 pakar diterjunkan ke dalam empat klaster yang meliputi Klaster Kesehatan Jiwa (dikoordinasikan oleh USD bersama UAD, UII, dan AMIKOM), Klaster Pendidikan dan Pariwisata (dikoordinasikan oleh USD), Klaster Persampahan (dikoordinasikan oleh UMY bersama UAD, UAJY, dan UII), serta Klaster Ruang Publik dan Penataan Tepian Sungai yang dikoordinasikan oleh UPN "Veteran" Yogyakarta.
Selain membentuk konsorsium, LLDIKTI Wilayah V juga terus memacu peningkatan mutu akademik internal perguruan tinggi swasta di DIY melalui program leapfrogging yang telah dimulai sejak 2024.
Setyabudi Indartono menyampaikan bahwa pada tahun 2026 ini, jumlah PTS terakreditasi unggul di DIY telah bertambah menjadi 10 perguruan tinggi dari sebelumnya 7 perguruan tinggi pada tahun 2024.
Capaian program studi (prodi) berstatus unggul juga mengalami kenaikan signifikan, dari 188 prodi pada tahun 2024 menjadi 250 prodi pada tahun 2026, guna mengejar target 51,15 persen prodi unggul pada tahun 2028.
Dari sisi kualifikasi dosen, jumlah guru besar di PTS se-DIY meningkat pesat dari 168 orang pada 2024 menjadi 267 guru besar pada 2026. Sepanjang tahun 2025, LLDIKTI Wilayah V juga telah menerbitkan surat keputusan jabatan akademik bagi 914 dari 3.200 dosen (meningkatkan jumlah asisten ahli sebesar 100,6 persen dan lektor sebesar 12,8 persen). Hasil "belanja masalah" yang dilakukan 1.000 doktor dan guru besar di Kulon Progo, Sleman, dan Kota Yogyakarta pada tahun 2025 lalu kini telah menghasilkan proposal riset dan pengabdian yang berkompetisi pada skema pendanaan Kementerian Diktisaintek Tahun Anggaran 2026.
Untuk memastikan keberlanjutan kerja konsorsium dan mencegah ego sektoral antar-kampus, Wamen Diktisaintek Fauzan meminta seluruh pimpinan perguruan tinggi agar memegang teguh empat prinsip filosofis Keraton Yogyakarta dalam mengabdi kepada masyarakat.
"Saya meminjam empat kata yang diwariskan oleh keraton yang saya kira layak menjadi watak setiap konsorsium, yaitu kata: Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh. Sawiji: satu tekad, tidak terpecah oleh ego institusi. PTN dan PTS, kampus besar dan kampus kecil, menyatu dalam satu tujuan. Greget: semangat yang menyala, bukan sekadar menjalankan program karena diminta LLDIKTI atau kementerian. Sengguh: percaya diri bahwa kampus mampu memberi jawaban, bukan hanya mendiagnosis persoalan akan tetapi memberikan solusi yang berarti. Dan yang keempat adalah Ora Mingkuh: tidak mengelak dari tanggung jawab, tidak pulang ketika keadaan menjadi sulit," tegas Fauzan.
Fauzan juga memberikan panduan operasional bagi konsorsium dalam berinteraksi dengan pemerintah daerah: pertama, selalu memulai kerja sama dari persoalan nyata yang dihadapi daerah, bukan menawarkan program instan dari kampus; kedua, menjadikan perguruan tinggi lokal di daerah tersebut sebagai tuan rumah utama untuk menjaga keberlanjutan; dan ketiga, membangun kemitraan yang menuntun masyarakat secara konsisten dan berkelanjutan.