Kasus ISPA di Kepahiang Diperkirakan Naik 50 Persen, Dinkes Imbau Warga Pakai Masker
Hendrik Budiman September 09, 2026 05:54 PM

 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, M. Bima Kurniawan  

TRIBUNBENGKULU.COM, KEPAHIANG - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kepahiang mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap gangguan kesehatan di tengah kondisi kabut asap dan dampak abu vulkanik.

Kepala Dinkes Kepahiang Tajri Fauzan mengatakan, meskipun wilayah Kabupaten Kepahiang tidak terdampak langsung abu vulkanik, kualitas udara yang tercemar dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Berdasarkan pemantauan terhadap keluhan pasien di sejumlah klinik dan puskesmas, Dinkes Kepahiang melihat adanya indikasi peningkatan kasus yang mengarah pada ISPA.

"Jadi situasi dan keadaan sekarang kabut asap serta dampak abu vulkanik. Walaupun kita tidak terkena, tapi dampaknya di cepatnya penularan ISPA," ucap Tajri, Rabu (9/9/2026).

Dinkes Perkirakan ISPA Naik 50 Persen

Peningkatan tersebut belum tercatat secara resmi sebagai data kasus ISPA di Kabupaten Kepahiang.

Namun, berdasarkan prakiraan dari keluhan pasien yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatan, Dinkes memperkirakan terjadi peningkatan kasus ISPA sekitar 50 persen.

Baca juga: Neni Klarifikasi Pegang Tangan Aan, Terdakwa Tilap Uang Kopi Mertua: Bukan Genggaman Mesra

"Penyakit ini tidak tercatat secara resmi, tapi prakiraan kami ada peningkatan penyakit ISPA sekitar 50 persen dilihat dari pasien klinik dan puskesmas yang mayoritas dengan keluhan batuk, flu dan panas tinggi," jelas Tajri.

Ia mengatakan, keluhan seperti batuk, flu hingga demam cukup banyak ditemukan pada pasien yang datang ke klinik maupun puskesmas.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Dinkes, terlebih kualitas udara yang tercemar dapat berdampak lebih serius terhadap masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.

Penderita ISPA, Asma dan PPOK Diminta Waspada

Kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih antara lain penderita ISPA, asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), terutama mereka yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid.

"Sehingga yang ditakutkan penderita ISPA, asma, PPOK itu akan meningkat dan mereka yang komorbid akan berbahaya," terang Tajri.

Untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan, Dinkes Kepahiang mengimbau masyarakat membatasi paparan langsung terhadap udara berasap maupun berdebu.

Masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar rumah disarankan menggunakan masker sebagai langkah perlindungan diri.

"Jadi disarankan untuk masyarakat jika keluar rumah menggunakan masker," pungkas Tajri.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.